Novel Durma Bagian 11

"Mengapa Bapak tidak pernah menjelaskan tentang perpisahan itu?" Beberapa kali Hayu terlihat menyeka pipinya yang basah.
"Kenapa Bapak biarkan Hayu selalu berharap Ibu datang ke Selo?" Gadis itu tidak bisa lagi menutupi gundah hatinya. Hayu melempar pandangan keluar jendela, seperti sedang mencari jawaban di sana. "Jelas-jelas itu tidak mungkin terjadi!"
Priyo terdiam. Dia mencoba mengerti luka hati putrinya. Hayu anak yang mudah dalam pengasuhan, itu saja yang selama ini dia tahu. Tentang beban hatinya, tidak banyak yang Priyo pahami.
"Maafkan Bapak, Nduk," ucap Priyo. Laki-laki itu tidak sanggup memandang Hayu. Perasaan bersalah menyelimuti hatinya.
"Ngapuronen ya, Nduk. Maafkan! Bapak tidak bisa membaca hatimu dengan baik."
Priyo memandang lurus ke depan. Selama ini dia hanya berusaha memikirkan masa depan Hayu. Lupa jika masa lalu ternyata meninggalkan jejak yang melukai dan perlu disembuhkan. Hanya permintaan maaf yang bisa diucapkan.
"Bapak hanya berharap waktu akan membantu memulihkan keadaan, tetapi ternyata tidak semudah itu!" Priyo menghela napas.
"Saat ini Bapak hanya bisa meminta maaf dan meminta kamu mengerti tentang kerinduan eyangmu."
"Suatu saat, entah kapan. Segala tanya yang kamu simpan, akan bertemu dengan jawabannya."
Pembicaraan malam itu harus disudahi, saat keduanya sudah memasuki halaman rumah.
"Hayu, tolong jaga sikap di depan Simbah," pinta Priyo. "Kalau tahu kamu ada masalah, pasti mereka sedih."
Hayu diam. Dia juga tidak akan sanggup melihat kesedihan di wajah sepuh simbahnya. Rupanya hawa dingin Selo mampu menyentuh hati Hayu. Perlahan wajah itu kembali terlihat tenang.
Tidak ada yang berubah di rumah itu, kecuali hubungan Hayu dan Wisnu. Selebihnya masih sama, Simbah kakung dan putri masih selalu menunggu Hayu di pendopo.
Pelukan hangat menyambut kedatangan cucu tersayang.
"Sehat, Nduk?" tanya Simbah putri. "Kok seperti tidak semangat gitu?"
Hayu tersenyum.
"Lapar," candanya.
"Oalah! Sana makan dulu!" perintah Simbah putri. "Sudah dibuatkan telur dadar kesukaanmu. Pakai brambang dan lombok."
"Siap! Juragan!" canda Hayu. Gadis itu bergegas ke pawon. Bukan karena lapar, tetapi takut bahasa tubuhnya akan terbaca jelas oleh Simbah putri.
"Selesai makan ke sini ya, Nduk!" seru Simbah kakung. Lagi-lagi gadis itu tersenyum dan mengangguk.
Berada di pawon ternyata tidak lebih baik bagi Hayu. Bertemu Sinem membuat ingatannya pada Wisnu kembali.
"Den, mau makan?" tanya Sinem lembut.
Hayu mengangguk.
"Biar Hayu ambil sendiri saja, Mbok," kata Hayu.
Sinem mengangguk. Sesudah menyerahkan piring, perempuan itu segera meninggalkan Hayu.
"Mbok!" panggil Hayu.
"Injih, Den." Sinem berbalik badan, menunggu perintah ndoro putrinya.
"Eh ... nggak jadi." Gamang, Hayu tidak yakin untuk bertanya tentang Wisnu. Sinem tersenyum dan segera berlalu.
Sepi, hanya itu teman Hayu saat menghabiskan makan.
"Telur, telur! Sejak dulu kamu itu baik banget ya sama Hayu. Nggak pernah ngeluh meski pada akhirnya hilang dari pandangan."
"Ssst, kok ngomong dewe?" Tiba-tiba saja Simbah putri sudah ada di samping Hayu.
"Ini lho, Mbah." Hayu menunjukkan telur dadar yang tinggal separoh. "Heran ya, Hayu nggak pernah bosan makan telur."
"Lha iya, to. Gampang banget kok cucunya Simbah ini," puji Simbah putri.
"Kata Ibu ...." Kalimat itu berhenti di tenggorokan. Hayu menunduk. Dia memilih kembali sibuk dengan makanannya.
Simbah pun ikut diam. Meskipun matanya mulai rabun, tetapi hati masih awas membaca. Getaran suara Hayu terbaca jelas. Ada kesedihan, sekaligus kerinduan untuk perempuan yang telah melahirkannya. Tidak bisa dibohongi lagi, ada ceruk di hati Hayu yang menyimpan kerinduan pada satu nama. Sayangnya, saat ini rasa kecewa dan marah masih menutupinya.
Simbah menepuk-nepuk pundak Hayu.
"Kalau sudah selesai makan, segera ke pendopo, ya," pinta Simbah putri. Gadis itu mengangguk.
"Ada yang penting, Mbah?" tanya Hayu penasaran.
"Hanya sedikit penting," ucap Simbah putri seraya tersenyum. Kemudian beliau meninggalkan cucunya yang kembali tenggelam menikmati telur dadar.
Setelah selesai makan, Hayu bergegas ke pendopo sesuai perintah simbah. Tampak Priyo dan Simbah putri di sana juga.
"Kelihatannya serius." Hayu segera duduk di samping bapaknya. "Ada apakah?"
"Kalian ingat tidak dengan satu nasihat ini? Donya kui gur mampir ngombe!" Simbah Kakung membuka pembicaraan dengan sebuah petuah. "Meskipun hanya sebentar, kita harus banyak membawa bekal untuk perjalanan selanjutnya."
"Satu bekal yang ingin dibawa adalah membalas budi baik Sinem!" tegasnya. "Dengan cara membuatkan Wisnu eyup-eyupan. Rumah seadanya."
"Simbah berharap, paseduluranmu dengan Wisnu bisa langgeng, Nduk!" harap Simbah Kakung. "Hidup rukun selayaknya saudara."
"Pie, Le? Sarujuk? Setuju tidak?"
"Injih, Pak. Buat saya tidak ada masalah," jawab Priyo.
"Kowe pie, Nduk?" Simbah tidak lupa meminta pendapat Hayu.
"Hayu ikut saja, Mbah," ucapnya.
"Rela?"
Gadis itu mengangguk, kemudian menunduk.
Sebagai saudara, sebagai saudara, Hayu merapalkan kalimat itu di dalam hati.
Kali ini malam di lereng Merapi tidak seperti biasanya. Hayu resah. Ada yang tidak mampu diungkapkan, selain air mata yang tiba-tiba begitu setia. Pada selembar kertas, resah itu tertuang.
Untuk kamu yang sedang hilang dari pandangan
Maaf jika Hayu tiba-tiba menjadi pengecut. Bersembunyi di balik kesalahpahaman
Maaf jika mata ini tidak lagi kuasa memandangmu
Karena dirimu tiba-tiba menyilaukan hati
Maaf jika Hayu tidak seperti kemarin
Sebab hati ini terlalu malu untuk jujur
Yang sedang menunggu takdir
Setelah menumpahkan gundah, hati Hayu lebih lega. Mencoba legowo dengan keadaan yang ada.
"Banyak mimpi yang ingin Hayu dekap dan itu tidak bisa diraih dengan hati yang lemah." Gadis itu terlihat sedang menasihati dirinya.
"Selesaikan semua gundah malam ini. Besok Hayu harus waras lagi!"
Dan, malam pun setia menemani Hayu mengurai segala resah tentang Wisnu. Kemudian menyimpan rahasia itu dalam gelap.
Rapat
Rapi
Hingga pagi pun tidak akan pernah tahu rahasia hati sang kembang desa.
Hayu menepati janji pada dirinya. Bangun dengan suasana hati yang lebih baik. Pintu pendopo yang biasanya tertutup rapat, pagi itu dibuka lebar. Segarnya hawa gunung menyapa sang gadis.
"Hmm, tidak ada yang lebih segar dari pada menghirup udara bersih ini," gumamnya.
"Dari mana?" tanya Hayu saat melihat Simbah kakung dan bapaknya memasuki pendopo.
"Lihat-lihat pekarangan," jelas Priyo, "mencari bagian yang pas untuk Wisnu."
"Kok dibuka semua pintunya, Nduk? Mau ada tamu?" tanya Simbah Kakung.
"Anak-anak latihan tari, Mbah," jawab Hayu.
"Oh iya." Simbah menepuk jidat. "Wis tuo, lalen!"
Mereka bertiga tertawa.
"Mbah, anak-anak sebenarnya juga ingin belajar nembang," ujar Hayu.
"Apik! Bagus itu, Nduk!" puji Simbah.
"Belum ada yang bersedia jadi gurunya," ucap Hayu, "Simbah kerso?"
"Boleh, boleh. Asal pas longgar ya," pesan beliau. Senyum Hayu mengembang. Sebuah pelukan untuk simbahnya sebagai tanda terima kasih.
Rupanya tidak sulit mencari obat untuk keresahan hati Hayu. Bersama anak-anak berlatih menari, binar mata gadis itu telah kembali.
"Gimana sih caranya bisa menari bagus seperti Mbak Hayu?" tanya Rahayu, saat latihan menari akan dimulai.
"Berlatih." Hayu mengerlingkan mata. Anak-anak tertawa.
Hayu tersenyum saat melihat anak-anak begitu bersemangat menggerakkan tubuh mereka. Setelah hampir satu jam berlatih tari gambyong, saatnya menikmati jadah bikinan Sinem.
"Caranya biar bisa luwes kayak Mbak Hayu itu gimana?" Rupanya Rahayu masih penasaran.
"Berlatih." Tidak ada yang berubah dari jawaban Hayu. "Dulu Mbak juga sama seperti kalian."
"Bedanya, Mbak Hayu berlatih lebih banyak dari pada kalian," jelas Hayu.
"Kalau kalian mau, ulang terus gerakan yang sudah diajarkan. Tanpa gending pengiring tidak masalah. Asal hitungannya tepat," tutur Hayu, "kalau kalian mau, berlatihlah di sini. Meskipun Mbak Hayu nggak ada."
"Boleh, Mbak?" tanya anak-anak hampir bersamaan.
"Boleh. Asal kalian mau menyiapkan semua sendiri, ya!" pesan Hayu.
"Kita tidak jadi berlatih nembang, Mbak?" tanya Rahayu.
"Kebetulan Mas Wisnu tidak pulang. Lain kali ya," jelas Hayu.
Anak-anak itu kemudian pamit, setelah matahari tepat di atas kepala. Hayu segera menutup satu per satu pintu pendopo.
"Nduk," sapa lembut Simbah putri.
"Dalem, Mbah," sahut Hayu, "sebentar. Hayu selesaikan dulu merapikan bekas latihan ini."
Perempuan yang masih terlihat cantik di usia senja itu mengangguk. Beliau segera menarik kursi untuk duduk, menunggu cucunya.
"Ada apa, Mbah?" tanya Hayu setelah duduk di hadapan simbahnya.
"Simbah bahagia melihat kamu masih semangat nguri-uri kabudayan Jawa." Senyum tulus tampak di wajah yang sudah berkeriput.
"Kamu tahu tidak, pelajaran apa saja yang sesungguhnya diajarkan dalam menari?" tanya Simbah.
"Ketekunan mungkin, Mbah." Hayu mencoba menjawab pertanyaan itu.
"Betul. Yang tidak kalah penting adalah kesabaran," tutur Simbah putri, "tarian mengajarkan kita untuk sabar. Berapa kali kamu harus mengulang-ulang gerakan yang sama agar hapal? Pasti lebih dari satu kali, kan? Sabar, itu penting."
"Jika dalam menari kamu bisa sabar, apalagi dalam kehidupan sehari-hari," ucap Simbah lagi.
Entah ke mana arah pembicaraan simbahnya, Hayu hanya mengangguk-angguk saja. "Ucapan Simbah tadi, jadikan sangu buat hidupmu ya, Nduk!" pesan Simbah.
"Njih, Mbah."
"Simbah yakin, kamu anak yang kuat. Apa pun yang sedang kamu rasakan sekarang ini, semua pasti berujung baik. Asal sabar itu kamu pegang," tutur Simbah lagi.
"Hayu baik-baik saja, Mbah." Gadis itu mencoba terlihat baik-baik saja.
"Harapan Simbah juga seperti itu, Nduk!"
Hari ini memang berbeda untuk Hayu. Selain tidak ada Wisnu, Simbah pun tiba-tiba menitipkan nasihat. Begitu peka hati orang tua itu. Cucunya memang sedang butuh dikuatkan.
Priyo pun ikut-ikutan bersikap tidak biasa. Melarang Hayu pulang ke Solo sendirian.
"Terus Hayu nggak usah pulang?" Protes gadis itu.
"Bapak bisa antar!" Priyo tidak mau kalah.
"Nggak biasanya Bapak maksa seperti ini," ungkap Hayu, "ada sesuatu dibalik niatan mengantar Hayu?"
Priyo tertawa.
"Sejelas itukah terlihat?" goda Priyo. "Bapak masih kangen, Nduk."
"Kalau hanya itu, Hayu bisa terima," jawab Hayu dengan penuh waspada.
"Sekarang jadi curigaan ya sama Bapak?"
"Bapak nggak seperti biasanya, sih!" elak Hayu.
"Biasanya ada Wisnu. Jadi ...."
"Nggak usah dibiasakan lagi!" potong Hayu.
"Baiklah. Besok-besok nggak Bapak antar, sekali ini saja, ya!" pinta Priyo. Hayu mengangguk, menyetujui usul bapaknya.
Kabut yang perlahan turun, seakan menjadi salam perpisahan hari itu. Hayu harus kembali menyatukan hati dan pikirannya untuk melangkah.
Sepanjang perjalanan bapak dan anak itu terlihat asyik mengobrol.
"Kelak kalau sudah selesai kuliah, kamu pulang ke Selo, ya!" pinta Priyo.
Gadis itu mengangguk yakin.
"Hayu putri Bapak. Tidak perlu diragukan lagi cintanya pada lereng Merapi!" Gadis itu mengangkat tangannya, bersikap memberi hormat, sebagai tanda siap mengabdi.
"Sekarang Bapak minta bukti cintamu lagi!"
Tiba-tiba Priyo membelokkan arah mobilnya. Di depan stasiun Purwosari kendaraan itu mengambil arah ke kanan. Tidak butuh waktu lama, tembok-tembok tinggi kampung Laweyan tampak. Hayu terdiam, mematung.
Marah
Kecewa
Sakit
Semua rasa itu diwakili oleh tetesan bening yang berjatuhan dari pelupuk matanya.
"Maaf!"
Hanya itu yang terucap dari mulut laki-laki yang paling dihormati Hayu.
Begitu sampai di rumah Pak Dipo, Priyo bergegas turun.
"Nggak mau ketemu Eyang?" tanya Priyo dengan sedikit emosi, saat dilihatnya sang anak tidak bergerak sama sekali.
"Untuk Eyang!" tegasnya.
Langkah Hayu terasa berat. Seandainya saja dia sanggup mempermalukan bapaknya. Pastilah kakinya sudah diajak berlari meninggalkan rumah ini.
"Janur gunung!" seru Pak Dipo penuh rasa bahagia saat melihat Priyo dan Hayu. "Rene, rene!"
Laki-laki sepuh itu segera menghampiri Hayu, memeluk hangat cucu semata wayangnya.
"Bu! Ada Hayu!" teriaknya kegirangan, seperti anak kecil yang dapat mainan.
Kegembiraan Pak Dipo terdengar oleh Miranti yang sedang berada di show room batik Rukmini. Perlahan ditariknya tirai di ruangan itu. Tertutup sempurna, tidak ada mata yang melihat dari luar. Netranya perlahan basah.
Senja telah datang. Jingga kali ini menjadi saksi, janji seorang ibu untuk tidak lagi menemui putrinya.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja