Novel Durma Bagian 16

"Besok kamu harus tetap ke Semarang, Nu! Sidangnya tidak bisa digantikan orang lain!" pesan Pak Hendra. Beliau adalah pemilik
Hendra Law Firm, tempat Wisnu bekerja.
"Baik, Pak. Terima kasih . Saya mohon izin dulu," ucap Wisnu penuh hormat.
"Hati-hati. Semoga semua baik-baik saja," harap Pak Hendra.
Tidak butuh waktu lama. Wisnu dengan motornya sudah meliuk-liuk di antara bus dan truk yang memadati jalan. Tujuannya hanya satu. Secepatnya sampai di Lempong dan membawa Hayu pulang ke Selo, saat matahari tepat di atas kepala, itu janji yang diberikan kepada Pak Bayan.
Bayangan Juragan Broto kakung dan putri bergantian datang di benak Wisnu. Satu per satu kenangan hadir seperti kepingan puzzle. Telepon dari Pak Bayan tidak menjelaskan kondisi kedua juragannya itu. Wisnu hanya menerka, bahwa keadaannya sangat tidak baik.
Tikungan terakhir menuju Lempong sudah terlihat. Lapangan sebagai penanda memasuki wilayah desa sudah ada di depan mata. Suara berdecit terdengar jelas, saat laki-laki itu membelokkan motornya menuju rumah Pak Suhadi.
Sepi
Rumah itu seakan tidak berpenghuni. Pintu dan jendela tertutup rapat. Ketukan dan panggilan Wisnu tidak ada jawaban. Dilangkahkan kakinya menuju samping rumah. Pintunya tertutup juga. Menjelang siang, suasana di sekitar rumah Pak Suhadi lengang. Wisnu bergegas kembali ke depan, niatnya hendak mencari ke balai desa.
"Nyari siapa, Mas?" sapa seorang lelaki memakai jas almatater berwarna biru muda.
"Saya Wisnu, mencari Hayu," jawabnya, "Ada kabar yang harus segera disampaikan."
"Saya Teguh. Kordes di sini, Mas." Teguh mengulurkan tangannya mengajak Wisnu berjabatan.
"Kebetulan." Wisnu duduk tanpa dipersilakan.
"Eh-maaf, silakan, Mas," ucap Teguh sambil menyusul duduk.
"Simbahnya Hayu dapat musibah. Saya disuruh jemput." Wisnu menatap wajah Teguh. "Bisakah Hayu pulang lebih dahulu, Mas?"
"Bisa, Mas. Biar nanti saya yang bertanggung jawab," jawab Teguh penuh pengertian.
"Sekarang Hayu masih di balai desa. Persiapan untuk malam perpisahan," lanjut Teguh.
"Bisakah saya diantar ke sana?" tanya Wisnu.
"Biar Hayu ke sini saja, Mas," usul Teguh, "toh balai desanya hanya tiga rumah dari sini."
"Oh gitu. Baik, saya manut saja. Tolong secepatnya ya, Mas!" pinta Wisnu.
Teguh mengangguk dan segera berlalu. Sepeninggal teman KKN Hayu itu, Wisnu termenung. Pikirannya mengembara ke Selo. Dia tidak berani membayangkan hal buruk menimpa orang-orang yang telah banyak berjasa buat dirinya.
"Mas Wisnu ngapain ke sini?" tanya Hayu yang tiba-tiba sudah berdiri di dekat Wisnu. "Besok kan sudah pulang."
"Duduk dulu, Yu," pinta Teguh.
Hayu melihat kordesnya sekilas, lalu duduk di samping Wisnu. Teguh memilih berdiri, bersandar pada tiang teras.
Sekarang Hayu menatap Wisnu dengan pandangan menyelidik.
"Ada apa?" tanya Hayu curiga. Sebenarnya sejak tadi pagi hatinya gelisah. Namun tidak tahu apa penyebabnya.
"Juraga ... eh Simbah jatuh," ucap Wisnu lirih.
"Jatuh di mana? Keadaannya? Parahkah?" Gadis itu mencecar Wisnu dengan pertanyaan. Telapak tangannya mulai basah, pertanda rasa cemas datang.
"Kurang tahu. Informasi Pak Bayan tidak lengkap," tutur Wisnu.
"Kok Pak Bayan? Kenapa bukan Bapak yang ngabari Mas Wisnu? Ada apa sebenarnya? Jelaskan, Mas!" desak Hayu. Pandangan matanya tajam menatap Wisnu.
"Bisa jadi Bapak sedang mengurus Simbah!" Wisnu mencoba memberi alasan.
"Sebaiknya kamu segera ikut Mas Wisnu pulang, Yu," sela Teguh.
"Tadi saya sudah memintakan izin untuk pulang duluan," ujar Wisnu.
"Simbah parahkah, Mas?" Gadis itu menatap mata Wisnu, berusaha mencari jawaban atas pertanyaannya.
"Semakin banyak kamu bertanya, waktumu semakin terbuang!" tandas Teguh. "Buruan pulang. Barang-barangmu biar kami bawa."
Hayu tidak membantah perintah Teguh. Segera diambilnya jaket dan tas punggung. Walaupun banyak tanya dalam benaknya, tetapi semua itu haruslah ditahan.
Tidak menunggu lama, keduanya sudah duduk di atas motor. Lagi-lagi kendaraan itu dipacu secepat mungkin. Sesungguhnya Hayu ingin berteriak. Dia takut dengan cara Wisnu mengendarai motor. Tangan gadis itu mencari-cari pegangan. Sedapatnya dia cengkeram, kecuali tubuh sang pengendara. Hayu sungkan.
Hampir masuk Solo dan kedua tangan Hayu mulai kesemutan. Wisnu tidak juga mengurangi kecepatan motornya.
"Maaf, Mas," ucapnya lirih sambil memegang bagian belakang jaket Wisnu. Sejujurnya Hayu sungkan, tetapi apa daya. Tangannya tidak kuat lagi. Seandainya dia tidak malu, ingin rasanya sejenak bersandar di punggung Wisnu untuk mengurangi gelisah.
Wisnu merasakan ada gerakan tangan yang menyentuh punggungnya.
"Kenapa? Capek?" seru Wisnu.
Hayu menggeleng.
"Tidak!" jawab Hayu.
Wisnu mempercepat laju motor, akibatnya tangan Hayu semakin kuat mencengkeram jaketnya.
Di Lereng Merapi, raungan sirine ambulan berhenti di rumah Juragan Broto. Isak tangis warga menyambut kedatangan dua jenazah itu.
Pendopo sudah bersiap menunggu kedatangan tuan rumah. Dua buah dipan yang diberi alas jarik diletakkan tepat di tengah ruangan. Pada keempat kaki dipan tersebut diberi wadah yang berisi air. Lampu teplok tidak ketinggalan ikut melengkapi penyambutan kedua jenazah tersebut. Ruangan ini pun sudah digelari tikar, untuk tempat duduk para pelayat
Jasad suami istri itu dibaringkan dengan kepala di sebelah utara. Kemudian ditutup jarik.
"Deeen!" teriakan Sinem pecah saat melihat jasad dua orang yang sangat dihormatinya. Baru tadi pagi mereka pamit untuk bertemu cucunya, sekarang pulang dalam keadaan tidak bernyawa. Benarlah bahwa yang selalu setia mengikuti manusia adalah kematian. Meskipun kapan hadirnya, tidak pernah dinyana.
Beberapa orang terlihat sibuk untuk menyiapkan proses pensucian jenazah. Pak Carik mewakil keluarga memberikan arahan agar semua berjalan lancar.
"Yang bedah bumi gimana?" tanyanya pada Lek Mardi.
"Sampun, Pak. Sudah dikerjakan," jawab Lek Mardi.
"Pak Modin, tolong segera dimulai saja!" perintah Pak Carik.
Pak Modin mengangguk.
"Pak Broto disucikan di sebelah barat rumah. Bu Broto di longkangan saja, yang lebih tertutup," terang Pak Modin.
Longkangan adalah tempat terbuka di dalam rumah, yang memisahkan antara rumah induk dengan bagian lainnya.
Selain itu Pak Modin juga memberi tugas pada beberapa orang untuk menyiapkan ubo rampe memandikan jenazah, mengurus kain mori dan perlengkapan untuk pemberangkatan jenazah.
"Yu, jarik!" pinta Lek Mardi pada Sinem. "Selak dienggo ngadusi!"
"Iyo!" Sinem tergopoh-gopoh masuk ke kamar juragannya.
"Kulo nuwun, Den. Mau ambil jarik," kelu lidah Sinem untuk berkata. Segera diambilnya setumpuk jarik yang akan dipakai untuk pelindung saat jenazah dimandikan.
Ubo rampe untuk memandikan jenazah sudah siap. Empat belas gentong berisi air dan daun dadap, masing-masing tujuh untuk tiap jenazah. Sabun yang dipotong kecil-kecil dan merang untuk membersihkan kuku. Tidak lupa kapur barus.
Sesungguhnya kematian adalah perjalanan pulang untuk menghadap Sang Penguasa Jagad, oleh karena itu haruslah dalam keadaan bersih. Demikian yang menjadi keyakinan mereka.
"Debog e endi?" tanya Pak Carik.
"Meniko, Pak!" tunjuk Lek Mardi. Debog berjumlah tujuh itu dipakai sebagai alas saat memandikan jenazah.
Proses memandikan jenazah segera dilakukan. Beberapa orang bersiap membentuk lingkaran sambil membentangkan jarik sebagai penutup.
Pak Modin menyiramkan air merata ke tubuh Juragan Broto. Kemudian perlahan mulai dibersihkan dengan sabun. Selanjutkan dibilas dengan air suci dari sumur yang telah diberi daun dadap. Tidak ketinggalan merang untuk membersihkan kuku-kuku. Jasad itu terus diguyur, hingga air tujuh gentong habis.
Hal yang sama juga dilakukan untuk Juragan Broto Putri.
"Ojo nangis, Yu! Nanti luhmu jatuh kena mayit, blais!" tegur salah seorang tetangga, saat melihat Sinem yang masih terus menangis sembari ngrumat tubuh juragannya.
Kedua tubuh itu dibawa kembali ke pendopo untuk dibungkus dengan kain mori.
Lampu teplok dinyalakan. Dupa dibakar.
Pindho pelu ing dupo njejel gondo arum ing akoso.
Aroma dupa menguar. Menjadi simbol agar doa dari dari keluarga diterima oleh Sang Pemilik Hidup. Juga menjadi harap agar roh yang meninggal tidak tertolak.
Di sudut teras tampak beberapa perlengkapan untuk pemakaman telah siap. Payung kertas, kelapa hijau muda, kendi, sapu, kembang dan sawur. Semua barang-barang itu mempunyai maksud tertentu.
Sapu dipakai untuk membersihkan jalan yang dilewati jenazah. Ini dimaksudkan agar jenazah mendapat jalan yang mudah, tidak ada halangan saat hendak bertemu Sang Pencipta. Sawur, berisikan beras berwarna kuning, bunga dan uang. Sebagai pertanda sedekah dari yang meninggal. Kembang pun mempunyai makna yang tidak kalah penting. Karena menjadi simbol pemikiran dan kebaikan dari mayit yang bisa diteladani. Kendi berisikan air yang menunjukkan kesucian, sedangkan payung mempunyai makna sebagai penghormatan bagi jenazah.
Tubuh suami istri itu perlahan dimasukkan ke dalam terbelo. Di atasnya diletakkan roncean kembang. Jumlah empat untuk peti Juragan Broto Putri dan lima untuk sang suami.
Tidak lupa kapur barus ditebar. Menghindari datangnya aroma yang kurang sedap. Juga sebagai simbol, bahwa menghadap Sang Pemilik Hidup haruslah dalam keadaan yang wangi dan bersih.
Wisnu tidak bisa menepati janji untuk membawa Hayu sampai Selo tengah hari.
"Pripun niki, Pak Camat?" tanya Pak Carik.
"Kita tunggu. Bagaimana pun juga cucu Pak Broto harus bertemu dengan simbahnya," tutur Pak Camat.
Matahari perlahan bergerak ke barat. Tratag telah terpasang di halaman rumah Juragan Broto. Kursi-kursi pun mulai dipenuhi pelayat.
Sinem duduk sambil menangis tersedan. Tubuh rewang itu bersandar pada cagak yang ada di pendopo.
"Mengapa Juragan harus memaksa pergi? Kenapa tidak sabar? Seandainya tidak pergi, seandainya mau bersabar menunggu Mbak Hayu pulang, pasti semua masih baik-baik saja," ratap Sinem.
Pendopo sudah dipenuhi dengan para pelayat yang duduk lesehan. Duka benar-benar menggelayuti hati mereka. Wajah-wajah itu tertunduk, mungkin sedang mengenang budi Juragan Broto. Sesekali terdengar percakapan di antara mereka.
"Mesakne Mbak Hayu."
"Gek Pak Lurah ora perso wong tuane sedo."
"Oalah, lelakone urip."
Tangan Wisnu sudah mulai kebas, saat motornya memasuki Selo.
"Mas Wisnu bohong!" teriak Hayu. Mata gadis itu menangkap bendera merah saat masuk ke desanya.
Gemetar
Wisnu pun tidak kalah terkejut. Sekelebat matanya menangkap warna merah yang terbuat dari kertas minyak terpasang di jalan masuk desa.
"Apa yang terjadi?" desak Hayu. Wisnu menggeleng. Laki-laki itu memang tidak tahu pasti apa yang telah terjadi.
Kedatangan Wisnu dan Hayu menjadi pusat perhatian.
Hayu turun dari motor diikuti Wisnu. Gadis itu segera berlari. Pandangannya buram. Genangan air mata menumpuk dan berebut untuk jatuh. Ada yang telah pergi meninggalkan dirinya, tetapi siapa tanya dalam hati. Pak Camat menyambut gadis itu. Menuntunnya ke pendopo.
Sunyi
Tidak ada pelukan hangat dari Simbah Putri yang selalu menyambut kedatangannya. Kali ini hanya dua peti mati yang menunggunya.
"Yang sabar ya. Simbah orang baik," hibur Pak Camat.
Tidak ada jeritan dari mulut gadis itu. Hayu menggigit bibirnya. Ini bukan mimpi. Tubuh itu terlalu lemah untuk berjalan sendiri. Sambil dipapah Pak Camat, Hayu mendekati jasad simbahnya. Sementara Wisnu berjalan di belakang mereka.
Saat peti itu dibuka,
Raga Hayu rubuh. Tidak sanggup menanggung duka yang datang bagai air bah. Kehilangan yang teramat berat. Gadis itu memilih untuk bersembunyi dalam gelap. Dia ingin menyingkir dari kenyataan yang ada di depannya.
Wisnu sigap menangkap tubuh gadis yang sedang berduka itu. Segera membopong dan membaringkan di dekat simboknya.
"Den Hayu, bangun!" ucap Sinem sambil sesenggukan. Beberapa warga mencoba membuat Hayu sadar. Ada yang memijit kakinya, mengoleskan ppo, bahkan sekedar memanggil-manggil nama Hayu.
"Mbak Hayu, sadar, Mbak!"
"Sabar, Mbak. Sabar."
"Bangun, Mbak. Kasihan Simbah."
Wisnu mengusap matanya yang basah. Dia pun merasakan kehilangan yang sangat. Batinnya tidak tega melihat Hayu. Ingin dipeluknya gadis itu, agar bisa saling berbagi kesedihan. Namun waktu masih belum memberinya izin.
Gelap yang sempurna masih menemani Hayu. Gadis itu duduk sendirian di tepi jalan. Seperti sedang menunggu seseorang.
"Nduk," sapa lembut Simbah Putri.
Hayu mendongak. Dilihatnya sang nenek dengan pakaian serba baru, bersih dan wangi seperti bersiap hendak pergi.
"Simbah pamit!"
(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja