Novel Durma Bagian 19

Pagi di Laweyan.
"Ada acara apa ini?" gumam Miranti. Ruang makan sepi. "Sepertinya ada bancaan."
"Bu! Ibu!" panggilnya.
Tidak ada yang menjawab panggilannya. Miranti menarik kursi, duduk mengamati jajaran makanan di atas meja. Aroma daun kenikir menggoda indra penciumannya. Tampak tumpeng nasi putih komplit dengan berbagai macam sayuran. Selain daun kenikir, ada kacang panjang dan kangkung yang tidak dipotong. Kedua sayuran itu wajib hadir dalam setiap bancaan. Karena menjadi simbol agar diberikan rezeki yang panjang.
Wortel, kubis dan kecambah memberi warna pada tampilan urap. Untuk menggenapkan menjadi tujuh macam, maka bayam pun menjadi pelengkapnya. Tujuh atau pitu dalam bahasa jawa bermakna pitulungan. Memohon kepada Sang Penguasa Jagad agar sudi memberi pertolongan.
Ada sebelas telur rebus sebagai lauk. Miranti ingat makna jumlah ini. Sewelas, berharap kawelasan atau rasa kasih dari Sang Pemilik Hidup.
Tidak ketinggalan bumbu urap itu sendiri. Miranti mencicipi. Lumayan pedas. Entah siapa pemilik nama bancaan ini. Yang pasti umurnya sudah di atas delapan tahun. Karena bumbu urap pedas ini menjadi simbol, seseorang telah berada pada fase kehidupan yang komplit. Ada manis, pedas bahkan pahit.
Di samping tumpeng tampak satu tampah kecil yang berisi jajanan pasar. Ada jadah, wajik, puthu, lemper dan awug. Tidak ketinggalan jajanan berbahan beras, apem. Ada buah sedikit, tujuh macam juga. Semua itu pasti mengandung maksud. Diharapkan semua hal baik seperti kesehatan, keselamatan dan rezeki selalu lengket pada orang yang dibancaki.
"Ran," sapa Bu Dipo.
"Mbancaki sinten, Bu?" tanya Miranti.
"Priyo!" ucap Bu Dipo.
"Biar cepat sehat," harap Bu Dipo, "Sakitnya dibuang ke prapatan."
"Kalau ada yang nemu di prapatan blais lho, Bu!" gurau Miranti.
"Aish! Itu kan perumpaan saja!" jelas Bu Dipo.
"Tapi kan bukan hari ini wetonnya!" tambah Miranti.
"Yo wis ben!" sahut Bu Dipo. "Minta tolong Pak Man bagikan ke tukang becak di depan ya, Ran. Jangan lupa minta mereka mendoakan Priyo!"
"Nggih," balas Miranti.
Miranti segera beranjak dari hadapan Bu Dipo.
"Sik, Ran! Kowe isih apal wetonne Priyo?" tanya Bu Dipo. "Ojo-ojo ...."
"Mboten!" elak Miranti sambil mempercepat langkah.
Andai saja Bu Dipo melihat wajah putrinya, pastilah perempuan sepuh itu akan tahu rahasia hati Miranti.
Miranti buru-buru mencari Pak Man.
"Pak!" sapa Miranti. Sang sopir terlihat sedang duduk santai di teras. Mungkin menunggu perintah majikannya.
"Nggih, Mbak," jawab Pak Man.
"Diutus Ibu bagi bancaan ke tukang becak di depan!" jelasnya.
"Oh, nggih." Pak Man segera ke belakang, tetapi kemudian berhenti.
"Mbak Ranti tidak ke rumah sakit?" tanyanya ragu.
"Enggak, Pak!"
"Kasihan Mbak Hayu. Pasti pontang-panting sendiri," ucapnya pelan.
"Dia yang minta seperti itu, Pak! Wis ben!"
Pak Man tidak mencoba berargumen lagi. Pria itu memilih segera mengambil nasi bancaan.
Sesampainya di ruang makan.
"Ojo lali njaluk donga ya, Pak!" pesan Bu Dipo. "Priyo biar cepat sehat."
Pak Man mengangguk.
"Tidak ke rumah sakit, Bu?" tanya Pak Man sebelum pergi.
"Sore saja, ya!"
Laki-laki itu mengangguk. Kemudian berlalu membawa bancaan.
Sementara itu di ICU rumah sakit Jebres. Hayu sedang bertanya pada Priyo di ruang yang sunyi.
"Bapak nggak kasihan sama Hayu?" Tangan gadis itu mengelus dahi bapaknya. "Hayu sendirian, Pak."
Ada bulir bening yang jatuh. Sudah dua hari sejak operasi keadaan Priyo masih sama. Terbaring tidak bergerak. Dengan beberapa alat yang menempel pada tubuhnya. Suara monitor di sisi kanan ataslah yang menunjukkan bahwa masih ada kehidupan.
"Pak, bangun," bujuk Hayu, "kata Simbah, masih ada Bapak yang akan nemani Hayu."
Meskipun belum lama, tetapi perawat ruang ICU sudah hapal dengan kebiasaan Hayu. Gadis itu akan berbicara dengan bapaknya hingga waktu berkunjung habis. Kadang terlihat banyak senyum, tetapi tidak jarang isak tangisnya terdengar.
Terdengar langkah mendekat ke arah Hayu.
"Maaf, putrinya Bulik Miranti?" Suara seorang lelaki ditujukan pada Hayu. Gadis itu mendongak. Sepertinya ini pria yang dilihatnya beberapa hari yang lalu.
Hayu mengangguk. Buru-buru dia seka air mata yang jatuh.
"Bulik tidak datang?" Dokter Banyu Biru, itu nama yang terbaca di kartu tanda pengenal.
Hayu menggeleng lagi.
"Sibuk?" lanjut pria itu. "Kenalkan, saya Banyu. Tetangga Bulik Miranti di Laweyan."
"Hayu," jawabnya singkat.
"Dok, kapan Bapak saya sadar?" tanya Hayu dengan suara bergetar.
"Masing-masing pasien memang berbeda responnya setelah operasi," jelas dokter Banyu. "kondisi pasien stabil, itu yang paling penting."
Hayu mengangguk mendengar penjelasan sang dokter. Dilihatnya wajah yang diam itu.
"Pak, bangun," pinta Hayu lirih. Gadis itu tidak peduli ada sepasang mata yang terus menatapnya trenyuh.
"Saya tinggal dulu," pamit dokter Banyu, "eh siapa tadi namanya?"
"Hayu?" lanjutnya.
Gadis itu mengangguk.
"Kalau Bulik datang, salam ya," pesannya. Hayu mengangguk.
Nggak bakalan datang, batin Hayu.
Waktu untuk mengunjungi pasien habis. Hayu mengelus tangan bapaknya.
"Nanti sore Hayu temani lagi, tapi Bapak bangun, ya," pesannya lirih. Dari sudut ruangan, manik mata Banyu terus mengikuti gadis yang sedang berduka itu.
"Dok," tegur perawat.
Terkejut. Banyu berlagak merapikan jas yang dia pakai untuk menutupi gugupnya.
"Ya," jawabnya singkat.
"Ini laporan yang diminta," kata perawat.
"Oke. Terima kasih," sahut Banyu. Mata itu kembali melihat ranjang Priyo, sayang sang gadis sudah tidak terlihat.
Hayu termenung di ruang tunggu. Ternyata saat ini dia memang butuh ibunya. Namun untuk mengucap kata tolong, sulit sekali.
"Melamun?"
Hayu terkejut saat dilihatnya dokter Banyu sudah di sampingnya.
"Eh Dokter," jawab Hayu sambil menggeser duduknya menjauh.
"Sudah makan?"
"Tidak lapar, Dok," jawab Hayu singkat.
"Ayo makan dulu," ajak Banyu, "biar tetap sehat."
Hayu mengangguk seraya mengucapkan kata terima kasih untuk menolak ajakan Banyu.
Pria itu pun tersenyum, kemudian pamit.
"Kalau begitu duluan ya," ucapnya.
Hayu mengangguk. Meski Banyu telah berlalu, tetapi aroma minyak wangi masih tertinggal. Gadis itu menghirup dalam-dalam, kemudian membayangkan wajah lain yang memakai wangi ini.
"Mbak, kenal baik dengan dokter tadi?" tanya seorang ibu yang membuat lamunan Hayu buyar.
"Pripun, Bu?" ulang Hayu.
"Kenal dengan dokter tadi?"
"Oh. Nggak kenal, Bu. Tapi katanya tetangga ibu saya," jawab Hayu.
"Lha tetangga kok tidak kenal?"
"Saya tidak tinggal di rumah ibu," jelas Hayu.
"Oo. Dokternya ganteng ya, Mbak," puji ibu itu.
"Lupa nggak memperhatikan," lanjut Hayu.
Hmm, harus segera menyingkir ini. Biar tidak ditanya-tanya, ucap Hayu dalam hati.
"Saya ke kantin dulu ya, Bu," pamit Hayu.
"Monggo, Mbak."
Akhirnya kantin menjadi tempat Hayu melarikan. Sebenarnya bohong juga kalau bilang tidak lapar. Yang jelas rasa haus memang menggoda kerongkongannya dari tadi.
Kantin ini lumayan luas. Kursi dan meja ditata sedemikian rupa agar pengunjung nyaman. Ada etalase terbuat dari kaca untuk menyimpan makanan. Nasi dan sayur diambilkan penjaga, lauk boleh ambil sendiri, setelah itu bayar tentunya.
Siang itu Hayu memilih nasi putih dan botok mlanding. Sejenak Ingatannya kembali pada mendiang Simbah putri. Dulu Hayu sering diajak untuk memanen di pekarangan belakang rumah. Mlanding atau ada yang menyebut metir, warnanya hijau muda. Buahnya kecil-kecil. Baunya khas. Ketika disatukan dengan parutan kelapa muda, teri, cabe dan rempah lainnya, maka terhidanglah botok yang sedap dinikmati dengan nasi putih yang masih hangat.
Hayu segera mencari tempat duduk yang kosong. Saat makan siang, kantin ini penuh. Untung masih tersisa satu tempat duduk. Beruntungnya Hayu.
Buru-buru dihampirinya kursi itu. Duduk, lalu mencoba menikmati makanan yang ada di depannya. Meskipun pikiran masih bercabang-cabang, setidaknya penjelasan dokter tadi sedikit melegakan hati.
"Lapar juga?"
Hayu mendongak. Dilihatnya Banyu tanpa mengenakan jas putih. Tubuh dokter itu dibalut kemeja kotak-kotak warna biru dongker, kontras dengan kulitnya yang putih bersih. Baju lengan panjangnya dilipat hingga siku. Tidak ketinggalan jam tangan menjadi penghias tangannya.
"Eh iya." Hayu mengangguk dan mengulas senyum, lalu segera menunduk.
"Silakan dilanjutkan," ucap Banyu, "monggo, Mbak Hayu."
"Monggo, Dok," balas Hayu.
Setelah Banyu berlalu, Hayu mulai makan. Ada sepi yang tiba-tiba hadir. Kerinduan akan keluarga menyeruak di batinnya. Keluarga utuh yang dulu pernah dia rasakan. Walaupun rasa itu samar. Mata itu berkabut lagi.
Gadis itu menghela napas. Nrimo dan sabar, dua hal yang harus berjalan bersama. Walaupun itu sangat berat. Karena hanya itu pilihan yang ada di depannya.
Waktu berjalan sangat lambat untuk Hayu. Kembali seorang diri di ruang tunggu ICU. Hari ini Dina pamit tidak bisa menemani, karena harus menunggu dosen untuk konsultasi proposal skripsi.
Ingatan Hayu tertuju pada satu sosok yang tidak pernah muncul lagi selama beberapa hari ini. Wisnu, ke mana dia? Jarak dari Manahan ke Jebres tidak terlalu jauh. Sesibuk apa hingga tidak bisa sebentar saja menengok ke rumah sakit. Atau masih sakit hati? Banyak tanya yang berkeliaran di benak Hayu.
Gadis itu berusaha untuk memejamkan mata sejenak. Tubuhnya mulai terasa tidak enak. Benar kata dokter Banyu, menunggu orang sakit itu butuh fisik yang kuat. Apalagi Hayu seorang diri. Pasti kelelahan.
Tubuh Hayu bersandar ke kursi, jaket menjadi pelindung tubuhnya yang terasa dingin. Dia berharap bisa tidur pulas, meskipun hanya sebentar.
"Mbak! Mbak! Bangun!" Seseorang mencoba membangunkan Hayu yang mengigau. Gadis itu gelagapan.
"Kenapa, Mbak?" tanya seorang perempuan. Ah rupanya ibu yang tadi lagi.
"Ada apa, Bu?" tanya Hayu bingung.
"Tadi jenengan teriak," jelas ibu itu.
"Oh, maaf." Hayu tersipu.
"Mungkin kelelahan. Saya lihat jenengan hanya sendirian terus tiap hari," ujar ibu itu lagi, "tidak ada saudara yang gantiin?"
"Saya anak tunggal, Bu," jelas Hayu.
"Oalah, Mbak. Besok kalau nikah jangan sama yang anak tunggal, lho!" pesan ibu itu.
"Kenapa, Bu?" tanya Hayu penasaran.
"Nggak baik pokoknya!"
"Oh nggih, Bu. Matur nuwun," balas Hayu dengan sopan.
Mas Wisnu anak tunggal, terus nggak boleh dong! Halaaah, mikir opo ini, ucapnya dalam hati. Hayu tersenyum sendiri.
"Mbak, ini ada teh panas." Ibu itu mengulurkan sebungkus teh panas kepada Hayu. "Biar badannya seger."
"Lha panjenengan, Bu?"
"Ini beli dua." Ternyata masih banyak kebaikan di sekeling Hayu. Perlahan gadis itu yakin, dia tidak sendiri.
Jarum jam menunjukkan pukul 17.00. Hayu bergegas masuk ke ruang ICU. Seorang perawat sedang berdiri di dekat ranjang bapaknya. Hayu tergesa. Takut ada hal buruk.
Gadis itu terkejut, saat dilihatnya ada senyum lemah tersungging dari bibir yang kering.
"Bapak!" tangis Hayu pecah. Sekarang dia benar-benar tidak sendiri.
Digengam tangan bapaknya itu kuat-kuat, seakan tidak mau kehilangan.
Priyo hanya bicara dengan matanya. Banyak yang ingin ditanyakan, tetapi sulit untuk mengucapkan. Hayu terus menangis, tangan yang lemah itu berusaha mengusap air mata putri kesayangannya. Sesekali Priyo sedikit meringis, mungkin ada bagian yang terasa sakit.
Hayu tidak tega untuk menceritakan tentang simbah. Gadis itu tergugu, merindukan pundak bapaknya untuk bersandar. Menceritakan semua beban yang beberapa hari ini harus ditanggung sendiri. Sentuhan tangan laki-laki itu cukup menjadi penawar duka. Hayu tersenyum meskipun air matanya terus menetes.
Di saat kebahagiaan menghampiri Hayu, Wisnu sedang dalam diskusi yang menguras semua pikirannya.
"Ini kasus penting bagi kita!" jelas Pak Hendra. "Klien punya nama besar di kota ini!"
"Wisnu, kasus ini dipercayakan padamu!" tegas Pak Hendra. "Saya yakin kamu bisa. Kinerjamu bagus untuk beberapa kasus terakhir."
"Ini sebagai batu loncatan untuk kariermu!" cetus Pak Hendra. "Mau punya nama atau hilang tak berbekas!"
Wisnu terdiam. Ada sedikit ketidakyakinan pada dirinya. Selama ini baru sebatas anggota tim. Sekarang harus memimpin menyelesaikan sebuah kasus. Dan lagi klien ini bukan orang sembarangan.
Pak Hendra menepuk pundak Wisnu.
"Saya percayakan pada kamu dan Rasti!"
Wisnu mengangguk. Walaupun bukan tanda siap.
Malam ini Wisnu tetap pulang ke Selo, meskipun terlambat ikut tahlilan. Tujuannya satu, menemui Lek Mardi.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja