Novel Durma Bagian 6

Semenjak berpisah dengan Hayu sore tadi, hati Wisnu gelisah. Hingga mata pun sulit dipejamkan.
"Ada yang salah dengan aku." Beberapa kali laki-laki itu mengusap wajahnya.
"Mbok, Simbok," lirih Wisnu memanggil ibunya, "atas nama balas budi dan pengabdian. Doakan anakmu ini kuat menahan diri."
Putra Sinem itu tampak tertekan dengan situasinya sekarang. Kehadiran Hayu di Solo rupanya membawa dilema. Satu bagian hatinya ingin merengkuh gadis itu dalam rasa sebagai laki-laki dewasa, tetapi bagian yang lain menolak. Siapa dirinya, siapa Hayu.
"Duh Gusti, paringono kuat!" Wisnu menghela napas panjang.
Sedari tadi dia takut memejamkan mata, karena wajah Hayu selalu datang. Berkali-kali Wisnu membarut wajah, mencoba mengenyahkan bayangan putri juragannya. Sayang hal itu sia-sia saja.
"Semakin larut, bukan semakin ngantuk. Kenapa wajah itu tidak mau pergi juga?" keluhnya.
Wisnu menghempaskan tubuh ke dipan. Langit-langit kamar menjadi batas pandangan. Namun, angan melanglang hingga lereng Merapi. Ingatan melayang, saat dirinya dan Hayu berlatih kesenian jawa di pendopo Juragan Broto.
Beruntungnya hidup Wisnu, meski dia hanya putra seorang rewang, tetapi Juragan Broto tidak membedakan dalam memberikan ilmu. Kebetulan Hayu lebih memilih tarian untuk dipelajari, sedangkan Wisnu tertarik belajar nembang dan gamelan.
Lagi-lagi Wisnu menghela napas.
"Aku tidak akan melawan lagi datangnya bayangnmu, Hayu." Laki-laki itu memejamkan matanya. "Karena itu hanya membuat malamku terasa sulit."
Wisnu menyerah. Dia izinkan hatinya bebas mengembara bersama bayangan Hayu.
Lirih kidung Rumekso Wengi mengalun dari bibir Wisnu. Berharap tembang itu mampu mengusir deritanya malam ini. Kidung yang diciptakan Sunan Kalijogo itu terdengar syahdu memecah kesunyian.
Ana kidung rumekso wengi
Teguh hayu luputo ing lara
Luputo bilahi kabeh
Jim setan datan purun
Paneluh tan ono wani
Niwah panggawe ala
Gunane wong luput
Geni alemahan tirta
Maling adoh tan ana ngrah ing mami
Guna duduk pan sirno
Sakehing lara pan samya bali
Sakeh ngomo pan sami mirunda
Welas asih pandulune
Sakehing braja luput
Kadi kapuk tibaning wesi
Sakehing wisa tawa
Sato galak lulut
Kayu aeng
Lemah sangar
songing landak
guwaning wong
lemah miring
Myang pakiponing merak
.........
.........
Belum selesai kidung ditembangkan, tetapi mata Wisnu sudah terasa berat. Malam hadir untuk menjadi penjaga, bagi hati yang sedang resah.
Nun jauh di lereng Merapi. Ada tirakat yang sedang dijalani seorang ibu untuk putranya. Agar sang anak dijauhkan dari mara bahaya. Diberikan hidup yang beruntung di masa depan.
"Mugo-mugo uripmu bejo, Nu."
Semenjak Wisnu diterima sebagai mahasiswa fakultas hukum di UNS, Sinem tidak pernah lepas dari tirakat. Ngrowot, mutih dan bangun tengah malam untuk melafalkan mantra bagi putra semata wayangnya.
Tidak lupa Sinem bersyukur dengan segala kebaikan yang diberikan juragannya. Perempuan itu semakin tulus dalam mengabdi. Karena hanya dengan itu dia bisa membalas kebaikan Priyo.
Sinar matahari pagi menerobos lewat lubang udara. Cahaya itu seakan menari, menggoda Wisnu untuk segera bangun.
Wisnu terkejut, saat dilihatnya jarum jam menunjukkan pukul 6.30 WIB.
"Arrgh kesiangan!" gerutunya. Bergegas dia ke kamar mandi sekedar cuci muka dan gosok gigi. Lalu berganti kaus di kamar. Setelah itu mematut diri di depan cermin.
"Lumayanlah," gumamnya sambil tersenyum. Wisnu segera keluar kamar.
Begitu sampai di teras, Wisnu disambut kehangatan sinar matahari. Rupanya Indra teman satu indekosnya sudah terlebih dahulu menikmati pagi.
"Ngapain pagi-pagi duduk di sini?" tanya Wisnu.
"Kamu nggak lihat?" Indra mengangkat tinggi-tinggi koran yang ada di tangannya.
"Sejak kapan kamu baca koran?" ejek Wisnu.
"Sejak pagi inilah!" jawab Indra.
"Aku mencium aroma busuk dari kelakuanmu pagi ini!" Wisnu menarik kursi, agar bisa duduk di dekat Indra.
Belum sempat Wisnu meneruskan ejekannya, terdengar suara memanggilnya.
"Mas Wisnu!"
Senandung rindu di dada Wisnu mulai mengalun. Gadis yang sudah mengganggu tidurnya semalam, pagi ini hadir lengkap dengan senyumnya.
"Hai," sapa Wisnu, "sudah mau berangkat?"
Hayu mengangguk.
"Lanjut dulu, Mas," ucap Hayu sambil melambaikan tangan.
"Hati-hati ya," pesan Wisnu sambil tersenyum.
Mulai pagi itu, Hayu harus mengikuti penataran P4 selama 100 jam.
Wisnu segera melukis gadis itu dalam ingatannya. Hayu dengan balutan jas almamater berwana biru muda, dipadu rok hitam serta atasan putih. Putri Priyo itu terlihat berbeda. Wajah polos tanpa riasan, tetapi sudah mampu membuat hati Wisnu kebat-kebit. Rambut hitam legam dikuncir satu. Lagi-lagi terlihat hasil dari ketelatenan juragan Broto putri dalam merawat sang cucu. Ah, pagi yang sempurna untuk Wisnu.
"Anak mana? Kenal di mana?" cecar Indra. "Curang kamu, Nu. Yang moncer aja disimpan sendiri!"
"Yang ini spesial. Tidak bakal aku bagi informasinya" canda Wisnu. Dia segera meninggalkan teras, setelah Hayu hilang dari pandangannya.
"Awas kowe, Nu!" Indra mengejar Wisnu yang terlebih dulu masuk.
Tidak berbeda dengan Wisnu. Hayu juga diberondong pertanyaan oleh Dina, teman satu indekos yang kebetulan juga kuliah di fakultas pertanian.
"Siapa tadi, Yu? Pacarmu? Anak fakultas apa?"
"Ngaco," jawab Hayu sambil tertawa, "Mas Wisnu namanya."
"Dia sudah seperti kakakku. Kami satu desa di Selo. Anak fakultas hukum." Hayu begitu berhati-hati menjaga jati diri Wisnu.
"Kenalin dong, Yu!" pinta Dina.
"Boleh," jawab Hayu.
Pintu pintasan yang disebutkan Wisnu kemarin sudah tampak. Terlihat pintu besi lumayan tinggi berwarna hijau muda. Terbuka sedikit, hanya satu orang yang bisa lewat. Ada rantai besi yang dipasang sebagai pengaman. Sehingga yang lewat harus sedikit menunduk.
Dari pintu pintasan ini terlihat ada dua rumah kaca. Tepatnya di sebelah kanan jalan menuju gedung kuliah.
"Itu yang namanya rumah kaca ya, Na?" Pandangan mata Hayu seakan enggan berpaling dari bangunan yang baru pertama kali dilihat.
Bangunan itu hampir keseluruhannya terbuat dari kaca. Terlihat polybag berjajar di dalamnya. Angan Hayu terbang ke Selo.
Andaikan kelak bisa punya bangunan seperti ini untuk mengembangkan pertanian di sana, harapnya di dalam hati.
"Nah, nah! Jalan itu pakai mata, Yu!" seru Dina.
Hampir saja Hayu jatuh. Kakinya tersandung batu. Untung Dina sigap meraih tangan Hayu.
Aula gedung A lantai tiga, menjadi tujuan Hayu dan Dina. Satu per satu tangga dilewati dengan sabar.
"Kalau tiap hari seperti ini, aku bisa kurus!" keluh Dina.
Pecahlah tawa keduanya.
"Isi presensi dulu ya!" sambut seorang mahasiswa, saat Hayu dan Dina sampai di lantai tiga. Kedua gadis itu mengangguk.
"Hayu Lintang Kinasih!"
"Ya," jawab Hayu.
Gadis itu bingung, ada yang memanggilnya dengan nama panjang. Dilihat ada seorang mahasiswa dengan pandangan tajam menatap ke arahnya.
"Buruan tanda tangannya! Tidak lihat di belakangmu sudah pada nunggu?!" tegur laki-laki itu lagi.
"Maaf, maaf." Hayu mulai keder. Buru-buru dia menorehkan tanda tangan di urutan 14.
"Na, belum ospek udah sangar kayak gitu!" keluh Hayu saat keduanya meningggalkan tempat presensi. "perasaan aku nggak lama juga tadi."
"Awas lho! Anak cantik biasanya jadi sasaran!" goda Dina untuk menakut-nakuti Hayu.
"Untung aku nggak cantik!" ucap Hayu terdengar lega. Dina mencebik.
"Bercanda saja. Jangan takut, Yu," hibur Dina, "ospek itu seru-seruan saja biar akrab."
"Kalau pun ada suara yang keras, jangan diambil hati. Santai, tenang," lanjut Dina.
"Kamu kok tahu?"
"Kakakku dulu pernah jadi panitia ospek," jelas Dina, "kemarin dia cerita banyak."
"Ceritain ya, Na," pinta Hayu.
"Boleh, tapu kenalin sama Mas siapa tadi?" Dina sok bikin penawaran atas permintaan Hayu.
"Beres." Hayu mengerlingkan mata. Keduanya segera masuk aula untuk mengikuti pembukaan penataran P4.
Di kota yang sama, Miranti sedang menghadapi pertanyaan dari Pak Dipo.
"Kamu tidak ingin berubah?" tanya Pak Dipo.
"Berubah apa, Pak?"
"Menjadi ibu yang baik buat Hayu!" ucap Pak Dipo.
"Saya kurang baik apa, Pak?" Miranti balik bertanya. "Bapaknya Hayu saja yang salah didik anak. Jadi Hayu nggak mau sama saya!"
"Pancen kowe ra ndue ati!" bentak Pak Dipo.
"Salah terus!" Miranti meletakkan majalah yang tengah dia baca. "Semua menyalahkan saya atas perceraian itu!"
"Selama ini pengorbanan Ranti untuk Bapak Ibu ternyata tidak ada artinya!" Pertahanan Miranti jebol. "Membesarkan batik Rukmini sampai bisa seperti ini. Tidak ada harganya juga di mata Bapak!"
Perempuan yang biasa tampil tegar itu akhirnya menangis. Ada butiran bening yang berlomba untuk jatuh. Miranti tidak menyangka bapaknya tega berkata seperti itu. Setelah semua yang sudah dia lakukan. Ibunya Hayu itu segera menyusut air mata yang yang terlanjur jatuh.
Tanpa bicara, dia tinggalkan bapaknya seorang diri.
"Siapa yang suruh kamu melakukan semua itu! Siapa?!" teriak Pak Dipo.
Bu Dipo tergopoh-gopoh mendatangi suaminya.
"Sabar. Sabar, Pak! Jangan dipikir banget-banget!" Perempuan sepuh itu menepuk-nepuk lembut punggung suaminya.
"Nanti Bapak sakit. Dieman sendiri ya," tutur Bu Dipo.
"Ranti itu salah memaknai bakti ke orang tua, Bu!" Kesedihan tampak jelas di raut wajah Pak Dipo.
"Mumpung Hayu sekarang tinggal di Solo. Mestinya dia berusaha mendekati anaknya!" seru Pak Dipo. "Apa pernah anakmu itu mikir mencari tahu Hayu tinggal di mana? Kebangetan kok Ranti itu!"
"Nanti Ibu suruh Ranti cari tahu indekos Hayu," hibur Bu Dipo, "Bapak harus sehat. Biar umurnya panjang. Bisa lihat Hayu wisuda."
Kalimat-kalimat yang diucapkan sang istri, rupanya mampu meredakan gejolak hati Pak Dipo. Beliau terlihat sudah lebih tenang.
"Atau kita saja yang ke UNS ya, Bu? Cari Hayu sendiri ke fakultas pertanian,"usul Pak Dipo.
"Bapak tahu tempatnya?" Bu Dipo menatap wajah suaminya. Ada rindu yang teramat besar untuk bisa bertemu cucunya itu.
"Tanya satpam. Pokoknya kita ke sana dulu!" ajak Pak Dipo.
"Biar diantar Minar ya, Pak. Nanti dia bisa bantu tanya-tanya," ucap Bu Dipo, "Ibu nggak tega lihat Bapak ke sana kemari nyari Hayu."
Lelaki sepuh itu mengangguk. Keduanya segera beranjak dari ruang tamu. Bersiap untuk ke Kentingan. Bersamaan dengan itu, terdengar suara mobil meninggalkan rumah.
"Sopo kae, Bu?"
"Ranti, Pak. Mungkin ada urusan mendadak." Perempuan yang selalu memakai jarit itu segera keluar.
"Ran! Ranti!" teriak Bu Dipo.
Rupanya sang pemilik nama yang dipanggil tidak mendengar. Miranti tetap berlalu.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja