Novel Durma Bagian 7

"Sepertinya beberapa hari ini ada yang ngikutin Hayu, Mas."
Gadis itu menceritakan resahnya, saat berada di dalam bus tingkat.
"Maksudnya, Mbak?" tanya Wisnu.
Ah, kenapa sekarang panggilan mbak terasa kaku di lidah, keluh Wisnu dalam hati.
"Diikuti. Dibuntuti gitu," jawab Hayu.
"Iya, paham. Maksudnya, kok Mbak Hayu bisa tahu kalau ada yang ngikutin?"
"Beberapa hari yang lalu, ada teman yang kasih tahu." Hayu terdiam sejenak, mencoba mengingat ucapan temannya. "Ada laki-laki bertanya, Hayu itu yang mana orangnya."
Hayu memasang muka serius. Terlihat kerutan di dahinya.
"Ada laki-laki, kelihatannya bukan mahasiswa. Beberapa kali terlihat duduk di depan jalan masuk gedung A."
"Nah, kemarin sore pas Hayu mau beli makan ke Mbak Manis, laki-laki itu ada di sana juga." Gadis itu sedang mencoba mencari benang merah atas beberapa kejadian yang dia alami. "Dia ngelihatin Hayu terus."
"Semoga tidak berniat jahat," ucap Wisnu.
Dia mencoba menenangkan dengan menawarkan bantuan.
"Mau saya antar jemput saja kuliahnya?"
Hayu mengangguk.
Wisnu bersorak dalam hati, mendengar jawaban Hayu. Kemudian dia segera memegang dada, untuk meyakinkan bahwa tidak ada seorang pun yang mendengar teriakan hatinya. Senyum tersungging dari bibir Wisnu.
"Kenapa tersenyum, Mas?" Hayu menatap Wisnu yang terlihat senyum-senyum sendiri.
"E-eh. Lihat itu!" Wisnu menunjuk burung-burung yang sedang bertengger di kabel listrik. "Rasanya pingin bawa pulang."
Wisnu berusaha mengalihkan pembicaraan.
"Nggak nyambung!" tandas Hayu.
Hari ini pertama kali mereka pulang ke Selo bersama. Naik bus tingkat sesuai permintaan Hayu. Awalnya Wisnu menolak, karena pasti kemalaman sampai rumah. Namun, Hayu merengek dan bersedia bertanggung jawab, jika kena marah bapaknya.
"Benar kata Mas Wisnu," ucap Hayu sambil terus melihat keluar jendela.
"Benar tentang apa, Mbak?" tanya Wisnu.
"Lama! Busnya pelan banget!" Sekali-sekali Hayu menengok jam tangannya.
"Nah, iya," kata Wisnu.
"Jarak tempuh dari Kentingan ke Kartasura lebih jauh daripada Kartasura ke Kentingan," jelas Wisnu.
"Kalau ke Kartasura itu ibaratnya kita menyisir Solo lewat pinggir. Sedangkan ke Kentingan, membelah kota, lewatnya jalan utama saja."
"Oh. Nanti kalau nggak dapat kendaraan gimana, Mas?" Hayu terlihat mulai gelisah.
"Ya gimana lagi. Terpaksa jalan kaki," goda Wisnu.
"Nggak lucu!"
Seketika wajah Hayu berubah. Cemberut dan memilih diam, sebagai bentuk protes pada Wisnu.
"Bercanda saja, kok. Jangan khawatir. Nanti ada ojek," hibur Wisnu.
Hayu tidak menanggapi ucapan Wisnu. Pandangannya tertuju pada tembok-tembok tinggi di sepanjang jalan Radjiman, Laweyan.
Sekarang kita dekat. Namun, sesungguhnya tetap jauh. Karena hati tidak pernah merasa saling memiliki, rintih Hayu.
Pipi Hayu basah. Ada aliran bening yang datang tanpa permisi.
"Mbak," sapa Wisnu. Dia terkejut saat melihat Hayu menangis dalam diamnya. Gadis itu segera menyeka air mata yang jatuh.
"Maaf ya. Kalau guyonan saya tadi tidak berkenan." Laki-laki itu menunduk. Ada sesal yang hadir. Hayu diam, bukan karena marah dengan Wisnu. Ingatan tentang ibunya membuat butiran bening itu jatuh.
Wisnu serba kikuk menghadapi diamnya Hayu. Sampai kemudian datanglah pedagang asongan menawarkan tahu pong goreng.
"Mau, Mbak?" tanya Wisnu sambil mengulurkan tahu. "Ini tahu Kartosuro. Lembut, gurih ...."
Belum selesai Wisnu berkata, tahu itu sudah berpindah ke tangan Hayu.
"Oh, kalau marah obatnya makanan ya? Laparkah?" goda Wisnu.
Hayu tidak menjawab. Gadis itu sibuk menikmati tahu.
"Cukup sekali naik bus ini!" Akhirnya suara itu kembali. Wisnu lega.
"Iya. Setuju!" ucap Wisnu penuh semangat.
Hayu menempelkan jari telunjuknya yang lentik ke bibir. Sebagai isyarat agar Wisnu tidak bersuara.
Dan, benar saja. Gerakan itu mampu membuat Wisnu terdiam. Karena selanjutnya hati dan pikirannya sibuk merajut semua keindahan sore ini.
"Ayo turun!" ajak Wisnu sesampainya di terminal Kartosuro. Hayu mengangguk, kemudian mengikuti langkah Wisnu.
"Kita naik bus apa, Mas?" tanya Hayu. Satu tangan gadis itu masih sibuk menjaga sisa tahu yang belum habis dimakan.
"Arah Semarang." Wisnu mengedarkan pandangannya. Mencari bus yang masih ada bangku kosongnya.
"Habisin dulu tahunya. Apa mau dibawa sampai
Selo?" tanya Wisnu. "Hati-hati bawa tasnya. Taruh di dada saja!"
Hayu mengangguk. Dia segera melakukan yang diperintah Wisnu.
"Jogja! Jogja!"
"Prambanan! Klaten!"
"Boyolali! Ampel! Salatiga! Semarang!"
Suara kernet bus saling bersahutan mencari penumpang.
Sabtu sore menjadi waktu yang terhitung ramai di terminal ini. Pertemuan penumpang dari arah Solo dan Jogja penyebabnya.
Begitu menemukan bus yang masih ada bangku kosongnya, Wisnu segera menyuruh Hayu naik terlebih dahulu. Gadis yang tingginya 160 cm itu selalu berada dalam perlindungan Wisnu. Kedua tangan lelaki itu menjadi penjaga tubuh Hayu di tengah penumpang yang berebut naik.
"Mas, situ saja!" tunjuk Hayu. Gadis itu segera duduk di kursi kosong dekat pintu belakang. Wisnu menuruti permintaan Hayu.
Tidak menunggu lama, bus segera berangkat. Beberapa saat setelah meninggalkan terminal, ada dua orang naik. Seorang perempuan paruh baya dan laki-laki.
"Bu," sapa Wisnu sembari siap berdiri, "silakan duduk di sini."
Ibu itu tersenyum.
"Matur nuwun, Mas."
Wisnu mengangguk. Dia segera mencari posisi berdiri yang enak.
"Mau ke mana, Mbak?" tanya si ibu yang duduk di samping Hayu.
"Boyolali, Bu," jawab Hayu ramah, "kalau Ibu?"
"Semarang. Mbak. Kuliah?" Si ibu melontarkan pertanyaan lagi.
"Iya, Bu." Mata Hayu sekali-sekali mencuri pandang ke arah Wisnu. Memastikan laki-laki itu tidak berpindah tempat.
"Kalau hari Sabtu ramai seperti ini, ya?" Ibu itu masih terlihat ingin mengobrol dengan Hayu.
"Kurang tahu, Bu."
Hayu sebenarnya sedang memperhatikan laki-laki yang berdiri di dekat Wisnu. Gerakan tubuhnya agak mencurigakan. Sehingga gadis itu agak malas meladeni obrolan ibu yang di sebelahnya.
"Boyolalinya di sebelah mana, Mbak?"
"Copeet! Mas, dompetmu!" teriak Hayu.
Wisnu terkejut dengan teriakan Hayu. Refleks menepis tangan yang menggerayangi kantong celana. Tempat di mana dompetnya tersimpan.
"Kurang ajar!" Wisnu bersiap memukul orang yang diduga copet. Sayang, bus berhenti mendadak, sehingga keseimbangan Wisnu goyah. Kesempatan itu dipakai pencopet untuk segera turun. Perempuan yang duduk di sebelah Hayu pun ikut-ikutan turun.
"Oh, Ibu ini tadi gerombolannya!" tukas Hayu.
"Mas kernet, ingat-ingat wajah mereka, ya! Jangan boleh naik bus ini lagi!" pesan Hayu dengan wajah serius.
"Wah saya lupa wajah mereka! Kalau wajah Mbak cantik, saya ingat," gurau sang kernet.
Hayu tertawa.
"Ada-ada saja sampeyan ini," balas Hayu.
"Pacarnya cantik, Mas!" ucap kernet tersebut.
Hayu tertawa mendengar ucapan sang kernet. Sedangkan Wisnu sibuk mengaamiinkan, meski dalam hati.
"Turun mana, Mas?" Terlihat Hayu mulai khawatir. Senja sudah masuk ke peraduan dan mereka baru separuh perjalanan.
"Terminal saja." Wisnu menatap gadis yang sedang gelisah itu. "Jangan khawatir."
"Sampai Selo mau?" Gantian Hayu balas memandang Wisnu, meminta kepastian. Wisnu segera mengangguk dan cepat-cepat melempar pandangan keluar jendela. Mungkin takut semakin jatuh dalam pesona kembang desa itu.
Lampu-lampu kota di Boyolali mulai dinyalakan. Pertanda malam telah siap menunaikan tugas.
"Boyolali terakhiiir!" teriak kernet mengingatkan penumpang. Wisnu dan Hayu turun di terminal Boyolali.
"Mbak Hayu tunggu di sini ya. Saya nyari ojek dulu." Hayu menggangguk. Dia memilih duduk di bangku yang cukup penerangan lampunya.
Sekali-sekali Hayu melongok ke kanan kiri. Mencari keberadaan Wisnu.
Tepukan keras di dekat telinga membuat Hayu nyaris berteriak. Kalau saja Wisnu tidak segera bersuara.
"Kageet pasti!" goda Wisnu.
"Nggak lucu!" ketus Hayu.
"Bejo kita ini, Mbak!" Wisnu mengambil tas punggungnya. "Ayo!"
"Ke mana?"
"Pulang!" jelas Wisnu.
Wisnu berjalan sedikit lebih cepat dari biasanya. Hayu harus berlari kecil agar tetap di samping Wisnu.
"Ayo naik!" perintah Wisnu.
"Katanya ojek?" Hayu heran saat Wisnu memintanya masuk ke sebuah mobil.
"Itu tadi yang saya bilang kita beruntung," ujar Wisnu.
"Oalah, ternyata Wisnu nggak sendirian." Suara laki-laki menjawab kebingungan Hayu.
"Lek Mardi!" seru Hayu girang. "Ini gredek sampeyan?"
Laki-laki yang dipanggil Lek oleh Hayu mengangguk.
Gredeg adalah sebutan colt keluaran Jepang tahun 70-an. Kendaraan ini dipakai untuk transpostasi umum di lereng Merapi.
"Tadi habis beli bensin dari pom. Ngopi sebentar di sini, Mbak," jelas Lek Mardi.
"Bejoku, Lek!" ucap Hayu penuh rasa syukur.
"Monggo, Mbak."
Gredeg, segera menembus malam, menuju lereng Merapi.
"Lek, nitip pesan buat Rahayu, " ucap Hayu, "besok latihan tarinya pukul 9 pagi ya."
"Baik, Mbak. Nanti saya sampaikan," janji Lek Mardi.
"Kalau capek, tidur saja," kata Wisnu, "lumayan 30 menit."
Hayu mengangguk. Meskipun suara kendaraan yang ditumpanginya berisik, tetapi lelah sudah mendera tubuh.
Dicarinya posisi paling nyaman untuk memejamkan mata.
"Kowe yo turu o, Nu!" perintah Lek Mardi. "Nanti aku bangunin."
Wisnu mengangguk. Rasa kantuk dan lelah memang sudah menghampiri. Tas punggung berubah menjadi bantal.
Jalan menanjak menyebabkan gredeg berjalan pelan. Jika saja Wisnu tidak kelelahan, pasti dia memilih untuk melukiskan indahnya kebersamaan dengan Hayu. Sayang, raganya meminta hak untuk sejenak melepas penat.
"Nu. Wisnu. Bangun!" Lek Mardi menepuk lengan Wisnu, saat gredeg itu tiba di rumah Juragan Broto. Namun, rupanya penumpang satu ini benar-benar terlelap.
"Sudah sampai, Lek?" Justru Hayu yang terbangun.
"Sudah, Mbak."
"Mas Wisnu! Bangun!" Gadis itu membantu membangunkan. Wisnu menggeliat memdengar suara Hayu.
"Mas, sudah sampai!" ulang Hayu.
Buru-buru Wisnu bangun. Diam sejenak untuk mengumpulkan kesadarannya.
"Matur nuwun, nggih, Lek." Hayu menyerahkan uang sebagai pengganti bahan bakar.
"Nggak usah, Mbak!" tolak Lek Mardi. "Ini kan sekalian pulang."
"Terima saja to, Lek! Rezeki," bujuk Wisnu.
"Benar!" tegas Hayu.
Dengan sedikit memaksa, Hayu memasukkan uang ke kantong baju sang sopir.
"Terima kasih banyak, Mbak." Lek Mardi mengangguk takzim. "Kalau perlu, setiap Sabtu saya tunggu di terminal Boyolali, Mbak."
"Nggih, Lek," ucap Hayu sambil tersenyum, "jangan lupa pesan saya buat Rahayu."
Mardi mengangguk. Mereka pun segera berpisah.
Semenjak Wisnu kuliah. Regol dari jati alas sudah berganti dengan pagar besi. Kata Priyo agar Sinem tidak repot membuka dan menutup.
"Gimana rasanya pulang, Mbak?" tanya Wisnu.
"Tempat ini memang paling pas buat Hayu, Mas."
Gadis itu merentangkan tangan. Menikmati setiap helaan napas. Matanya terpejam. Hayu ingin tenggelam dalam udara yang basah. Di bawah remang lampu bohlam, wajah itu menjadi penyempurna bagi malam Wisnu.
Bulan pun kalah cantik, jika kamu tersenyum, bisiknya dalam hati.
Hayu membuka mata dan tersenyum.
Mati aku! seru Wisnu dalam hati.
"Nah! Ketahuan melamun lagi, kan?" goda Hayu.
Wisnu salah tingkah.
"Monggo, Mbak!" ajak Wisnu untuk segera masuk rumah.
Wisnu mengetuk pintu. Kemudian mencoba membukanya dengan mendorong perlahan.
"Tidak dikunci, Mbak," jelas Wisnu. "Kulo nuwun!"
"Nggih." Terdengar suara menyahut dari dalam.
Ternyata Juragan Broto sekaliyan dan Priyo sedang berbincang di pendopo.
"Wah putuku mulih!" seru Juragan Broto putri.
Hayu segera menghambur ke pelukan Simbah putrinya. Kemudian mencium tangan Simbah kakung dan terakhir bapaknya.
Wisnu tahu diri. Sesudah menyalami ketiga juragannya, dia segera melipir. Meninggalkan pendopo untuk menemui simboknya di pawon.
Malam itu lereng Merapi kembali mendekap Hayu dalam mimpi indah. Kabut yang turun perlahan, seakan menjadi selimut bagi alam.
Fajar menyingsing. Menjadi pertanda embun harus rela menghilang. Hayu bergegas keluar kamar. Minggu pagi biasanya Priyo mengajak Hayu keliling desa.
"Mbok, Bapak ke mana, ya?" Hayu celingukan mencari bapaknya.
"Sepertinya di belakang, Den. Mungkin lihat Meri-meri yang baru menetas," ujar Sinem.
"Matur nuwun, Mbok," ucap Hayu. Sinem tersenyum.
Andaikan bukan putri Juragan Priyo. Pasti saya berani bermimpi, agar Den Hayu menjadi pendamping Wisnu, harap Sinem dalam hati.
Halaman belakang rumah begitu teduh. Tampak beberapa pohon buah tumbuh dengan baik. Suara unggas saling bersahutan. Suasana pagi yang hangat di lereng Merapi.
Hayu melihat bapaknya sedang duduk memandangi anak bebek dan ayam yang baru menetas.
"Pak," panggil Hayu.
"Nduk. Sudah bangun?"
"Hayu ngelindur ini!"Gadis itu pura-pura memejamkan mata sambil berjalan ke arah bapaknya. Priyo tertawa. Kerinduan karena berpisah satu minggu terobati.
"Anak ayamnya juga baru menetas, Pak?" tanya Hayu. Priyo mengangguk.
"Kok meri-meri itu sama ayam?" tanya Hayu.
"Bebek di sini tidak mau mengerami telurnya. Jadi Bapak titipkan ke induk ayam," jelas Priyo.
"Hmm. Rupanya induk meri tidak bertanggung jawab!" kelakar Hayu.
Pecahlah tawa bapak dan anak itu.
"Habis menetas meri-meri itu nggak nyari induknya, Pak?" Hayu penasaran. Gadis itu memang tidak begitu suka binatang.
"Kenapa?"
"Bisa jadi induknya meri kesepian, lho, Pak!"
"Memang hewan punya perasaan?" tanya Priyo. "Yang pasti kesepian adalah ibumu!"
Priyo memandang wajah putrinya. Hayu melengos dan bergegas meninggalkan bapaknya.
"Hayu!" panggil Priyo.
Gadis itu tidak menghiraukan panggilan bapaknya. Dia tetap berjalan, menjauh.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja