Novel Durma Bagian 8

Laweyan di pagi hari.
"Bu, tolong gabah buat pakan burung, ya!" seru Pak Dipo dari halaman belakang.
"Iya, Pak!" sahut Bu Dipo dari dalam rumah.
Perempuan yang masih tampak cantik di usia senja itu, membawa pesanan suaminya.
"Meniko, Pak."
"Matur nuwun, Bu." Sebuah senyuman menjadi hadiah untuk istri tercinta.
Sayangnya, kerukunan pasangan ini tidak bisa diikuti putri mereka.
"Teh ginastelnya siap, Pak. Sudah dulu ngurusi burung-burungnya," pinta Bu Dipo, "Ada serabi sama apem juga."
Pak Dipo mengangguk.
"Sebentar lagi. Tinggal ngerek saja." Pak Dipo segera menaikkan burung perkutut kelangenanannya yang ada di dalam sangkar, agar merasakan hangatnya sinar matahari.
"Tehnya dibawa ke teras belakang saja?" Bu Dipo meminta persetujuan sang suami.
"Boleh!"
Tidak lama kemudian Bu Dipo sudah kembali membawa nampan berisikan dua cangkir teh dan sepiring camilan.
Aroma teh menggoda Pak Dipo untuk segera menyeruput.
"Beli di mana ini, Bu?" tanya Pak Dipo seraya menggigit kue apem. "Masih anget, empuk, manisnya pas."
"Tadi ada yang tenongan lewat, Pak," jelas Bu Dipo.
"Ini alamat indekos Hayu," sela Miranti yang tiba-tiba saja muncul.
Miranti meletakkan secarik kertas di meja.
"Dapat dari mana?" tanya Pak Dipo sambil menggeser letak cangkirnya, agar bisa mengambil kertas itu. "Kamu nyari sendiri atau suruhan orang?"
"Itu pun penting buat Bapak?" Miranti sudah mulai meradang lagi.
"Penting! Memperlihatkan seberapa kesungguhanmu untuk mendekat ke Hayu!" tegas Pak Dipo.
Miranti kemudian mengambil kertas yang ada di tangan Pak Dipo.
"Silakan Bapak cari sendiri!" Kertas itu langsung disobek, Miranti berlalu.
"Bocah ra toto!" murka Pak Dipo.
"Sudahlah, Pak." Bu Dipo berusaha menenangkan suaminya. "Mungkin Ranti baru banyak pikiran."
"Ranti itu wis tuo, tapi tidak temuwo, Bu!" gerutu Pak Dipo.
"Mungkin kita yang terlalu mencampuri urusannya." Terlihat kegelisahan di wajah sepuh Bu Dipo. "Ranti sudah berkorban banyak untuk kita, Pak."
"Aku kan cuman pingin tahu Hayu to, Bu! Apa itu salah?" jelas Pak Dipo. "Aku juga pingin Ranti bisa dekat dengan anaknya. Itu salah juga?"
"Mboten. Tidak ada yang salah dari keinginan Bapak," ucap Bu Dipo.
"Hayu sudah semakin besar. Cucu kita mungkin masih memendam rasa sakit atas perceraian orang tuanya, Pak." Mata sepuh Bu Dipo basah. Buru-buru beliau memalingkan wajah dan menyeka mata dengan ujung kebayanya.
"Sekarang kita harus mau bersabar, Pak!" bujuk Bu Dipo "Beri waktu untuk Hayu dan Ranti memperbaiki hubungan mereka."
Bu Dipo terlihat sangat berhati-hati dalam berbicara. Dia tahu watak suaminya.
"Aku nggak bisa mikir, Bu!" keluh Pak Dipo. "Hanya mau ketemu cucu saja susah!"
"Nanti pasti ada saatnya, Pak!" Bu Dipo berusaha meyakinkan suaminya untuk bersabar.
Pak Dipo segera menyeruput teh ginastel lagi.
"Yo wis. Pie penak e kono! Sak karep e!" Ada amarah dan kecewa dalam kalimat kepasrahan yang dilontarkan Pak Dipo.
Laki-laki itu segera menghampiri burung-burung kelangenannya, perkutut jawa. Burung berwarna abu-abu dengan bagian sisi bergaris halus itu membuat hati pemiliknya lebih tenang. Suara perkutut seperti mempunyai kekuatan magis untuk menghilangkan keresahan hati Pak Dipo.
Di saat Pak Dipo tenggelam dengan burung kelangenannya, Hayu pun sedang sibuk melatih tari. Satu aktivitas yang membuat gadis itu merasa hidup.
Pagi itu sekitar lima orang anak perempuan yang sudah siap berlatih.
"Hanya lima saja?" tanya Hayu.
"Masih di ladang, Mbak. Belum tahu kalau jadwalnya ganti," jelas Rahayu, anak Lek Mardi.
"Oh, iya. Ya sudah. Soalnya kalau sore Mbak Hayu harus pulang ke Solo," jelas Hayu.
"Nggih, Mbak!" Anak-anak serempak menjawab.
"Kita belajar tarian baru ya. Gambyong namanya," tutur Hayu.
Anak-anak itu mengangguk. Bagi mereka berlatih menari sangat menyenangkan.
Bocah-bocah lereng Merapi itu begitu bersemangat. Dengan menari, mereka bisa tampil di acara pernikahan, perayaan Hari Kemerdekaan dan beberapa kegiatan desa lainnya.
Hayu jatuh cinta melihat binar mata mereka saat menari. Itu adalah salah satu kebahagiaan yang dihadirkan lereng Merapi.
Hayu segera memutar gending pengiring dari tape. Biasanya itu menjadi tugas Wisnu. Entah ke mana putra Sine, sejak pagi tidak terlihat.
"Hitungan lima masuk ya!" Hayu mengangkat tangannya, kemudian mulai menghitung.
"Sebentar!" Gadis itu tiba-tiba mematikan tape.
"Ada yang kelupaan!" Hayu tersenyum sendiri.
"Jadi nanti hitungan ke lima mulai ya. Srisig kanan, dua kali delapan hitungan. Dilanjut ulap-ulap tangan kiri dan srisig kiri juga dengan hitungan yang sama!" jelas Hayu. " Paham?"
"Paham, Mbak!"
"Nggak usah pakai musik dulu saja!"
Suara Hayu terdengar memenuhi pendopo.
"Satu, dua, tiga, empat ...."
Sesekali terlihat gadis itu membetulkan gerakan yang kurang pas.
"Istirahat dulu yuk!" ajak Hayu. Setelah hampir satu jam mereka berlatih.
Ada air putih dalam kendi dan singkong goreng.
"Mbak, anak laki-laki boleh ikut latihan tari?" tanya Rahayu.
"Boleh. Nanti dicarikan tarian yang pas untuk anak laki-laki," jelas Hayu.
"Atau ada yang mau belajar nembang?" tanya Hayu. "Nanti Mas Wisnu yang ngajarin ya."
"Mauu, Mbak!" Hayu tersenyum. Anak-anak itu menjadi harapan, untuk menjadi penyambung warisan leluhur.
"Mbok, Mas Wisnu ke mana?" tanya Hayu, saat melihat Sinem melintas di pendopo.
"Tadi mandi, Den," jawab Sinem.
"Kalau sudah selesai, tolong disuruh ke sini, ya, Mbok," pinta Hayu.
"Injih, Den."
Beberapa saat kemudian, Wisnu datang. Wajahnya tampak segar. Kulit sawo matangnya tampak lebih bersih. Rambut dengan belahan tengah juga terlihat masih basah, aroma shampoo menguar. Laki-laki berwajah khas orang jawa, dengan rahang yang terlihat kokoh. Tubuh tegap itu dibalut kaus berwarna hitam. Dipadu celana berbahan canvas warna coklat muda. Hayu terkesima.
Pantas Dina begitu kesengsem dengan Mas Wisnu, bisik Hayu dalam hati.
"Ada yang bisa saya bantu, Mbak?" tanya Wisnu.
"A-anu, Mas. Anak-anak aku tawari berlatih nembang." Hayu mencoba menghilangkan gugupnya. "Mas Wisnu bersedia jadi gurunya, kan?"
"Oh. Nggih!" sahut Wisnu. "Kapan mulainya?"
"Minggu depan saja ya. Gimana?" Hayu meminta persetujuan Wisnu.
"Monggo, Mbak. Saya ikut saja."
Tidak banyak waktu yang dimiliki Hayu dan Wisnu di rumah. Kabut perlahan turun di lereng Merapi, saat keduanya kembali berada di dalam gredeg.
Sebenarnya Priyo menawarkan diri untuk mengantar sampai terminal Boyolali, tetapi Hayu menolak.
"Kita turun di Kartosuro lagi?" Sesaat setelah mereka duduk di bus.
"Terminal Tirtonadi saja, Mbak."
"Terus naik apa sampai Kentingan?" tanya Hayu.
"Ada banyak bus nanti," jelas Wisnu, "jurusan Tawangmangu bisa. Sragenan juga bisa."
Hayu manggut-manggut.
"Hayu tidur dulu ya, Mas."
Sekarang gantian Wisnu yang mengangguk.
"Monggo, Mbak. Saya jagain," ucap Wisnu lembut.
"Matur nuwun, Mas." Satu senyuman indah menjadi hadiah untuk Wisnu.
Buru-buru laki-laki itu menyimpannya, untuk menemani hati yang harus bersabar dalam cinta diam.
Tidak sampai satu jam, bus pun masuk terminal Tirtonadi. Wisnu mendesis kesal, kenapa waktu tidak memihak dirinya. Kenapa busnya tidak mogok saja. Sehingga dia masih bisa berlama-lama menatap wajah Hayu.
"Mbak! Mbak Hayu!" Sepertinya Hayu benar-benar lelap.
"Mbak! Sudah sampai." Wisnu menepuk lembut tangan Hayu.
Kulitnya, kenapa bisa sehalus ini? Tanya Wisnu dalam hati.
"E-eh. Udah ya?" Hayu segera menghapus sudut bibirnya, terasa ada sesuatu yang siap mengalir.
Wisnu sempat melirik, Ah, orang cantik tetap manusia, tawanya dalam hati.
Hayu mengikuti langkah Wisnu. Kali ini mereka terlihat santai. Tidak takut kehabisan kendaraan.
"Kita pindah ke sebelah timur. Cari bus ke arah Kentingan." Hayu mengangguk saja. Mengikuti perintah Wisnu.
Hayu merekam semua perjalanan dari kemarin hingga hari ini. Pasti ada saatnya dia harus berani pulang pergi sendiri. Wisnu sebentar lagi sudah harus KKN, kemudian skripsi dan wisuda.
"Hmm, melamun, ya!" tegur Wisnu.
Hayu tersenyum.
"Bayangin Hayu pulang pergi sendiri," ujar Hayu, "saat nanti Mas Wisnu KKN, skripsi, punya pacar ...."
"Nggak!" potong Wisnu. "Mikirmu kejauhan, Mbak!"
Harusnya kamu tahu yang aku rasakan, Hayu! Jerit batin Wisnu.
Bus yang akan membawa keduanya sampai Kentingan penuh. Mau tidak mau, Hayu dan Wisnu harus berdiri.
"Cuman sebentar, kok," ucap Wisnu. Hayu mengangguk. Gadis itu lebih banyak diam. Namun terlihat waspada. Manik matanya berkeliling.
"Kenapa?" tanya Wisnu penasaran.
"Siapa tahu ada copet lagi," bisik Hayu di dekat telinga Wisnu.
Buru-buru Wisnu menarik diri, sedikit menjauh dari Hayu.
"Kenapa?" Hayu balik bertanya.
Wisnu menggeleng. Kemudian segera melempar pandangan ke depan.
Justru kamu yang harus aku waspadai, Hayu! Kembalikan hatiku yang sudah kamu curi! teriak hati Wisnu.
Sore itu halaman pintu gerbang kampus UNS terlihat ramai. Banyak mahasiswa yang nongkrong, sekedar membunuh waktu sambil cuci mata. Ada juga yang sedang bergerombol, terlihat sedang berduskusi serius.
Hayu dan Wisnu kembali menapaki jalanan Gendingan. Setelah mengantarkan Hayu ke indekosnya, Wisnu segera berlalu.
"Baru datang, Dik?" sapa penghuni indekos yang sedang ngobrol di ruang tamu.
"Iya, Mbak," jawab Hayu sambil tersenyum. "Hayu ke kamar dulu ya, Mbak."
"Monggo, Dik."
Hayu hendak bersiap mandi, saat namanya dipanggil.
"Dik Hayuu. Ada tamu!"
Tamu? Mungkinkah Wisnu lagi? Ada urusan apa? Apa ada barang yang kebawa?Hayu bertanya-tanya.
"Sebentar, Mbak," jawab Hayu.
Bergegas gadis itu keluar kamar untuk menemui tamunya. Namun, saat melihat siapa yang datang, Hayu segera berbalik badan.
"Lho? Kok nggak jadi ditemui?" tanya salah seorang teman indekosnya.
Gadis itu menggeleng dan segera berlalu. Ada genangan air di pelupuk matanya. Dia mencoba menahan luka, amarah dan segala kesal yang ada.
"Bapak! Hayu butuh Bapak sekarang!" Tangis Hayu pecah di kamar.
Ini rupanya jawaban dari laki-laki yang mengikuti itu! Sok punya uang nyuruh orang lain cari anaknya! maki Hayu dalam hati.
"Mbak Hayu." Sebuah panggilan terdengar dari luar kamarnya. Suara Mbak Warni. Dengan terpaksa Hayu membuka pintu.
"Kenapa? Kok nangis," tanya Mbak Warni khawatir. Perempuan ini sangat baik hatinya, perhatian dengan anak-anak yang indekos.
"Ada tamu. Udah nungguin dari tadi," ucap Mbak Warni. "Mau dibilang sedang tidak enak badan? Tamunya perempuan. Boleh masuk kamar kok."
Hayu menggeleng.
"Hayu temui di luar saja, Mbak." Penjaga indekos itu mengangguk dan segera meninggalkan Hayu.
Gadis itu malas-malasan menemui tamunya.
"Kenapa lama sekali?!"
"Siapa yang nyuruh Ibu ke sini?!"
"Kamu ini nggak ada sopan-sopannya sama ibumu ya!" bentak Miranti.
"Pernah Ibu ngajarin Hayu untuk sopan?" Tidak ada Priyo, maka kesabaran Hayu menguap. Hanya karena bapaknya, gadis itu masih bersedia diajak bertemu ibunya.
Setelah perpisahan Priyo dan Miranti, praktis mereka hanya bertemu setiap lebaran di Laweyan.
"Kayak gini kalau didikannya nggak benar!"
"Tidak perlu merasa sok benar!" tukas Hayu. "Tidak perlu ke sini lagi!"
Hayu meninggalkan Miranti. Kesedihan mengaliri hati Miranti. Bersama Mercy Tiger-nya, dia tinggalkan Gendingan.
"Hukuman ini terlalu berat untuk aku, Gusti!" rintihnya.
Pandangan Miranti. kabur, karena air mata yang berdesakan untuk jatuh.
"Mau mati ya!" teriak sebuah suara.
Suara berdecit yang dihasilkan dari gesekan ban dan aspal, membuyarkan lamunan Miranti.
"Nyebur bengawan sana!" hardik suara yang lain.
Miranti membelokkan arah mobilnya ke jalur lambat. Wajahnya tertelungkup di atas setir.
"Tidak ada satu pun yang mau memahami aku!" Pecah tangisnya.
"Gusti! Apa seperti ini adil?" isak tangis itu semakin menjadi.
Sementara itu di kamar ukuran 3 x 2.5 m, ada isak tangis yang tertahan.
"Bapak. Maafkan Hayu, tidak bisa menahan diri." Gadis itu menelungkupkan wajahnya di bantal.
"Maaf, maaf, Bapak. Hayu yang salah." Hanya dekapan sang bapak yang mampu menghapus duka Hayu. Sayangnya, jarak sedang tidak berpihak.
Petang yang memerah, meninggalkan duka bagi Hayu. Gadis itu kembali membenci senja, karena telah menghadirkan luka lagi.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja