Novel Durma Bagian 18

"Leres, Den!" tegas Wisnu. Ditegakkan kepalanya. "Saya memang anak Mbok Sinem. Rewang di rumah Juragan Broto."
Mata yang terluka itu menatap tajam Miranti. Ucapan yang keluar dari mulut ibunya Hayu bagai sembilu yang ditikamkan menghujam harga dirinya. Untuk kedua kali, hati Wisnu mencatat hinaan dari keluarga Miranti.
"Aku mau bicara!" Miranti bangun dari duduknya. Raut wajah tidak senang dia perlihatkan.
"Maaf, Den!" tolak Wisnu. "Saya besok harus mendampingi klien sidang di Semarang. Mohon pamit, karena harus segera istirahat!"
Miranti yang sudah berdiri, lalu duduk kembali. Kekesalannya semakin bertambah.
"Omongan opo to ini!" sergah Hayu. "Seperti tidak ada yang lebih penting saja!"
"Mbak Hayu, nyuwun pamit," ucap Wisnu.
"Matur nuwun, Mas. Maaf Hayu ngrepotin terus."
"Mboten, Mbak. Sudah sewajarnya anak rewang membantu majikannya," sindir Wisnu.
Dia sengaja mempertegas ucapannya pada Hayu. Agar Miranti paham, bahwa dia tahu diri.
"Matur nuwun, Nak Wisnu," ucap Bu Dipo.
"Sami-sami, Den," balas Wisnu.
Wisnu segera berlalu. Telah tercatat semua kejadian tadi dan disimpan dalam relung hatinya.
"Mas Wisnu!" panggil Hayu. Gadis itu mengejar Wisnu yang sudah menuruni tangga.
"Ya, Mbak," sahut Wisnu.
"Maaf atas ucapan yang tidak mengenakkan," pintanya.
"Tidak usah dipikir, Mbak. Saya pamit dulu ya. Jaga diri baik-baik," pesan Wisnu. Laki-laki itu melangkah dengan hati yang patah. Tekadnya menjadi orang yang berhasil semakin kuat.
"Bisa nggak kalau bicara itu tidak menyakiti orang lain!" omel Hayu.
"Harusnya nggak sakit. Memang kenyataannya seperti itu!" balas Miranti.
"Kalian ini nggak ingat kondisi Priyo?" sindir Bu Dipo.
"Ranti, makan dulu!" perintah Bu Dipo. "Kalau kamu sakit, siapa yang mau bantu Hayu?"
"Hayu bisa sendiri, Yang! Jangan khawatir."
"Sombongmu, Nduk!" ketus Miranti.
"Kamu mau bikin ibumu ini mati berdiri!" bentak Bu Dipo.
Miranti terdiam. Nasi liwet Keprabon. Kalau dalam suasana biasa makanan itu pasti akan membuat lidahnya tidak berhenti mengecap, tapi kali ini nasi liwet itu dibiarkan dingin.
"Hayu, makan dulu! Butuh sehat untuk bisa jaga bapakmu," nasehat Bu Dipo.
"Hayu sudah makan, Yang," tolaknya.
"Tadi Pak Man bawain tikar, bantal sama selimut. Segera istirahat saja," pesan Bu Dipo, "Eyang pamit dulu ya. Besok ke sini lagi."
"Iya, Yang. Terima kasih." Gadis itu memeluk Bu Dipo.
"Kenapa tidak pulang?" Hayu melihat Miranti yang kembali menyandarkan kepala di kursi sambil memejamkan mata.
"Hayu, biarkan ibumu menemani saat ini," bujuk Bu Dipo, "setidaknya ada orang tua yang bisa bantu mikir."
"Hayu bisa kok, Yang!" tegasnya. "Bisa banget!"
"Percaya, Nduk. Kalau kondisi bapakmu sudah lebih baik, Eyang pastikan ibumu akan pulang," ujar Bu Dipo, "sabar dulu, ya. Saat ini kalian berdua harus rukun."
Hayu diam. Benar apa yang dikatakan eyang. Besok dia harus ke Coyudan juga untuk menjual perhiasan. Tidak mungkin meninggalkan bapaknya sendiri.
"Ranti, jaga anakmu. Wong tuo kui akeh ngalahe. Wis tuo kie sing temuwo. Isin yen brangasan!" ceramah Bu Dipo.
Miranti terdiam. Andaikan anak rewang itu tidak muncul, pasti hubungannya dengan Hayu perlahan membaik.
"Eyang pulang ya, Nduk," pamit Bu Dipo. Hayu mengangguk. Mengantar eyang sampai tangga.
"Hati-hati, Yang!" pesan Hayu.
Beku. Itu yang kembali terjadi antara ibu dan anak. Tidak ada satu pun kalimat yang diucapkan untuk saling menguatkan. Hayu memilih menggelar tikar yang dibawakan dari Laweyan. Lalu merebahkan badan. Dingin mulai menyergap. Ada takut yang menghampiri.
Air mata berlinang. Namun lelah telah memaksa mata itu menutup perlahan. Nafas teraturnya mulai terdengar. Malam telah memeluk Hayu untuk sejenak mengurai sedih.
"Keluarga Bapak Suripto! Dokter ingin bertemu!"
Suara perawat membangunkan Hayu dari lelap. Bergegas gadis itu berdiri, lalu berjalan menuju ruang ICU.
"Mau ke mana?" tanya Miranti.
"Itu tadi dipanggil!" jawab Hayu.
"Suripto bukan Priyo!"
"Oh. Hayu salah dengar," gumamnya.
Hayu semakin sadar, tidak mungkin dia sendirian menunggui bapaknya. Saat ini Wisnu tidak bisa diandalkan, karena sibuk dengan pekerjaan. Mbok Sinem, rasanya tidak tega menyuruh untuk berjaga di ruangan ini.
"Dari semalam tidak ada panggilan untuk Bapak?" tanya Hayu.
Miranti menggeleng.
"Boleh masuk pukul berapa?" tanya Hayu.
"Baca di pintu itu!"
Hayu melengos, dia tidak mengikuti perintah ibunya.
"Tinggal ngasih tahu, apa susahnya!" sungut gadis itu.
Antara butuh dan tidak. Itu yang dirasakan Hayu pada ibunya. Dia harus berpikir logis saat ini. Apa pun sikap Miranti harus diterima. Demi bapaknya.
Subuh itu petugas kebersihan sudah bersiap membersihkan ruangan. Hayu melipat tikar, bantal dan selimut. Kemudian duduk menjauh dari Miranti.
Hayu memandang petugas kebersihan itu. Namun pikirannya melayang-layang. Rasa rindu kepada simbah bercampur dengan kekhawatiran tentang keadaan bapak dan masa depannya. Semua rasa itu keluar menjadi paluh yang siap membanjiri pipinya.
"Bulik Miranti!"
Lamat-lamat Hayu mendengar seseorang menyapa ibunya. Seorang lelaki memakai jas putih mendekati Miranti. Sepertinya dokter. Laki-laki itu memunggungi Hayu. Tingginya sepantaran dengan Wisnu. Sepertinya rajin berolah raga, karena meninggalkan jejak pada tubuhnya yang terlihat berisi. Rambut bergelombang, sedikit gondrong dibandingkan tampilan dokter pada umumnya. Sepertinya terlambat bercukur. Hayu menggelengkan kepalanya. Menghentikan pikiran yang sedang menyondro laki-laki itu.
Miranti dan pria itu terlibat pembicaraan serius. Sekilas laki-laki berjas putih melihat ke arah Hayu. Kemudian berlalu.
Ruang tunggu sepi. Bunyi perut Hayu pun terdengar. Tubuhnya meminta hak. Tanpa berpamitan pada ibunya, gadis itu meninggalkan ruang tunggu.
Setelah sampai di bawah, Hayu tergoda untuk sejenak pulang ke indekost. Tidak jauh jarak antara rumah sakit dan Gendingan. Naik bus kira-kira 10 menit. Tidak menunggu lama, Hayu sudah ada di dalam bus kota.
Mandi, beli makan, dan kembali ke rumah sakit tidak akan lebih dari satu jam, janjinya dalam hati.
Hayu kembali menyambangi indekost yang sudah dua bulan ditinggalkan. Rindu suasana kekeluargaannya.
"Hayuuu!" teriakan yang tidak asing lagi di telinga Hayu.
"Na," balas Hayu singkat. Gadis itu bergegas ke kamar. Dina heran dengan sikap sahabatnya, lalu membuntuti.
"Kenapa? Ada apa? Kok kamu sudah di sini? Barang-barangmu mana?" cecar Dina.
"Hayu sudah pulang dari kemarin, Na." Ada kesedihan yang terdengar di telinga Dina.
"Ada apa?" Dina terlihat khawatir.
"Kesripahan Simbah. Dua-duanya sedo." Air mata itu tumpah lagi. "Bapak di ICU Jebres."
Pelukan dari Dina mencoba menguatkan sahabatnya.
"Sabar, sabar." Dina pun ikut menangis.
"Hayu hanya mau mandi, langsung balik ke rumah sakit."
"Aku temani, ya," usul Dina.
Hayu mengangguk.
Setelah semua urusan di indekost selesai, Hayu dan Dina bergegas ke rumah sakit.
"Kalau di ICU boleh dikunjungi pukul berapa, Yu?" tanya Dina.
"10.00, Na," jawab Hayu singkat.
"Jangan sungkan bilang, kalau butuh aku," pesan Dina, "kita ini sudah seperti saudara."
Hayu mengangguk. Air matanya menetes lagi.
"Sudah, Yu. Semua pasti ada akhirnya." Dina merangkul bahu sahabatnya.
"Kalau saja Simbah tidak pergi semua, mungkin Hayu tidak akan merasa sendiri seperti ini, Na." Hayu membarut wajahnya. Rasa kecewa pada musibah yang datang begitu jelas.
"Seandainya kita boleh memilih, pasti bahagia yang kita mau. Namun kita ini hanya ciptaan," tutur Dina, "jadi ya kudu manut, Yu."
Hayu mengangguk. Saat seperti ini memang dia butuh pundak untuk bersandar. Tangan yang mau memeluknya. Sehingga tidak merasakan sendirian.
"Oh iya. Bisa temani Hayu ke Coyudan, Na?" tanyanya.
"Bisa!" Dina menganggukkan kepala. "Ada keperluan apa?"
"Jual perhiasanku," ucapnya lirih.
"Kamu nggak ada pegangan?" lanjut Dina.
"Biaya Bapak pasti banyak. Nggak bakalan cukup uang di tabunganku," ungkap Hayu, "sedangkan untuk mengambil tabungan Bapak, pasti juga ada syaratnya. Jual perhiasan yang paling gampang."
Kembali Dina merangkul Hayu.
"Kuat! Kamu pasti kuat melewati semua ini," hibur Dina.
Hayu tersenyum, meski itu sangat dipaksakan.
Dina mengikuti langkah Hayu yang tergesa. Hatinya ikut teriris melihat beban sahabatnya.
Hayu celingukan.
"Cari siapa, Yu?" tanya Dina.
"Ibuku," jawabnya tanpa menoleh, "Syukur kalau udah pulang."
"Maksudmu?" Dina penasaran dengan maksud ucapan Hayu.
"Kemarin Ibu yang bawa Bapak ke sini," kata Hayu.
"Untung ada ibumu yang bantuin, Yu." Hanya kepada Dina, gadis itu menceritakan rahasia keluarganya.
"Iya. Tapi semalam dia juga nyari gara-gara!" kesal Hayu.
"Masalah apa?"
"Menghina Mas Wisnu karena anak re ...." Hayu tidak melanjutkan ucapannya. "Sudahlah!"
Dina tidak mendesak Hayu dengan pertanyaan lagi.
"Kita ke Coyudan hari ini?" Dina mengalihkan pembicaraan.
Hayu mengangguk.
"Setelah melihat kondisi Bapak, ya," jelasnya.
Ruangan ini sama seperti kemarin. Wajah-wajah penuh keteganggan. Menunggu kabar tentang kondisi orang-orang tercinta yang sedang berjuang untuk hidup.
Sesekali Dina dan Hayu terlibat obrolan ringan tentang KKN, sambil menunggu jarum jam menunjukkan pukul 10.00
"Ikut masuk ya, Na," ajak Hayu.
"Pastilah!"
Keduanya segera masuk ke ruang ICU, setelah sebelumnya memakai baju yang diwajibkan, jika menengok pasien.
"Maaf, Mbak," sapa Hayu pada perawat yang ada di dalam ruangan, "pasien bernama Priyo di sebelah mana?"
"Di ruang operasi, Mbak," jawabnya ramah.
"Hah! Sejak kapan operasinya, Mbak?" Ada rasa amarah yang tiba-tiba mendesak untuk segera dimuntahkan.
"Pukul 7.00 tadi," lanjut si perawat.
Hayu segera keluar ruangan dengan wajah yang ditekuk. Mata itu menunjukkan rasa benci yang teramat. Dibukanya baju seragam pengunjung ICU dengan kasar.
"Memang siapa dia yang merasa lebih berhak atas bapakku!" omelnya.
"Sabar, Yu." Dina mencoba menenangkan sahabatnya. "Tadi kan kamu pulang. Mungkin ibumu lupa ngabari."
"Nggak mungkin, Na! Jelas-jelas tadi ada dokter yang bicara sama dia, kok!"
"Sudahlah. Sekarang fokus pada kesehatan bapakmu dulu," tutur Dina.
"Kita ke ruang operasi saja," ajak Dina.
Dina menarik tangan Hayu.
"Hayu malas bertemu orang itu!" elaknya. "Capek harus ribut terus."
"Orang itu ibumu!" balas Dina. "Dalam kondisi seperti ini harus banyak sabar!"
Akhirnya Hayu mengikuti langkah Dina menuju ruang operasi. Keduanya mengikuti petunjuk arah yang terpasang. Melewati lorong panjang, kemudian berbelok ke kanan, setelah itu ada tanda lagi untuk ke kiri.
Dari kejauhan terlihat seorang perempuan duduk sendirian. Kepalanya tertunduk.
"Itu ibumu?" tunjuk Dina. Hayu mengangguk.
"Lihat ibumu! Dia rela menunggui seseorang yang sudah tidak ada hubungan dengan dirinya!" ujar Dina. "Semua itu demi kamu, Hayu! Jadi tahan marahmu."
"Dengarkan setiap penjelasannya. Sekarang ini hanya ibu yang kamu punya!"
Semua yang dikatakan Dina benar adanya. Namun entah mengapa hati Hayu masih saja keras menolak ibunya.
Keduanya segera melangkah mendekati Miranti.
"Mohon maaf, Bulik," sapa Dina, "nderek tepang. Saya Dina temannya Hayu."
Miranti mendongak. Terlambat untuk menyembunyikan aliran air mata.
"Oh, iya," sahut Miranti sambil mengusap pipinya. Seulas senyum dia berikan untuk teman Hayu. "Siapa tadi namanya?"
"Dina, Bulik," jawab Dina penuh hormat.
"Kenapa tidak bilang kalau pagi ini operasi?" Kalimat tanya yang terdengar ketus di telinga Miranti. Perempuan itu terlihat enggan menjawab.
Dina menyenggol Hayu. Menarik tangannya agar segera duduk.
"Duduk saja!" perintah Dina.
Hayu dan Miranti diam.
"Sampun dhahar, Bulik?" tanya Dina memecah sepi.
"Sudah," jawab Miranti pendek.
"Berapa lama operasinya?" tanya Hayu.
Miranti menggeleng. Dina berdiri, lalu berpindah tempat duduk. Menggeser Hayu agar duduk dekat ibunya.
"Biar lebih enak kalau ngobrol," bisiknya di telinga Hayu. Cubitan mendarat di lengan Dina.
"Aduuuh! Dua bulan tidak ngerasain cubitanmu, Yu!" sungut Dina.
Matahari bergerak perlahan, meskipun pada kenyataannya bumilah yang berputar. Saat sang penguasa siang itu tepat di atas kepala, ada panggilan yang membuat dada Hayu berdebar.
"Keluarga Bapak Priyo!"
Tidak ada siapapun selain mereka bertiga di tempat ini. Miranti berdiri, diikuti Hayu yang menarik tangan Dina. Ketiganya masuk untuk mendengarkan penjelasan dokter. Dina yang merasa tidak berhak, sedikit mundur. Gadis itu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Meskipun begitu, penjelasan dokter masih bisa dia tangkap dengan baik. Sepemahaman Dina, operasinya berjalan lancar. Hanya tinggal menunggu sadar. Namun, keluarga harus bersabar dengan proses pemulihan yang pasti butuh waktu panjang.
Setelah mendengar penjelasan dokter, terlihat kelegaan di wajah ibu dan anak itu.
"Kita ke Coyudan sekarang ya, Na," ajak Hayu setelah keluar dari ruangan.
"Ada urusan apa ke sana?" sela Miranti.
"Tidak ada apa-apa!" Hayu berusaha menutupi rencananya.
"Jual perhiasan, Bulik!" jelas Dina.
"Untuk?" lanjut Miranti.
"Semua keperluan Bapak! Apalagi kalau bukan itu!" tandas Hayu.
"Tidak usah mikir yang bukan tanggung jawabmu!" balas Miranti. "Serahkan urusan ini ke Ibu."
"Yang dipunya Bapak sekarang tinggal Hayu! Ibu bukan siapa-siapanya lagi!" tegasnya.
Miranti terhuyung. Ucapan Hayu sangat melukai. Selain itu kondisi tubuh yang lelah membuatnya ambruk. Dina cepat-cepat menyangga tubuh wanita separuh baya itu.
Miranti menatap Hayu dengan mata yang tersaput air. Sayangnya, kali ini sang putri tidak balas menatap. Gadis itu memilih membuang pandangannya ke luar gedung.
"Anggap saja hutang! Setiap rupiahnya akan dicatat." Suara Miranti bergetar. Segera dia tinggalkan Hayu dan Dina. Air matanya tumpah.
***
Rembang petang, saatnya matahari menghilang dari pandangan manusia. Wisnu menyusuri jalan ke Selo seorang diri. Sinem memintanya ada di rumah selepas kerja. Selama tujuh hari saja, sejak Juragan Broto meninggal. Membantu tahlilan katanya. Anak semata wayang itu pun menurut.
"Kok kelihatan lesu, Nu?" tanya Lek Mardi sesudah selesai tahlilan.
"Capek, Lek!" jawabnya. "Capek jadi orang miskin. Pingin cepat kaya, biar nggak dihina!"
"Sopo sik ngenyek, Nu?" Lek Mardi penasaran. "Kewananen tenan karo pengacara muda!"
Tawa Wisnu pecah.
"Pengacara yang anak rewang dan belum punya nama, Lek!" kelakar Wisnu.
"Tak antar ke Mbah Yai pie, Nu?"
"Mbah Yai mana?" tanya Wisnu.
"Yo Mbah Yai pakuning bumi Merapi," jelas Lek Mardi.
"Terus ngapain?" tanya Wisnu.
"Nyuwun donga karo cekelan. Biar kerjaanmu lancar," ujar Lek Mardi.
"Kalau itu ya bekerja keras saja to, Lek," tolak Wisnu.
"Biar tidak dihina orang, Nu!" tandas Lek Mardi.
Wisnu terdiam. Rasa sakit itu kembali datang.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja