Novel Durma Bagian 4

"Ngapain juga indekos!" Suara Miranti meninggi. "Kamu ini nggak menghargai ibumu sama sekali!"
Sejak awal Hayu menolak diajak bertemu Miranti. Dia tahu hanya luka yang akan diterima. Gadis itu tidak akan pernah lupa, pertemuan demi pertemuan selalu berakhir dengan air mata.
"Jauh, Bu," alasan Hayu.
"Ada bus. Ibu beliin kamu motor. Jika perlu mobil juga bisa!" ucap Miranti.
"Nggak usah. Terima kasih," ucap Hayu lirih.
"Biar saja Hayu indekos. Nanti sekali-sekali bisa ke sini." Priyo menyela obrolan ibu dan anak itu.
"Bapakmu nggak bolehin kamu tinggal di sini, ya?" desak Miranti. Bukan seperti pertanyaan, lebih tepatnya tuduhan.
Hayu menggeleng, Priyo menghela napas. Bapak dan anak itu sedang mencoba bersikap sopan, selayaknya tamu yang sedang berkunjung.
"Kamu itu kalau ngomong sama anak mbok yang alus," tegur Pak Dipo dari dalam rumah, "teriak-teriak. Malu sama tetangga!"
Melihat eyangnya, Hayu segera bangun dari duduk. Menggamit lengan laki-laki yang sudah semakin renta. Menuntunnya untuk duduk bersama. Pak Dipo tersenyum melihat kehadiran cucunya.
"Pak," sapa Priyo, "sehat?"
"Sehat, Le," jawab Pak Dipo seraya merangkul mantan menantunya itu.
"Hayu itu nyari perkara saja, Pak!" Miranti mulai sewot lagi. "Tahu eyang dan ibunya ada di Solo, malah indekos!"
Priyo memegang tangan putrinya. Ingin dialirkan rasa tenang ke hati gadis itu. Sepertinya berhasil, Hayu tidak menggubris omelan ibunya.
"Kuliah di mana, Yu?" tanya Pak Dipo.
"Sebelas Maret, Yang," jelas Hayu sambil tersenyum.
"Jurusan apa, Nduk?" tanya Pak Dipo lagi.
"Pertanian."
"Apa? Pertanian?" Miranti terkejut. "Mbok leren, Yu!"
"Kalau cuman mau nanam bayam, nggak usah kuliah! Sana ke belakang Sriwedari, beli buku cara bercocok tanam!"
Akhirnya butiran bening itu jatuh juga dari pelupuk mata Hayu.
"Kuliah itu kedokteran!" Miranti semakin menunjukkan sikap tidak sukanya.
"Bapakmu tidak pernah kasih nasehat, ya?" tanya Miranti sinis, "mestinya kamu ikut ibu. Biar masa depan cerah!"
"Ranti! Diam!" hardik Pak Dipo.
"Saya ibunya, Pak! Mosok nggak boleh bicara?" ucap Miranti ketus.
"Ibu yang ....!" ucap Hayu.
"Hayu!" sahut Priyo dengan tegas, tanpa bisa dibantah.
Priyo memahami luka Hayu. Namun, dia tidak ingin menabuh genderang perang dengan mantan istrinya.
"Kamu itu nggak bisa ndidik anak! Makanya Hayu berani sama aku!" Pandangan mata Miranti menatap tajam ke arah mantan suaminya.
Priyo tidak ingin memperuncing masalah di depan anak dan mantan mertuanya. Melihat gelagat yang kurang enak, dia memilih segera undur diri.
"Pak. Pamit dulu," ucap Priyo ditengah hatinya yang bergemuruh, "lain waktu kami ke sini lagi."
Dengan air mata yang berderai, Hayu mengulurkan tangan kepada Pak Dipo. Laki-laki sepuh itu merengkuh tubuh cucu semata wayangnya.
"Sabar. Sabar. Bakti ke ibumu sedang diuji. Jangan memendam sakit hati ke orang tua ya, Nduk!" bisik Pak Dipo di telinga Hayu.
Air mata gadis itu jatuh semakin deras.
Bahkan waktu tidak mampu melembutkan hati ibu, rintih Hayu.
Miranti memilih masuk show room RUKMINI, tanpa menunggu anak dan mantan suaminya pergi. Dia membawa sisa amarah yang belum tuntas ditumpahkan.
"Anak kok dipenakne ra gelem!" gerutunya. Miranti tidak habis pikir dengan keputusan Hayu.
"Ada apa, Mbak?" tanya Minar.
"Hayu! Ada rumah di Solo malah pilih indekos," gerutu Miranti, "kalau di sini kan tidak perlu repot. Dia cukup mikir kuliah saja!"
"Mungkin Mbak Hayu ingin belajar mandiri," kata Minar.
"Anak-anak itu kadang sok. Mereka sok bisa hidup tanpa orang tua. Padahal ...." ujar Miranti.
Minar tidak menanggapi omelan Miranti lagi. Dia sedikit paham sifat juragannya yang satu ini. Susah diberi masukan kalau menyangkut persoalan pribadi.
Sementara itu di dalam mobil yang membawa Hayu menuju Kentingan.
"Apa juga Hayu bilang. Nggak usah ketemu ibu!" ucapnya penuh kekesalan sambil menangis.
"Maafkan bapak ya, Nduk." Priyo terlihat menyesal telah memaksa Hayu bertemu ibunya.
"Hayu yang salah. Tidak mengindahkan nasihat bapak," ucapnya sambil menyeka air mata. "Sejak dari rumah sudah diingatkan untuk sabar. Cacing saja kalau diinjak berontak, apalagi manusia."
"Namun manusia diberi akal untuk berpikir," tutur Priyo, "Kejadian yang sudah lewat, seharus bisa kita jadikan pembelajaran."
Hayu mengangguk. Sesekali masih menyeka air mata yang jatuh.
Dia ibu kandungku, kenapa bisa semudah itu melukai hati anaknya? Atau sebenarnya hanya ingin menekan bapak? Kenapa ibu tidak berubah? Beberapa pertanyaan berseliweran di benak Hayu.
"Sudah sampai Gladag. Mau makan tengkleng Bu Edi nggak, Nduk?" tanya Priyo.
Tidak ada jawaban.
"Hayu! Malah melamun," tegur Priyo.
Gladak adalah persimpangan di ujung jalan utama Slamet Riyadi. Jika belok kanan, maka pasar Klewer dan Kraton Kasunanan akan dilewati. Di bawah gapuro pasar Klewer, ada tengkleng legendaris kesukaan Priyo.
Lamunan Hayu buyar.
"Tengkleng? Nggak, Pak. Hayu malas makan."
"Kalau dawet selasih?" tanya Priyo.
"Kalau itu harus!" Senyum mulai mengembang dari wajah Hayu, meski hatinya masih terluka.
Gadis itu tidak pernah lupa mampir ke pasar gede setiap diajak bapaknya ke Solo.
Pasar Gede Hardjonagoro terletak di seberang kantor balaikota Solo. Berada di kawasan pecinan Balong. Bangunan yang ada sejak jaman Belanda itu, menjadi salah satu ikon kota Solo.
Dawet Selasih merupakan kuliner yang wajib dinikmati, jika berkunjung ke pasar ini. Perpaduan ketan hitam, jenang sumsum, cendol hijau, tape ketan, biji selasih, santan, cairan gula putih yang tidak terlalu manis, dan disempurnakan dengan es batu, mampu meninggalkan rasa kangen untuk kembali lagi ke Pasar Gede.
Seperti biasa, lapak dawet ini tidak pernah sepi. Beruntung Hayu dan bapaknya dapat kursi untuk duduk.
"Kentingan dekat dengan Pasar Gede. Naik bus kota hanya sekali atau minta diantar Wisnu," jelas Priyo, "bisa tiap hari kamu ke sini, Nduk."
Hayu tertawa.
"Mas Wisnu nunggu kita di mana, Pak?" tanya Hayu, "jadi dibawain motor?"
"Di indekosnya. Iya, motor di rumah dia bawa. Biar bisa antar kamu," jawab Priyo.
"Bapak tahu tempatnya?" Hayu bertanya lagi.
Priyo mengangguk.
"Ayo buruan. Kasihan yang antri kursi ini," ajak Priyo.
Sekarang gantian Hayu yang mengangguk. Semangkuk es dawet rupanya mampu mengusir kesal yang tadi hadir.
Mereka segera meninggalkan Pasar Gede, menuju ke Kentingan. Di sanalah letak kampus yang Hayu pilih untuk melanjutkan pendidikan.
"Kok, tiba-tiba cemas." Rasa gugup menyergap hati gadis itu.
"Kenapa?"
"Entah. Mungkin karena ini pengalaman pertama berjauhan dari Bapak," ucap Hayu.
"Benar kata pepatah. Waktu laksana pedang, tebasannya begitu cepat, " tutur Priyo, "Bapak semakin tua, anaknya semakin dewasa."
"Namun, waktu tidak berdaya mengubah hati seseorang," keluh Hayu.
"Sudahlah. Tidak ada yang tidak mungkin, suatu hari pasti. Jika Gusti Allah berkehendak," tutur Priyo.
Lalu lintas siang itu tidak begitu padat.
"Sudah dekat kampusmu, Nduk," ucap Priyo saat mobilnya mulai masuk jalan Ir Sutami.
Hening.
"Hayu," panggil Priyo, "kenapa?"
"Tiba-tiba gamang. Berat jauh dari bapak."
"Besok bakal ada perpisahan yang nyata, Nduk. Dan, tidak ada obat kangennya," ujar Priyo, "sekarang latihannya."
Butiran bening terjatuh dari pelupuk mata Hayu. Dia segera melemparkan pandangan keluar. Gadis itu tidak ingin memberi sedih kepada bapaknya.
"Itu kampus Hayu, Pak!" serunya.
Priyo segera menyalakan lampu sein ke kiri. Ditepikannya mobil yang dia kendarai. Untuk sejenak berhenti di pelataran pintu gerbang.
"Itu pintu masukmu, untuk mempelajari ilmu baru," ucap Priyo sambil mengelus kepala putrinya, "niatkan agar kelak bisa berbagi dengan masyarakat."
UNIVERSITAS SEBELAS MARET
Hayu tersenyum membaca tulisan di pintu gerbang.
Aku sudah mahasiswi! Teriaknya dalam hati.
"Deretan atap rumah yang terlihat di sebelah timur itu, namanya Gendingan," jelas Priyo, "di situ indekosmu."
Priyo mengajak Hayu untuk segera menemui Wisnu. Mobil mengarah ke timur.
"Kalau penat, kamu bisa lihat-lihat binatang di situ," tunjuk Priyo, "namanya kebun binatang Jurug."
"Waduuh, kayak anak kecil saja, Pak," ucap Hayu sambil tertawa.
Mobil Priyo berhenti di depan sebuah rumah bercat kuning gading.
"Ini indekos Wisnu," jelas Priyo, "dari pertama masuk kuliah sampai sekarang belum pernah pindah."
"Arjuna," Hayu membaca sebuah tulisan di papan yang tertempel pada dinding.
"Setiap rumah ada namanya, Pak?" tanya Hayu.
"Sepertinya begitu. Mungkin untuk memudahkan."
Indekos Wisnu berada di pinggir jalan besar, tepatnya sebelah barat kebun binatang.
Priyo segera mengetuk pintu rumah itu. Tidak lama kemudian, muncul seorang laki-laki.
"Cari siapa, Pak?" tanyanya.
"Ada Wisnu?" tanya Priyo.
"Oh ada. Sebentar," jawabnya.
Tidak berselang lama, muncul Wisnu.
Laki-laki itu segera menyalami Priyo. Dan, memberikan sebuah senyum untuk Hayu.
"Mau masuk dulu atau langsung ke indekos Mbak Hayu, Pak?" tanya Wisnu.
"Pie, Yu?" Pak Priyo meminta pertimbangan putrinya.
"Langsung saja, Pak. Nggak enak," ucap Hayu saat melihat beberapa teman Wisnu mulai mengintip "temannya Mas Wisnu cowok semua. Serem!"
Indekos Hayu rupanya tidak terlalu jauh dari tempat Wisnu, hanya selisih beberapa rumah.
"Apa nama tempatku, Mas?" tanya Hayu.
"Kinanti," jawab Wisnu, "pagar warna abu-abu itu, Pak."
Mobil yang mereka tumpangi berhenti sesuai instruksi Wisnu.
Hayu dan bapaknya segera menemui pengelola indekos. Mbak Warni namanya. Setelah mendapat penjelasan tentang beberapa aturan di tempat ini, mereka berdua diajak berkeliling.
Indekos Hayu adalah bangunan dua lantai. Dihuni kurang lebih dua puluh orang. Satu kamar boleh ditempati sendiri, boleh juga berdua.
Sementara itu, Wisnu membantu mengambil barang-barang Hayu dari mobil.
"Biar Hayu yang bawa masuk, Mas," pinta gadis yang tiba-tiba sudah ada di samping Wisnu. Laki-laki itu menyerahkan travel bag ditangannya.
"Kuat?" tanya Wisnu. Hayu mengangguk. Dia segera memasukkan barang ke kamar dan kembali ke teras, di mana bapaknya dan Wisnu menunggu.
"Bapak pamit dulu ya. Biar tidak kemalaman di jalan," ucap Priyo.
Hayu mengangguk. Butiran bening terjatuh lagi dari pelupuk matanya.
"Nggak usah nangis. Seminggu lagi kan ketemu," ucap Priyo, "titip Hayu, Nu."
Wisnu mengangguk.
Dengan sepenuh hati, saya akan menjaga putri bapak, janji Wisnu dalam hati.
"Nanti saya antar lihat kampus dulu," ucap Wisnu, "pukul empat ya, Mbak. Sekalian beli makan."
Hayu mengangguk.
"Bapak jaga kesehatan ya. Sungkem buat Simbah."
Mobil yang dikendarai Priyo perlahan meninggalkan Gendingan. Hati laki-laki itu mulai terasa sepi. Tujuh belas tahun mendekap erat putri kesayangannya. Kini perlahan harus melepas.
"Duh Gusti, nyuwun titip Hayu," pintanya pada Sang Pemilik Hidup.
Perlahan kendaraan yang ditumpangi Priyo menghilang dari jangkauan indra penglihatan Hayu. Baru berpisah sebentar, rasa rindu perlahan menyapa hatinya.
Hayu menghirup udara kota, tetapi tiba-tiba terasa sesak.
"Ah, aku rindu lereng Merapi."
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja