Novel Durma Bagian 13

"Hayu!"
Panggilan dan ketukan pintu terdengar bersamaan.
"Masuk, Na!" sahut Hayu. Dina yang sudah dipersilakan masuk, membuka pintu kamar sahabatnya.
Tampak Hayu sedang menyisir rambut yang sudah bertambah panjang. Hampir tiga tahun, dia tidak pernah memotongnya.
"Nggak pingin potong rambut, Yu?" tanya Dina. "Kalau tempat KKN airnya tidak bagus, bahaya buat rambut indahmu!"
"Eh iya, kamu dapat lokasi di mana, Yu?" tanya Dina.
"Lempong, Jenawi, Karanganyar," jawab Hayu yang masih sibuk mengikat mahkotanya itu.
"Kamu?" Hayu balik bertanya.
"Karang Tengah, Wonogiri," jelas Dina. "Kita bakal jauhan."
"Dua bulan!" Hayu membuat isyarat dua dengan jarinya. "Mana tahan!"
Keduanya tertawa. Persahabat yang terjalin tiga tahun seperti baru kemarin saja. Waktu berlalu begitu saja, tanpa pernah mau berhenti sejenak. Terkadang hanya meninggalkan kenangan untuk dipeluk.
"Bakalan kangen, Na!"
"Kangen siapa, nih?" goda Dina.
"Ya kamu to, Cah Ayu!" balas Hayu sambil menowel pipi sahabatnya.
"Kirain ...."
"Kiraian siapa?" potong Hayu.
"Butuh diperjelas?" goda Dina lagi.
"Halaaaah!" elak Hayu.
"Ngajuin judul dulu sebelum berangkat, Na. Balik KKN langsung bisa ngerjain proposal." Hayu mengalihkan pembicaraan.
"Enak kamu ya, Yu. Berangkat KKN sudah selesai seminar proposal," ucap Dina.
"Makanya, jangan main saja!" ejek Hayu. "Rajin dong kayak Hayu.
"Telat nasehatmu!" balas Dina.
"Baru ingat, apa kabar Mas Wisnu, Yu?" tanya Dina "kayaknya lama nggak main ke sini."
"Kemarin ke sini," kata Hayu, "jarang pulang ke Selo juga. Sudah kerja di kantor pengacara."
"Wow, semakin menawan saja pastinya!" seru Dina.
"Nggak tahu juga, ya!" Jelas Hayu baru berpura-pura, mungkin untuk menutupi hatinya yang tiba-tiba berdesir.
" Masak?" goda Dina "Aku kira kalian berdua itu ada hubungan khusus lho."
"Kok bisa?" Hayu duduk di pembaringannya sambil memeluk guling.
"Nggak ada cowok yang bisa deketin kamu!" tandas Dina. "Berapa yang sudah jadi korbanmu? Jawab!"
"Haiiiiis!"
"Satu-satunya laki-laki yang ada di sampingmu ya hanya Mas Wisnu," ujar Dina, "jadi penasaran sama isi hatimu, Yu!"
"Belah saja dada Hayu!" godanya sambil membentangkan tangannya lebar-lebar.
"Kamu mati!" ejek Dina. "Aku masuk penjara! Dan, nggak dapat jawaban juga!"
Keduanya tertawa.
"Oh iya lupa. Nanti malam ikut ya, Na. Ada festival tari di Sriwedari," ajak Hayu.
"Berdua saja atau ada orang lain?" goda Dina lagi.
"Sama Mas Wisnu." Hayu mengambil tiga tiket di meja dan menunjukkan. "Dibeliin sama dia."
"Nah! Ini juga jadi pertanyaanku. Kapan sih kamu jalan berdua saja? Kenapa aku harus selalu ikut?"
"Kamu keberatan?Takut jadi setan, ya?" goda Hayu.
Pecahlah tawa Dina.
"Meskipun bertiga, kamu nggak pernah jadi nyamuk, kan? Malah kadang Hayu dianggap angin lalu!" keluh Hayu.
"Ya udah! Pergi berdua saja kalau gitu!" Dina mengerlingkan matanya.
"Nggak, ah!" elak Hayu.
"Kamu takut jatuh hati sama Mas Wisnu?" goda Dina.
"Aiiissh!" Cubitan kecil mendarat di lengan Dina.
"Aduuuuh! Sakit, Yu!" Dina memegangi lengannya.
"Pantas cowok-cowok pada ditolak semua. Rupanya ada yang memendam rasa!" Dina semakin semangat menggoda Hayu.
"Ngasal!" Wajah Hayu memerah. Hangat yang menjalari hatinya, keluar menjadi warna kemerahan di pipi. Sang kembang desa malu-malu.
"Ya sudah. Aku nggak godain lagi!" janji Dina. "Nanti saja kalau ada Mas Wisnu dilanjutin!"
"Dinaaaa!" Hayu semakin salah tingkah. Bahasa tubuhnya tidak bisa membohongi sahabatnya lagi. Dina segera melarikan diri dari kamar sahabatnya, sebelum tubuhnya harus menerima cubitan lagi.
Senja menyapa Gendingan, saat Mercy Tiger warna biru berhenti di depan indekos Hayu.
"Mbak Hayu, ada tamu!"
Gadis manis yang terlihat semakin dewasa itu bergegas keluar kamar.
"Lho, Eyang kok ke sini?" Hayu segera mengulurkan tangan, menjabat tangan Pak Dipo dan menciumnya.
"Tadi nengok teman di Muwardi. Sekalian saja mampir ke sini," jawab Pak Dipo, "Hayu sudah lama tidak ke Laweyan juga."
"Nyuwun pangapunten, Yang." Hayu menundukkan kepalanya sejenak, sebagai tanda permintaan maaf. "Hayu mulai sibuk menyiapkan penelitian."
"Yo wis, ra po po, Nduk!" ucap Pak Dipo. "Hayu kok sudah rapi, mau ke mana?"
"Sriwedari, lihat festival tari. Ini sedang menunggu teman," jelas Hayu.
Baru saja Hayu selesai bicara, ada sepeda motor yang berhenti di depan indekos.
"Itu temanmu?" tanya Pak Dipo. Sesesaat pria sepuh itu melempar pandangan ke arah sepeda motor tersebut. Hayu mengangguk.
Laki-laki dengan pandangan mata teduh, yang tidak pernah ketinggalan memakai topi itu melempar senyum.
"Ini Eyangnya Hayu, Mas," ucap Hayu.
"Nderek tepang, dalem Wisnu, Pak." Layaknya seorang yang sedang bertemu keluarga gadisnya, Wisnu mememperkenalkan diri dengan bahasa Jawa halus.
"Satu fakultas?" tanya Pak Dipo.
"Tidak, Pak," jawab Wisnu sambil tersenyum, "saya fakultas hukum."
"Ooh. Mau jadi hakim?" canda Pak Dipo. Lagi-lagi Wisnu tersenyum.
"Pengacara, Yang," sahut Hayu tersenyum sambil melirik Wisnu. Ada rasa bangga saat mengucapkan kalimat itu.
"Sudah lulus?" tanya Pak Dipo.
"Sampun, Pak." Hati Wisnu bungah, rasa bahagia menyeruak. Saat mendengar gadis pujaan hatinya itu menjelaskan apa pekerjaannya.
"Kalau ada lowongan hakim, dicoba saja. Masa depan akan lebih terjamin!" saran Pak Dipo.
Wisnu mengangguk.
"Kalian mau naik apa ke Sriwedari?" tanya Pak Dipo, "motor?"
"Bus," jawab Hayu, "kami bertiga, kok."
Wisnu mengiyakan ucapan cucu Pak Dipo itu dengan anggukan. Dia sudah hapal kebiasaan Hayu yang tidak mau pergi berdua. Tentunya selain pulang ke Selo, itu pun sudah lama tidak mereka lakukan.
"Satunya?" tanya Pak Dipo.
"Sebentar, Hayu panggil dulu." Gadis itu segera masuk dan memanggil Dina.
"Na. Ayo!" panggil Hayu.
"Ya, sebentar!" sahut Dina.
Sesaat kemudian muncullah gadis cantik lainnya.
"Ini sahabat Hayu, Yang. Dina namanya." Dina mengulurkan tangannya dan mengangguk penuh hormat.
"Bareng Eyang saja. Nanti pulangnya biar diantar Pak Man!" usul Pak Dipo.
"Pulangnya kami naik bus saja, Yang," ucap Hayu lembut.
"Yo wis sak karepmu, Nduk," sahut Pak Dipo.
Perlahan mobil itu meninggalkan Gendingan, berjalan ke arah Stasiun Balapan.
"Mau makan sate ayam di proliman dulu?" Pak Dipo menawari Hayu dan teman-temannya untuk makan terlebih dahulu.
"Mau?" Hayu bertanya pada Dina dan Wisnu. Keduanya menggeleng.
"Terima kasih, Yang. Tadi sudah makan," tolak Dina.
Mobil itu lanjut menyusuri jalan menuju Pasar Nongko, melintas rel kereta api. Kemudian Manahan, selanjutnya perempatan Gendengan belok ke kiri.
Sebelum sampai ke Taman Hiburan Sriwedari, maka rombongan Hayu melewati salah satu tempat yang menjadi kebanggan warga Solo. Tempat digelarnya Pekan Olah Raga Nasional pertama kali pada tanggal 9 September 1946. Tempat itu adalah stadion Sriwedari.
"Eyang nggak ikut lihat dulu?" tanya Hayu setelah sampai di tempat tujuan.
"Masih bisa beli tiket?" tanya Pak Dipo.
"Masih, Pak," jawab Wisnu, "biar saya carikan dulu. Bapak langsung masuk saja dengan tiket yang sudah ada."
"Ini uangnya!" Pak Dipo menyerahkan uang pada Wisnu untuk membeli tiket.
"Tidak usah, Pak!" tolak Wisnu. "Saya masih ada."
Pak Dipo mengangguk, kemudian mengikuti langkah Hayu menuju pendopo, yang terletak di depan pintu masuk.
Hayu segera mencari tempat duduk, kemudian tenggelam menikmati sajian tarian. Gending yang mengalun seperti candu bagi Hayu. Tubuhnya selalu ingin bergerak jika mendengar alunan gamelan. Gerakan para penari yang luwes, membuat mata gadis itu enggan berkedip. Keindahan budaya tradisional itu mampu menghipnotis seluruh panca indra Hayu.
"Harusnya kamu ikut, Yu," bisik Dina. Hayu tersenyum, tanpa menoleh pada Dina.
Pak Dipo yang duduk di sebelah Hayu, lebih tertarik untuk mengenal Wisnu.
"Siapa tadi namamu?" Pak Dipo.
"Wisnu, Pak," jawabnya sambil tersenyum.
"Rumahmu di mana?"
"Selo, Pak."
"Oh, satu desa sama Hayu?"
Wisnu mengangguk, kemudian berkata, "Satu rumah juga, Pak."
"Maksudnya?" terlihat garis kerutan di dahi Pak Dipo bertambah
"Ibu saya bekerja di rumah Den Priyo." Wisnu membuka jati dirinya di depan eyangnya Hayu.
"Teges e pie?" Pak Dipo meminta penjelasan yang gamblang atas jawaban Wisnu.
"Simbok saya bekerja sebagai rewang, Pak. Saya kuliah pun atas kebaikan hati Den Priyo," jelas Wisnu tanpa tedeng aling-aling. Tidak perlu ada yang ditutupi.
Pak Dipo manggut-manggut, lalu sedikit menggeser duduknya. Menjauh dari Wisnu.
"Hayu, Eyang pulang dulu," ucap Pak Dipo diantara gending yang sedang mengalun.
"Apa, Yang?" Agaknya fokus Hayu benar-benar pada tarian yang disajikan.
"Eyang pulang!" seru Pak Dipo.
"Ooh. Iya, iya," balas Hayu.
Pak Dipo beringsut dari duduknya. Hayu segera mencium tangan Eyang Kakung. Sayangnya laki-laki sepuh itu berlalu begitu saja tanpa menoleh sedikit pun pada Wisnu.
Cles, sayatan pertama sudah digoreskan. Dan itu sakit. Hanya seringai yang mampu Wisnu persembahkan untuk hatinya. Mulo ojo ngimpi! Ejek satu bagian dari dirinya.
Hayu kembali menikmati sajian tarian. Gadis itu tidak tahu, jika satu hati di sebelahnya sedang mengalunkan tembang duka.
"Jangan lebih dari pukul 21.00! Nanti busnya sulit," ucap Wisnu mengingatkan Hayu. Sesungguhnya ucapan yang keluar, karena hati sudah tidak bisa menikmati suasana malam itu.
"Apa, Mas?" tanya Hayu.
"Lihat jam!" Wisnu memberi isyarat agar Hayu menengok jam tangannya. Gadis itu mengangguk.
"Pulang sekarang?"
"Yuk! Takut nggak dapat kendaraan!" ajak Wisnu.
Ketiganya segera meninggalkan pendopo tempat festival berlangsung, meskipun acara belum selesai.
"Mas, kok lama nggak main ke Gendingan." Dina membuka obrolan sambil menunggu bus.
"Maklum buruh, Na!" jawab Wisnu.
"Buruh apaan? Pengacara muda dengan masa depan cerah, gitu!" balas Dina.
"Cerah apa to, Na? Buruh itu artinya ikut orang," jelas Wisnu.
"Namanya juga baru lulus kuliah. Wajarlah ikut orang dulu," ujar Dina, "cari pengalaman."
"Dari kecil sudah ikut orang, Na!" tegas Wisnu. "Soalnya anak rewang!"
Kalimat Wisnu yang terakhir tenggelam oleh suara kendaraan yang lewat. Meskipun samar, Hayu masih bisa mendengar apa yang diucapkan Wisnu.
"Mas Wisnu ngomong apa? Kayak gitu dibahas!" Hayu menunjukkan wajah tidak suka.
"Memang Mas Wisnu ngomong apa, Yu?"
"Nggak ngomong apa-apa!" jawab Hayu singkat.
Suasana mendadak terasa dingin. Hayu dan Wisnu saling diam.
"Kalau orang pacaran bertengkar, yang jadi korban orang ketiga," celetuk Dina, "kesepian!"
Sebuah cubitan mampir lagi di lengan Dina.
"Kalau melakukan kekerasan terhadap teman melanggar pasal berapa, Mas?" Dina meringis, kali ini cubitan Hayu benar-benar sakit. "Mesti visum dulu ini!"
Wisnu tertawa, Hayu tetap memasang muka sebalnya.
"Memang siapa yang pacaran? Mana ada yang mau!" seloroh Wisnu.
Hayu menunduk. Menyembunyikan merah di wajahnya. Pipi pun ikut-ikutan menghangat.
"Mas, ada yang malu ini!" Dina sepertinya belum puas mengerjai Hayu.
"Busnya kok lama, ya?" Wisnu mencoba mengalihkan pembicaraan. Dia tidak ingin besar hati menanggapi gurauan Dina.
"Masih kalah lama dengan penantian satu hati, kok!" sindir Dina.
"Maksudnya?" Akhirnya Wisnu terpancing juga menanggapi guyonan Dina.
"Aku tidak punya maksud apa-apa, Tuan!" lagi-lagi Dina melempar candaan. Gadis itu sebenarnya masih ingin menggoda Hayu, tetapi dilihatnya sang sahabat sudah memasang muka marah.
Akhirnya yang ditunggu pun datang. Bus kota membawa mereka kembali ke Gendingan. Tidak ada lagi suara renyah seperti tadi. Diam, hanya itu yang terdengar oleh sunyi.
Indekos Kinanti sudah di depan mata. Sesudah basa basi sebentar dengan Wisnu, Dina segera masuk.
"Minggu depan Hayu mulai KKN, Mas." Akhirnya suara Hayu terdengar lagi.
"Lokasinya di mana, Mbak?" tanya Wisnu.
"Lempong, Karanganyar," jawab Hayu.
"Kecamatan?"
"Duh mana ya, kok lupa," jawabnya singkat.
"Ada yang perlu dibantu sebelum berangkat?"
"Kayaknya enggak. Nanti sama teman-teman satu kelompok saja, kalau harus mencari kebutuhan," ujar Hayu.
"Semoga ada kesempatan nengok ke sana," harap Wisnu, "Dina dapat di mana?"
"Wonogiri."
"Wah bakal jauhan dong. Pasti kangen!" goda Wisnu.
Kalau kamu, Mas? Tanya Hayu dalam hati.
"Kok senyum-senyum sendiri?" tanya Wisnu.
"Eh-oh enggak." Tiba-tiba Hayu gugup. Untung ada nyamuk yang singgah di tangannya. Dia tepuk keras-keras. Bukan untuk mematikan binatang penghisap darah itu, tetapi untuk mengembalikan kewarasan hatinya.
"Hayu nggak sempat pulang ke Selo," ucapnya setelah bisa menguasai hatinya, "tolong pamitkan Bapak ya, Mas."
"Hayu sudah bilang mau KKN, hanya minggu ini sepertinya tidak bisa pulang," jelas Hayu.
"Baik, Mbak. Ada lagi?"
"Tidak. Itu saja."
"Jaga diri baik-baik. Di tempat yang baru harus bisa membaur dengan masyarakat," pesan Wisnu, "gesekan dengan teman pasti ada, tapi jangan dimasukkan hati. Santai saja."
"Dua bulan bisa belajar bagaimana mengabdi ke masyarakat!"
"Baik, Senior!" Akhirnya tawa keduanya pun terdengar.
Jaga juga hatimu, Hayu. Beri saya waktu lagi untuk berjuang agar layak di mata keluargamu, harap Wisnu dalam hati.
Malam itu angin berembus pelan. Mengalirkan kesejukan pada dua insan yang sebentar lagi akan berjauhan.
Malam telah menjalankan tugasnya dengan baik. Sebentar lagi dia akan menghilang. Hal ini ditandai dengan embun yang perlahan meninggalkan rumput.
"Bu, Ranti ke mana?" tanya Pak Dipo yang sedang menikmati pagi, ditemani teh ginastel kesukaannya. Teh dengan rasa manis, panas dan tentunya pekat. Meminumnya dengan cara diseruput perlahan.
"Belum kelihatan, Pak." Bu Dipo masih terlihat sibuk membuka bungkusan yang dibawanya dari luar.
"Apa itu, Bu?"
"Kue moho dan rangin. Kerso?"
"Yo mau to, Bu!" jawab Pak Dipo semringah.
Baru segigit Pak Dipo menikmati rangin, Miranti muncul.
"Dari mana, Nduk?" tanya Bu Dipo.
"Nyari lenjongan, Bu," jawab Miranti. Diserahkannya tiga bungkusan kepada ibunya. Bu Dipo segera membuka bungkusan itu. Meskipun kecil, tetapi satu bungkus lenjongan beragam isinya. Kelepon, ketan hitam, ketan putih, gatot, lopis, gethuk, dan cenil. Lalu ditaburinya dengan kelapa muda yang diparut, terakhir disiram juruh atau cairan gula jawa.
"Kemarin sore Bapak ke tempatnya Hayu, Nduk," kata Pak Dipo.
"Sama siapa, Pak?" tanya Bu Dipo.
"Pak Man. Dari Muwardi kemarin itu, Bu," jelas Pak Dipo sambil menikmati lenjongan.
"Hayu baik-baik saja, Pak?" tanya Bu Dipo lagi. Miranti hanya diam. Dia menyimak pembicaraan orang tuanya, sambil menikmati jajanan yang terhidang.
Pak Dipo mengangguk.
"Hayu sehat. Kemarin Bapak antar ke Sriwedari, nonton festival tari." Pak Dipo kembali menyeruput teh kesukaannya.
"Nduk, sepertinya Hayu sudah punya gandengan," ungkap Pak Dipo.
"Bapak ada-ada saja! Mosok putu padakne truk!" canda Bu Dipo.
"Serius, Bu! Mata tuaku tidak bisa dibohongi!" tegas Pak Dipo.
"Gandeng karo anak rewang e Priyo!"
Miranti tersedak.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja