Novel Durma Bagian 17

"Hayu nderek, Mbah! Ikut!" rengeknya.
Usapan lembut dirasakan Hayu. Rupanya Simbah Kakung ikut hadir. Tanpa kata, hanya sebuah senyuman yang menenangkan hati.
Keduanya piyayi sepuh itu segera berbalik dan perlahan meninggalkan Hayu.
"Hayu ikut, Mbah!" teriaknya sekali lagi.
"Ini kenapa sih tidak bisa digerakkan!" Hayu kesal sekali. Raganya seperti terpasung dengan bumi.
"Simbah! Tunggu Hayu!" Namun teriakan gadis itu tidak juga membuat keduanya menghentikan langkah. "Tunggu!"
Hayu menangis, terus menangis.
"Hayu takut! Takut sendirian!" jeritnya.
Langkah Simbah Putri terhenti. Beliau membalikkan badan dan tersenyum.
"Ada bapakmu, Nduk. Kamu tidak sendiri."
Kemudian Simbah Kakung menggenggam tangan istrinya. Mengajak untuk melangkah lagi. Meninggalkan cucunya yang hanya bisa memandang dengan tatapan kosong.
"Sadar to, Mbak. Kasihan Simbah!"
Ucapan itu samar terdengar di telinga Hayu. Bau minyak ppo dan rasa panas mulai dirasakan tubuhnya.
Mata itu mengejap. Lalu perlahan membuka. Dilihatnya beberapa wajah yang dia kenal. Ingatannya kembali pada kenyataan yang harus diterima.
"Mbok!" jerit Hayu.
Sinem memeluk tubuh juragan kecil itu. Hatinya pilu melihat duka yang menggelayuti Hayu.
"Sabar, Den. Kita belajar ikhlas. Juragan Broto sekarang sudah kepenak," hibur Sinem sambil terus mengusap kepala Hayu.
"Bapak mana, Mbok?" tanya Hayu sambil sesenggukan.
"Masih di rumah sakit," ucap Sinem. Hayu duduk sambil memeluk lututnya. Tangisnya semakin menjadi, saat tahu bapaknya di rumah sakit.
"Mbak Hayu ...." sapa Pak Carik lembut, "Sebaiknya prosesi pemakaman segera dimulai, nggih. Sudah sore."
Hayu mengangkat wajahnya dan mengangguk.
"Tidak menunggu Bapak pulang?" tanya Hayu. Pak Carik menggeleng lemah.
"Kondisi Bapak bagaimana, Pak?" tanya Hayu.
"Dibawa ke Solo sama ibunya Mbak Hayu," terang Pak Carik.
"Ibu?" ulang Hayu. Pak Carik mengangguk.
"Tadi padi beliau ke sini. Tidak lama, karena harus ke rumah sakit mencari kabar," sela Sinem.
"Monggo, Mbak. Persiapan untuk pemberangkatan jenazah," ucap Pak Carik.
Berpegangan pada Sinem, Hayu melangkah keluar pendopo. Sesekali terlihat tangannya menghapus air mata.
Pak Carik dan Pak Camat bergantian memberi sambutan untuk pelepasan jenazah, sedangkan Pak Modin bertugas memimpin doa.
"Mbak, brobosan, nggih," kata Pak Carik. Brobosan adalah sebuah prosesi penghormatan terakhir kepada orang yang telah meninggal dari sanak kekuarga. Dengan cara berjalan melewati celah di bawah peti jenazah yang dipanggul dan siap diberangkatkan menuju peristirahan terakhir.
"Ini terakhir untuk Simbah. Yang tabah," nasehat Pak Camat. Hayu hanya mengangguk lemah.
Tertatih gadis itu mendekati peti yang telah digotong ke halaman. Entah berapa puluh pasang mata yang ikut gerimis melihat langkah Hayu sendirian. Wisnu hanya bisa menunduk. Dia tidak sanggup melihat Hayu.
Dengan sedikit terhuyung, gadis itu mulai melakukan brobosan. Masuk dari sisi kanan, lalu ke depan, berputar searah jarum jam sebanyak tiga kali.
Setiap langkahnya, ada kenangan yang hendak dia simpan. Setiap putarannya, ada terima kasih yang ingin dihaturkan untuk dua orang yang keramat dalam hidupnya. Setiap helaan napasnya, ada duka yang tidak mampu terucap. Hanya deraian air mata yang deras mengalir.
"Simbah, sugeng tindak. Maaf, Hayu hanya mengantar sampai di sini saja." Setelah tugas usai ditunaikan, tubuh sang gadis rubuh lagi.
Segera kereta kencana dengan roda manusia itu berjalan tergesa. Awan sudah berkumpul di langit sebelah barat, sebentar lagi jingga menggantikan biru.
Sang Kembang Desa sedang layu, karena akar cintanya dicabut paksa.
"Mbak, ayo sadar to!"
"Jangan memberatkan Simbah."
Hayu enggan membuka matanya. Dia ingin bertemu orang yang dicintainya itu dalam gelap. Namun sosok yang ditunggu tidak datang juga. Entah berapa kali Hayu memanggil simbahnya. Entah berapa banyak air mata yang sudah ditumpahkan. Yang telah pergi tidak akan kembali.
"Mbak, jangan seperti ini. Kasihan Bapak. Ayo bangun!"
Bapak, rupanya kata itu manjur untuk membuat Hayu sadar. Gadis itu mengejapkan mata. Ada seberkas cahaya menyilaukan. Lampu pendopo begitu terang.
"Mbak," sapa Rahayu.
Hayu menangis saat melihat anak Lek Mardi itu.
"Nggak ada yang ngajari Mbak Hayu nari lagi sekarang," ratapnya diikuti tangis yang kembali pecah.
Rahayu menunduk, menyembunyikan tangisnya.
"Den, yang sabar," nasehat Sinem, "Semua pasti akan pulang. Hanya menunggu panggilan saja."
"Saya harus membantu persiapan selametan," jelas Sinem, "Den Hayu ditemani Rahayu, nggih."
"Mbok, Bapak di rumah sakit mana?" tanya Hayu.
"Saya tidak tahu, Den. Nunggu Pak Carik saja," ujar Sinem.
"Bapak kondisinya gimana, Mbok?" tanya Hayu lagi.
"Maaf, Den. Saya benar-benar tidak tahu!" tandas Sinem.
"Yu, sajennya diletakkan di mana?" bisik seorang perempuan. Sinem menengok, rupanya Warti, istrinya Lek Mardi.
"Sudah komplit?" tanya Sinem balik.
"Nasi, sayur, apem, dan kopi. Apa lagi?" tanya Warti.
"Makanan yang dibungkus daun sudah?" tanya Sinem.
"Oh iya, nagasarinya saja?"
Sinem mengangguk.
"Ditaruh di mana?" lanjut Warti.
"Dekat senthong saja," ujar Sinem.
Masyarakat di desa Hayu memang masih memegang erat tradisi. Sajen tadi digunakan sebagai simbol. Apem misalnya, jajanan itu bermakna sebagai payung, agar tidak panas di alam kubur.
"Untuk kendurinya, Yu?" Warti masih meminta petunjuk Sinem.
"Seperti biasa. Sego gurih, sego golong, apem. Jangan lupa ingkung," jelas Sinem.
"Mbak, saya ke belakang dulu, ya," ucapnya. Gadis itu mengangguk.
Hayu menyandarkan tubuh pada cagak di tengah pendopo. Netra memandang sekeliling. Rasa rindu seketika hadir. Sayang, kerinduan ini tidak ada penawarnya.
Walaupun rumah itu masih ramai, tetapi sepi perlahan datang menyapa hati Hayu. Dia tidak bisa membayangkan tinggal di Selo tanpa simbah. Entah seperti apa rumah besar ini nanti.
"Mbak, teh hangat. Diminum dulu," ucap Sinem. Hayu mengangguk tanpa ada keinginan menyentuh gelas tersebut.
Saat matahari telah tenggelam sempurna, Wisnu dan Pak Carik muncul. Baju mereka terlihat ada bekas tanah. Tangis Hayu pecah lagi.
"Mbak, makan dulu, ya," bujuk Sinem, "kalau Mbak Hayu sakit, Simbah pasti sedih juga."
Hayu menggeleng. Rasa lapar menghilang digantikan dengan kesedihan yang sulit dijabarkan.
"Mbak Hayu tidak boleh sakit. Kasihan Pak Lurah," sela Rahayu yang sedari tadi diam.
Hayu tersenyum pada gadis kecil anak Lek Mardi itu.
"Kamu sering main ke sini, ya!" pesan Hayu. " Ajak teman-teman. Biar Mbok Nem tidak kesepian."
"Mbok, tolong bilang Pak Carik, Hayu pingin ketemu," pintanya.
"Sepertinya Pak Carik pulang.Tadi habis dari sarean ke sini hanya ambil motor," ujar Sinem, "sebentar lagi pasti ke sini. Nanti saya matur Pak Carik, tetapi Mbak Hayu makan dulu, ya!"
"Hayu mau mandi dulu, Mbok," ucapnya.
Sinem mengangguk.
"Mbak Hayu mandi dulu ya, Yu," lanjut Hayu sambil memandang Rahayu. Gadis kecil itu mengangguk.
Hayu terhuyung. Beruntung Rahayu dan Sinem sigap. Kesedihan telah menyulap gadis yang biasanya trengginas itu berubah lunglai.
"Harus kuat! Harus kuat!" pesan Sinem.
"Berat, Mbok." Mata itu basah lagi.
"Mboten maido, Den," ujar Sinem lembut. Hayu beranjak ke kamar. Sejenak direbahkan tubuhnya di sana. Memejamkan mata, berharap Simbah datang memberi kekuatan untuk melangkah.
"Sabar. Seharusnya dari tarian kamu bisa belajar bersabar." Nasehat terakhir dari Simbah Putri. Kalimat itu agaknya mampu menggerakkan Hayu untuk berpikir lebih jernih. Mulai belajar nrimo.
Tetangga mulai berdatangan lagi. Akan ada tahlilan dan kenduri untuk memperingati geblaknya Juragan Broto. Geblak adalah sebuah proses perpindahan wadag kembali ke tanah. Dari tanah, menjadi tanah lagi. Selametan geblak diadakan setelah penguburan selesai.
Wajah Hayu terlihat lebih segar setelah mandi. Dia segera mencari Sinem.
"Mbok, Hayu ingin ketemu Pak Carik sama Mas Wisnu. Tolong, ya."
"Inggih, Den."
Hayu menunggu Pak Carik dan Wisnu di meja makan. Setelah dua orang laki-laki itu datang, dipersilakannya duduk.
"Pak Carik, bagaimana kejadian yang sebenarnya?" tanya Hayu.
"Yang saya tahu, Pak Lurah mengalami kecelakaan di Irung Petruk, Mbak," jelas Pak Carik.
"Juragan Broto memaksa ke Lempong, karena kangen Mbak Hayu," tambah Wisnu. Gadis itu tertunduk. Rupanya dia yang menyebabkan musibah ini terjadi. Hatinya perih.
"Keadaan Bapak bagaimana, Pak?" lanjut Hayu.
"Tadi dipindah ke Solo karena RSU tidak ada kamar. Bu Priyo yang menemani Pak Lurah."
Bu Priyo, kata yang tidak pernah Hayu dengar.
"Bapak parah?" desak Hayu.
Pak Carik menunduk, kemudian menggeleng.
Air mata Hayu menetes.
"Hayu pasrahkan rumah ke Pak Carik dulu, njih. Untuk biaya selametan dan semuanya," pesannya.
"Jangan khawatirkan itu, Mbak. Kami siap membantu," janji Pak Carik.
Begitulah kehidupan di desa. Tolong menolong masih mengakar kuat dalam keseharian hidup mereka.
Hayu beralih ke Wisnu.
"Hayu mau ngrepotin lagi, Mas."
"Tidak ada yang merasa direpotkan, Mbak," sanggah Wisnu.
"Tolong antar Hayu ke Solo," pintanya.
"Kapan?" tanya Wisnu.
"Sekarang," ucap Hayu.
"Nggak capek?" tanya Wisnu lagi.
"Mas Wisnu capek?" tanya Hayu balik.
Wisnu menggeleng. Sebenarnya capek, tetapi buat kamu apa yang tidak, bisiknya dalam hati.
"Hayu ingin segera tahu keadaan Bapak," ucapnya. Wisnu mengangguk, memahami apa yang dirasakan putri Priyo itu.
Gadis itu meninggalkan meja makan. Hendak ke kamar mengambil jaket dan sebuah kotak kecil.
"Rumah sakitnya di Jebres, Nu. Langsung ke ICU saja," ucap Pak Carik pada Wisnu.
Samar Hayu mendengar kalimat yang diucapkan Pak Carik. Hatinya mendadak tidak karuan.
Sudut matanya basah lagi.
Dingin perlahan menyusup ke tulang. Lereng Merapi yang biasanya ramah untuk Hayu, kini telah menorehkan kenangan duka.
"Kalau lelah, bersandar saja ke punggung saya, Mbak," pesan Wisnu. Hayu mengangguk, meskipun tidak akan melakukan itu.
Keduanya segera menyusuri jalan gelap dan berliku. Hayu mendekap dadanya dengan kedua tangan. Mencoba memberi kehangatan untuk hatinya yang sepi.
Butuh waktu satu jam untuk sampai di rumah sakit Jebres.
"Beruntung Den Priyo dibawa ke Solo," kata Wisnu.
"Kok bisa?"
"Setidaknya mempermudah Mbak Hayu tetap beraktivitas di kampus," ungkap Wisnu.
"Mas, besok bisa antar Hayu ke Coyudan?"
"Mau apa ke sana?"
"Jual perhiasan," jelasnya.
"Untuk?"
"Persiapan biaya Bapak." Gadis itu menunduk, menyembunyikan air mata yang mulai jatuh.
"Besok saya harus ke Semarang, Mbak. Ada sidang di sana." Wisnu menatap Hayu dengan pandangan yang nelangsa. Ada perasaan tidak tega menolak permintaan gadis itu. "Kalau hari berikutnya saja gimana? Nanti saya minta izin lagi."
"Oh, nggak usah kalau Mas Wisnu repot. Biar Hayu ditemani Dina saja."
"Maaf ya, Mbak," sesal Wisnu.
"Nggak masalah, Mas. Jangan khawatir."
Hayu dan Wisnu bergegas melangkah masuk ke rumah sakit.
"Pak, mau tanya ruang ICU," ucap Wisnu kepada petugas di bagian informasi.
"Ini lurus saja, Mas. Mentok, lalu belok ke kiri. Nanti ada tangga, naik saja," papar petugas, "ada papan petunjuknya."
"Terima kasih, Pak."
Rumah sakit itu masih ramai, meskipun jadwal berkunjung hampir habis.
Aroma khas mulai tercium, saat keduanya masuk lebih dalam. Meskipun malam itu dingin, tetapi telapak tangan Hayu basah. Perutnya sedikit melilit, ada nyeri di dada juga. Hayu tidak sanggup membayangkan kesakitan yang dirasakan bapaknya.
Satu per satu anak tangga dilalui dengan langkah yang berat.
Hayu tidak pernah membayangkan akan melihat pemandangan di depannya. Tempat ini cukup luas. Ada beberapa tiang penyangga. Dengan kursi panjang yang diletakkan sebagai pelengkap. Tikar digelar pada tempat yang kosong. Tampak beberapa orang memilih tiduran. Ada yang duduk berdiam diri. Sekelompok orang tampak berdiskusi serius, bahkan ada yang menangis. Suasana ini bisa jadi mewakili kondisi pasien di ruang ICU.
Manik mata Hayu bergerak lincah. Mencari sosok yang dia kenal. Matanya terpaku pada sosok yang menyendiri di pojok ruangan. Perempuan itu menyandarkan kepalanya ke dinding, dengan mata terpejam. Terlihat kuyu. Hayu hendak menghampiri, saat sebuah suara memanggilnya.
"Hayu!"
Rupanya suara Eyang putri. Gadis itu segera menghambur ke pelukan Bu Dipo. Dia tumpahkan lagi air mata di pundak kurus perempuan sepuh itu.
"Sabar ya, Cah Ayu. Simbah pasti sudah tenang." Bu Dipo membelai rambut cucunya yang sedang rapuh itu.
"Ayo ke ibumu. Dari pagi dia tidak mau makan," ajak Bu Dipo.
Wisnu hanya diam melihat pemandangan di depannya.
"Ranti," sapa Bu Dipo lembut. Miranti diam dan tetap memejamkan mata. Dia tahu, ibunya pasti menyuruh makan lagi.
"Hayu datang," ucap Bu Dipo lirih.
Sang putri sudah di berdiri di depannya, saat Miranti membuka mata. Hayu menunduk. Dua hati yang selama ini jauh, tiba-tiba merasa saling membutuhkan. Sayangnya mereka tidak tahu harus memulai dari mana.
"Bagaimana kondisi Bapak?" tanya Hayu kaku.
"Belum sadar. Ada pendarahan di kepala," jelas Miranti. Ingin rasanya memeluk anak gadisnya. Meminjamkan bahu untuk bersandar.
"Tindakan yang mau diambil?" lanjut Hayu.
Bu Dipo mendorong lembut tubuh cucunya, agar duduk di sebelah Miranti. Hayu tampak canggung berdekatan dengan ibunya.
"Operasi."
"Kamu diantar siapa, Nduk?" tanya Bu Dipo menyela obrolan yang masih kaku itu.
"Oh iya. Ini Mas Wisnu, Yang," jawab Hayu sambil mengenalkan laki-laki yang sedari tadi berdiam diri.
"Ini yang anak rewang!"
(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja