Novel Durma Bagian 10

Pagi ini berbeda dengan kemarin. Wisnu tidak lagi menunggu Hayu di teras indekos. Dia memilih duduk di ruang tamu, membuka gorden, lalu mengamati lalu lalang mahasiswa baru.
Gadis yang ditunggu pun lewat. Menunduk, hanya menunduk dan mempercepat langkah saat melintas di depan indekos Wisnu.
Hayu, Hayu. Ternyata maaf itu belum ada, keluh Wisnu dalam hati. Dia segera membarut wajahnya, menghela napas.
"Yu! Ngapain sih jalannya kayak dikejar setan gitu?" Dina terlihat kesal. "Keringatan jadinya. Gerah, Yu!"
"Nggak lihat di belakangmu?" Hayu tetap berjalan cepat tanpa peduli keluhan Dina.
"Maksudmu?" Dina balik bertanya sembari mempercepat langkah, agar bisa beriringan dengan Hayu.
"Ini setannya!" Dina memasang muka menakutkan.
"Nggak usah melotot gitu, ah! Setan nggak ada yang cantik!" ejek Hayu.
"Mas Wisnu nggak kayak biasanya ya." Tiba-tiba arah pembicaraan Dina berbelok.
"Maksudnya?" tanya Hayu. "Kan tadi nggak ada!"
"Nah! Biasanya dia selalu nungguin kita berangkat," ujar Dina.
"Belum bangun kali." Hayu mencoba mencari alasan yang bisa diterima sahabatnya itu.
"Bisa jadi!" Dina mencoba menerka apa yang terjadi pada Wisnu, "mungkin semalam dia kepikiran tentang sikapmu, Yu. Sehingga susah tidur dan bangun kesiangan."
Hayu mengangguk-angguk, tanda setuju. Gadis itu sedang tidak ingin berpikir tentang Wisnu.
"Mana surat balasannya, Yu?" tagih Dina.
"Nggak bikin!" jawab Hayu penuh keyakinan.
"Terus? Aku mesti jawab apa?" tanya Dina dengan wajah memelas.
"Salah sendiri mau repot-repot jadi kurir!" ejek Hayu.
"Nggak asyik!" Sahut Dina. "Nggak jadi makan ayam bakar di Mesen, dong!"
"Hmm, bau-baunya ada persekongkolan, nih!" tebak Hayu penasaran.
Pecahlah tawa Dina.
"Ayo buruan!" ajak Dina. "Telat nanti!"
Kedua mahasiswi baru itu bergegas memasuki ruang penataran. Penataran P4 hanya menyisakan beberapa hari lagi, setelah itu mereka harus ikut ospek.
Saat Hayu sedang bersiap menerima ilmu, Miranti sedang menikmati hangatnya sinar matahari pagi di stadion Manahan. Meski usianya sudah lebih dari 40 tahun, Miranti masih sanggup mengelilingi stadion lebih dari dua kali.
"Nasi liwet dibungkus dua, pecel ndesonya satu, Yu!" pinta Miranti pada penjual makanan langganannya. Selain sebagai tempat berolah raga, stadion ini pun menjadi tempat mangkal banyak pedagang makanan.
"Nasi liwetnya komplit, Mbak?" tanya sang penjual.
Miranti mengangguk. Nasi gurih yang dilengkapi suwiran ayam, sambel goreng labu siam, potongan telur serta areh dari santan kelapa adalah makanan kesukaan orang tuanya. Sedangkan nasi merah dengan sayuran rebus yang disiram sambal wijen adalah makanan wajib bagi Miranti, jika ke stadion Manahan.
Tidak butuh waktu lama, pesanan sudah di tangan. Beberapa lembar ribuan sebagai pengganti tiga bungkusan itu.
Dengan motor bebeknya, perlahan Miranti meninggalkan stadion. Menyusuri jalan untuk pulang ke Laweyan. Setelah melewati Lapangan Kota Barat, motor itu berbelok ke kanan. Rupanya kenangan sedang memanggil hati Miranti. Rumah Badran tujuannya.
Hanya butuh sejenak untuk memandang rumah, maka derasnya kenangan menghantam batin Miranti. Meskipun tidak berpenghuni, rumah itu masih terawat. Bangunannya masih sama, tidak ada yang berubah, kecuali kisah orang yang pernah tinggal di dalamnya.
Mata itu mulai basah. Nyeri pun tidak lupa ikut hadir. Yang paling berat dari sebuah perpisahan adalah kenangan yang ditinggalkan. Miranti segera memacu motor, saat butiran bening mulai berjatuhan dari pelupuk matanya.
Setelah sampai di Laweyan, Miranti memandangi papan nama yang menempel di tembok rumahnya. Batik Rukmini, tulisan yang terbuat dari logam itu terlihat kokoh, dingin, tetapi anggun.
"Inikah yang aku cari?" tanyanya lirih. Miranti masih duduk di atas sadel motor. Kepalanya tertunduk, diam menatap tanah. Seakan mencari jawaban di sana.
"Ranti!" panggil Bu Dipo. "Dari mana? Ibu cari ke kamar kok nggak ada."
Miranti mendongakkan kepala, kemudian menjawab.
"Nggih, Bu! Dari Manahan."
Miranti segera menyodorkan bungkusan yang dibawanya. "Nasi liwet buat Bapak dan Ibu."
"Matur nuwun, Nduk," ucap Bu Dipo. Miranti mengangguk dan segera berlalu.
"Nduk, Ibu kangen ceritamu," ucap Bu Dipo lirih.
"Berhentilah berpura-pura kuat. Ini sudah terlalu lama." Mata sepuh yang menjadi saksi perjalanan hidup Miranti itu basah.
Sebelum bertemu putrinya, Bu Dipo sempat masuk ke kamar Miranti. Hatinya trenyuh saat melihat sketsa sebuah wajah pada selembar kertas.
"Kamu tetaplah Ibu yang punya kasih paling besar untuk anak. Entah bagaimana caramu menyembunyikan itu dari pandangan mata tua kami, Nduk!"
Seandainya saja waktu bisa bicara, maka dia pasti akan mengungkapkan semua cerita yang tersimpan.
Termasuk cerita kenapa Wisnu harus mengambil jarak dengan putri majikannya. Sayangnya, waktu begitu rapi menyimpan rahasia manusia.
Beberapa hari tidak bertemu Wisnu, rasanya ada yang kurang. Apalagi ada ganjalan di pertemuan terakhir mereka.
"Mbak Hayu, tadi ada surat," kata Mbak Warni sembari menyerahkan amplop bertuliskan air mail di pojok bawah.
"Matur nuwun, Mbak." Hayu menganggukkan kepala sambil menerima surat.
"Tidak ada nama pengirimnya? Tadi siapa yang antar, Mbak?" tanya Hayu.
"Mas yang sering ke sini itu," jelas Mbak Warni.
Deg.
Kegelisahan perlahan merambat. Rasa bersalah mulai menyelimuti batin Hayu.
Hayu mengangguk lagi dan segera meninggalkan penjaga indekosnya. Setelah berada di kamar, dirobeklah amlop itu. Tampaklah tulisan rapi yang sangat dikenalnya. Perlahan dia baca rangkaian kata yang digoreskan Wisnu.
Mbak Hayu, sebelumnya saya mohon maaf jika ada perkataan yang kurang berkenan di hati.
Tentang ucapan saya di TBS, sungguh tidak ada niat untuk membuat hati Mbak Hayu terluka. Saya berani bersumpah.
Saya mengucapkan terima kasih atas segala kebaikan yang sudah diberikan keluarga Mbak Hayu kepada saya dan Simbok.
Beberapa hari ini saya pulang ke Selo dan sudah bicara banyak dengan Den Priyo.
Sekedar Mbak Hayu tahu, indekos saya sudah pindah di belakang kampus. Biar lebih dekat ke fakultas hukum saja.
Saya yakin Mbak Hayu tidak butuh waktu lama untuk punya banyak teman. Karena Mbak Hayu orang baik.
Mungkin saya akan jarang pulang ke Selo. Inginnya bisa segera selesai kuliah saja. Juga nyambi mencari pekerjaan. Biar tidak banyak merepotkan Den Priyo.
Terima kasih, Mbak.
Wisnu
Tiba-tiba pandangan Hayu berkabut, rupanya air mata mulai berkumpul.
"Mbak Hayu!" panggil Mbak Warni. "Ada titipan kunci motor dan STNK juga. Maaf tadi kelupaan."
Hayu segera menyeka air matanya yang mulai berjatuhan.
"Iya, Mbak. Sebentar," jawabnya.
Lunglai tubuh Hayu saat menerima titipan dari Wisnu. Rupanya kesalahpahaman saja cukup menjadi syarat dua anak manusia itu untuk berjauhan. Tidak perlu menunggu waktu hingga Wisnu KKN, skripsi dan wisuda.
Ada rasa enggan yang hadir dalam hati Hayu untuk meluruskan kejadian di TBS.
"Jika yang terbaca oleh hati Mas Wisnu adalah tentang luka Hayu, maka itu jauh lebih baik dari pada tahu yang sebenarnya. Biarkan waktu yang akan membuat semuanya berjalan seperti sebelumnya. Maafkan Hayu yang menjadi pengecut, Mas. Maaf!"
Akhirnya air mata itu bebas berjatuhan. Hayu tahu, sekarang dia sendiri. Wisnu sudah memilih jalannya dan mungkin tidak ada Hayu di sana.
Berbeda dengan Hayu yang baru hari ini menetaskan air mata untuk Wisnu, maka laki-laki itu sudah seperti orang linglung semenjak pulang dari TBS.
Bagaimanapun juga Wisnu hanyalah seorang putra rewang yang bisa kuliah karena kebaikan juragannya. Kesalahan kecil bisa membahayakan masa depannya. Ada mimpi yang sedang dia bangun. Agar menjadi orang sukses, sehingga layak bersanding dengan putri majikannya.
Wisnu memutuskan pulang ke Selo. Dengan segala keberanian yang dia punya. Laki-laki itu meminta izin pindah indekos agar lebih dekat dengan tempatnya menimba ilmu. Tentu sebelumnya Wisnu menceritakan bahwa Hayu sudah mempunyai sahabat yang baik. Dengan berat hati Priyo mengizinkan, meskipun tetap meminta Wisnu sekali-sekali bisa menemui putrinya.
Untuk saat ini menjaga kewarasan pikiran dan hati adalah hal utama bagi Wisnu. Waktu sedang memaksanya untuk banyak tirakat.
Dipun sami hambanting sariranira
Cecegah dhahar guling
Darapon sudaha
Napsu kang ngambra-hambra
Rerema ning tyasireki
Dadi sabarang
Karsanira lestari
Bener luput ala becik
Lawan begja cilaka
Mapan saking badan priyangga
Dudu saking wong liya
Pramila den ngati-ati
Sakeh dir gama
Singgahana den eling
Bait durma inilah yang menguatkan Wisnu untuk mengambil keputusan menjauh dari Hayu. Dia berharap waktu tetap berpihak pada dirinya. Menjagakan Hayu agar ada di masa depannya.
Berat bagi Hayu dan Wisnu menjalani hari yang berbeda dengan kemarin. Sejak dulu mereka hampir tidak pernah bermasalah. Namun hidup keduanya harus tetap berjalan. Ada mimpi yang ingin mereka dekap.
Kemandirian Hayu segera diuji. Pulang ke Selo sendiri.
"Kalau bus jurusan Semarang lewat mana, ya?" tanya Hayu yang terlihat kebingungan.
"Ambil jalan lurus, lalu belok kiri di depan. Nanti ada petunjuknya, Mbak," jawab Satpam terminal. Gadis itu mengangguk dan segera mengikuti petunjuk tersebut.
Hayu bernapas lega, saat menemukan kursi kosong di pojok belakang. Sayangnya tidak ada Wisnu sebagai teman perjalanan.
"Sendirian saja, Mbak Cantik?" tegur sebuah suara. Hayu mendongakkan kepala.
"Wah! Mas Kernet!" seru Hayu.
"Pacarnya ke mana?" goda si Kernet.
"Halaah! Bukan pacar, dia sudah seperti saudara," jelas Hayu.
"Pacar juga cocok lho, Mbak!" Si Kernet masih terus menggoda Hayu.
"Walah! Mboten mawon, Mas!" balas Hayu. Ada rasa sakit saat mengucapkan kalimat itu.
Perih.
Tiba-tiba Hayu merasakan sepi yang sangat.
"Malah melamun to, Mbak!" tegur si Kernet.
"Ngantuk!" jawab Hayu sekenanya.
"Tidur saja, Mbak. Nanti saya bangunkan," janji si Kernet yang sok perhatian pada Hayu.
"Sip! Boyolali ya, terminal!" pesan Hayu. "Jangan kebablasan!"
Kernet pun mengangguk. Hayu bersyukur, setidaknya dia tidak perlu ketakutan karena pertama kali naik bus sendirian.
Hampir petang, saat Hayu menapakkan kaki di terminal Boyolali. Entah berapa kali ucapan terima kasih dia sampaikan kepada sang kernet. Tinggal menunggu gredeg Lek Mardi saja, sesuai perjanjian.
"Nduk!" sebuah sapaan lembut.
"Lho, kok Bapak yang jemput?" Hayu terlihat sangat lega. " Kemarin sudah janjian sama Lek Mardi."
"Karena dia nggak bisa, jadi Bapak yang jemput," jelas Priyo. "Anaknya tadi pagi ke rumah. Katanya Mardi sakit."
"Oalah, nggih." Hayu segera menggandeng bapaknya.
"Mobilnya di mana?" tanya Hayu. Priyo menunjuk arah timur, dekat pintu keluar. Bapak dan anak itu bergegas menuju kendaraan mereka.
"Mas Wisnu nggak pulang, Pak?" tanya Hayu.
"Beberapa hari yang lalu," kata Priyo seraya menyalakan mesin mobil. "Kalian ada masalah?"
Hayu gelagapan.
"Tidak!" jawabnya singkat.
"Yo wis!" Untungnya Priyo tidak mendesak Hayu dengan pertanyaan tentang Wisnu.
Setelah melewati bunderan Surowedanan. Priyo membuka percakapan, kali ini raut wajahnya terlihat serius.
"Tadi pagi Bapak terima surat," ucapnya.
Kenapa minggu ini Hayu seperti dikejar-kejar surat, batinnya.
"Dari siapa, Pak?" tanya Hayu.
"Ibumu!"
"Mesti wadul!" ketus Hayu.
"Huss! Kamu kok jadi kasar!" tegur bapaknya.
Gadis itu terdiam.
Sunyi.
"Kamu tahu cara orang zaman dulu mendapatkan api, Nduk?" Priyo mencoba membuka obrolan lagi.
Hayu mengangguk.
"Benda keras digesekkan dengan benda keras. Batu dengan batu misalnya," ujar Priyo.
"Api yang dihasilkan untuk mempertahankan hidup. Ada manfaatnya," lanjutnya.
"Berbeda dengan kamu dan ibumu," sindir Priyo. "Kerasnya hati menimbulkan panas dan itu justru melukai orang-orang yang menyayangi kalian."
"Bapakmu ini! Eyangmu Laweyan!" Suara Priyo bergetar menahan amarah juga kesedihan.
"Bapak tidak bisa memaksa kamu mengikuti kemauan ibumu!" tandas Priyo. "Karena sebenarnya bapakmu ini ikut andil dalam masalah yang terjadi."
"Namun, kalau kamu selalu memposisikan diri sebagai korban, sampai kapan pun keadaan tidak pernah membaik!"
"Untuk eyangmu saja. Bapak minta tolong, sesekali jenguklah mereka. Ibumu berjanji tidak akan menemuimu lagi."
Hayu terdiam. Perlahan disekanya aliran air yang membasahi pipinya.
Saatnya sunyi berbicara. Mengetuk hati sang kembang desa.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja