Novel Durma Bagian 14

Akhirnya Hayu dan teman-temannya menghirup udara pedesaan untuk melaksanakan KKN. Lempong merupakan desa yang terletak paling ujung di dalam wilayah Kecamatan Jenawi. Jalannya beraspal, listrik sudah dinikmati hampir semua penduduknya. Hanya satu yang masih menjadi keluhan yaitu kualitas air. Warnanya kecokelatan.
"Rin, bisa tolong potong rambut Hayu?" pinta Hayu pada Rini.
"Aduuuh, eman, Yu! Bagus juga segini."
Rini adalah anak FISIP yang sekamar dengan Hayu. Dia merasa keberatan dengan permintaan teman barunya itu.
"Airnya, Rin!" Hayu memberi alasan. "Nanti rambutnya malah rusak."
Hayu mematut dirinya di depan cermin. "Sebenarnya nggak tega juga. Apa daya airnya tidak memungkinkan."
"Ayolah, Rin!" bujuk Hayu.
Rini memandang Hayu. Gadis Lereng Merapi itu memasang wajah memelas.
"Baru kenal sebentar, kenapa kamu sudah pandai mengambil hatiku, Yu?" tanya Rini. Hayu tertawa.
"Potongnya di teras saja," usul Rini, "Kamarnya sempit."Hayu mengangguk.
Hari pertama KKN ditandai dengan acara potong rambut.
"Duh, ini mau potong rambut, bukan bancaan!" ujar Rini, saat melihat teman-teman ikut melingkari dirinya dan Hayu.
"Ada acara apa ini?" tanya Pak Suhadi. Beliau adalah Kepala Desa Lempong. Kebetulan rombongan mahasiswa ini akan tinggal di rumah Sang Kades selama dua bulan ke depan.
"Peresmian KKN, Pak!" celetuk Andi yang disambut tawa teman-teman. Anak sastra Indonesia itu memang paling heboh di antara lainnya.
"Biar gampang saja, Pak," jelas Hayu.
"Bapak perlu ikut gunting tidak?" canda Pak Suhadi yang diikuti tawa para mahasiswa. "Ya sudah, silakan dilanjut. Bapak masuk dulu."
"Injih, Pak!" Mereka serempak menjawab.
"Dipotong seberapa, Yu?" tanya Rini.
"Pendek saja, sebahu!" pinta Hayu.
"Memang kamu bisa motong, Rin?" tanya Andi.
"Asal kres saja!" Rini mengerlingkan matanya.
"Sadis!" komentar Andi.
Lagi-lagi teras itu dipenuhi tawa.
Akhirnya rambut hitam itu berjatuhan ke lantai.
"Siapa mau nyimpan rambut Hayu?" tanya Andi.
"Eh jangan!" cegah Rini.
"Kenapa?" tanya Andi.
"Bisa buat nyebeh! Guna-guna," ucap Rini.
"Rin, kamu orang mana sih? Masih percaya dengan hal-hal seperti itu," tanya Hayu.
"Orang-orangan sawah!" jawab Rini pura-pura ketus, yang disambut gelak tawa.
Setelah proses potong rambut selesai, mereka melanjutkan dengan diskusi. Teguh mahasiswa Arsitek, selaku koordinator desa memimpin rapat untuk persiapan pelaksanaan program-program KKN
"Yu, Teguh berwibawa sekali, ya," bisik Rini.
"Eits, baru hari pertama. Sudah ada yang memuji, nih," goda Hayu. Tangan Rini mendarat di lengan teman sekamarnya itu. Sebuah cubitan kecil.
"Aduuuh!" jerit Hayu.
Seketika semua mata tertuju pada asal suara.
"Ada apa, Yu?" tanya Teguh khawatir. "Sakit?"
"Eh-eh, enggak. Maaf, maaf." Hayu menangkupkan kedua tangannya di dada. "Silakan lanjut Pak Kordes."
Teguh melempar senyum untuk Hayu.
"Mati aku! Senyumnya!" tandas Rini. Hayu menutup mulut, agar tawanya tidak menganggu.
"Baiklah teman-teman, sekarang silakan beristirahat. Jangan lupa selalu jaga kesehatan," pesan Teguh.
"Baik Pak Kordes!" Serempak mereka menjawab.
Bunyi jangkrik kembali menjadi penghantar tidur. Malam menyelimutkan gelap, agar penghuni bumi bisa beristirahat.
Semburat merah nampak di ujung langit sebelah timur. Pagi ini diawali dengan antri mandi. Maklum kamar mandi hanya satu, sedangkan acara perkenalan dengan perangkat desa dimulai pukul 8.00 WIB.
Semalam telah diadakan pembagian tugas. Menimba air dikerjakan laki-laki. Sedangkan membersihkan rumah dan membantu memasak tugas perempuan.
Setelah perkenalan dengan perangkat desa, Hayu dan teman-teman mendatangi SD Lempong 1. Mereka akan membantu mengajar dan memberikan keterampilan. Sudah pasti Hayu melatih menari. Baginya tarian bukan hanya sekedar menggerakkan tubuh, tetapi sudah menjadi panggilan jiwa. Sehingga selalu ada dorongan untuk terus belajar dan berbagi.
Tidak sulit bagi Hayu untuk merebut perhatian murid-murid. Keluwesan dalam menari dan pembawaannya yang hangat menjadi pemikat.
"Seminggu berapa kali Hayu bisa mengajar mereka menari, Pak Kordes?" tanyanya pada Teguh.
"Bisa selang-seling dengan program mengajarnya Leni," jelas Teguh, "begitu ya, Len?"
"Iya," jawab Leni. Anak Fakultas Ekonomi itu merupakan peserta KKN yang paling pendiam.
***
Sebagai mahasiswi Fakultas Pertanian, Hayu menjadi ujung tombak kegiatan penyuluhan. Seringkali hingga larut dia baru sampai rumah Pak Suhadi, karena memenuhi undangan pertemuan kelompok tani.
Untung teman-temannya sangat pengertian. Mereka tidak tidur sebelum Hayu pulang. Selalu saja kedatangan gadis itu disambut dengan celotehan yang membuat lelahnya hilang.
"Hayu, boleh minta potongan rambutmu?" tanya Andi.
"Duh Gusti, Ndi! Masih ingat juga!" Tawa Rini pecah.
"Boleh ya, Yu! Buat kenang-kenangan!" rengek Andi.
"Jangan mau, Yu! Nanti kamu dipelet Andi!" cegah Rini.
Andi menjulurkan lidahnya.
"Ini melet!" ejeknya.
Rini dan Andi seperti kucing dan tikus, setiap bertemu selalu saja ada yang diributkan. Untung mereka berdua bukan orang yang mudah tersinggung. Teguh selaku koordinator sangat bertanggung jawab. Orangnya terbuka. Cepat tanggap terhadap keluhan teman-teman. Jika ada masalah, segera dicari jalan keluar.
"Kita nyuluh belut, yuk!" usul Andi. "Buat refresing setelah serius dengan berbagai program."
"Ayo!" Rini paling bersemangat.
"Kalau oke, aku mau bilang Iput. Biar dia temani," ucap Andi.
Iput adalah putra Pak Suhadi. Seorang mahasiswa di sebuah perguruan tinggi swasta di Solo.
"Boleh saja. Tetapi harus jaga diri!" Teguh berpesan untuk semua. "Nyuluh belut itu pasti tengah malam. Jangan sampai mengganggu program kita!"
"Hayu ikut!" Gadis itu mengacungkan jari telunjuk.
"Wah kalau Hayu ikut, bakal banyak yang ikut juga, nih!" celetuk Andi.
"Kok bisa?" tanya Hayu.
"Kamu itu ibarat magnet, Cantik!" goda Andi. Hayu tertawa, dia sudah terbiasa dengan celetukan Andi.
"Sudah larut. Ayo istirahat dulu," ajak Teguh.
Ruang tamu Pak Suhadi kembali sepi. Para pendatang itu segera merebahkan badan, agar bisa memeluk mimpi.
***
Akhirnya agenda kegiatan mahasiswa KKN di Lempong bertambah,
yaitu nyuluh belut.
Berjalan tengah malam di pematang sawah hanya diterangi lampu petromak, ternyata menjadi candu. Gelak tawa saat belut incaran terlepas, membuat malam justru menjadi semakin hangat. Kotor karena lumpur menjadi bumbu yang tidak boleh ditinggalkan.
Pasukan pencari belut pun bertambah. Rupanya kegiatan ini mampu menjadi perekat bagi pemuda desa dan para mahasiswa. Tidak ada jarak antara mereka.
"Besok gantian main ke sungai, mau?" ajak Iput. "Njenu ikan."
"Wah asyik itu!" seru Andi.
"Njenu ikan itu apa?" tanya Rini.
"Ngasih racun!" jawab Andi.
"Husss, kan nggak boleh!" tegas Rini.
"Di sini boleh," kata Iput sambil tertawa.
"Dari pada njenu ikan, lebih baik belajar nyablon saja," usul Hayu.
"Mauuu!" Tanpa diminta Iput langsung setuju dengan usul Hayu.
"Asal yang ngomong Hayu, Iput pasti setuju. Iya nggak, bos?" goda Andi. Yang digoda langsung tertawa ngakak.
"Lha mau gimana to, Mas? Usul Mbak Hayu kan bagus," elak Iput.
"Bagus, Yu! Besok kita ke Sragen belanja bahan-bahan," sela Teguh.
"Siapa tahu bisa menjadi cikal bakal usaha buat para pemuda di sini," ucap Hayu.
"Mbak Hayu memang top!" puji Iput. Hayu tersenyum.
Benar kata Wisnu. KKN memang menjadi sarana belajar mengabdi kepada masyarakat. Tiba-tiba ingatan Hayu terbang ke Solo.
Sedang apa dia? Tanya gadis itu dalam hati.
***
Hayu dan teman-teman tenggelam dalam keasyikan hidup di desa. Hingga tidak terasa waktu begitu cepat berjalan. Hayu dan Rini sedang duduk-duduk di ruang tamu sambil mengerjakan tugas masing-masing.
"Sudah satu bulan ya, Rin. Nggak terasa." Sejenak Hayu melempar pandangan keluar. Hamparan hijau ada di depan matanya. Salah satu yang membuat betah di Lempong adalah melihat sawah yang terbentang luas. Pemandangan yang mahal harganya bagi mata.
"Kamu nggak pulang, Yu?" tanya Rini.
Hayu menggeleng. Dia kembali melihat kertas di depannya.
"Nggak kangen rumah?"
"Kangen, tapi perjalanan jauh bikin malas!" keluh Hayu.
"Orang tuamu nggak nengok? Atau seseorang yang spesial?"
"Bapak mungkin baru sibuk. Seseorang yang spesial? Hayu belum laku," ungkapnya.
Terdengar suara motor berhenti di depan rumah Pak Suhadi.
"Yu! Ada cowok datang!" seru Rini. Hayu malas menengok. Dia tetap sibuk menulis materi untuk pertemuan dengan kelompok tani.
"Kulo nuwun ...."
Seketika Hayu mendongak. Hampir saja jantungnya copot.
"Cari siapa, Mas?" tanya Rini.
Tamu itu menunjuk Hayu. Rini menengok gadis di sampingnya.
"Kenal?" tanya Rini. Hayu mengangguk.
"Oh, silakan masuk," ucap Rini dengan ramah.
Hayu segera berdiri, menyambut tamu tersebut. Karena terburu-buru, kakinya terantuk kursi.
"Nah, lho! Hati-hati!" pesan Rini.
Hayu nyengir saja untuk menutupi debaran hatinya.
"Mas, kenalin. Ini Rini," kata Hayu.
"Wisnu," sapa laki-laki itu ramah.
"Rini," balasnya
"Cukup?" goda Hayu.
"Iya, iya!" Rini tertawa sambil berlalu.
"Kok bisa sampai sini?" Binar mata Hayu terlihat jelas.
"Bisa to, Mbak. Wong punya kaki," canda Wisnu. "Ada yang berubah, nih. Kok dipotong?
"Airnya cokelat. Hayu jelek, ya?"
Wisnu menggeleng.
Kapan kamu pernah jelek to, Wong Ayu, puji Wisnu dalam hati.
Wisnu menyerahkan tas kresek.
"Apa ini?" tanya Hayu.
"Tadi mampir makan. Ayam gorengnya enak. Bisa dibagi sama teman-teman," tutur Wisnu.
"Matur nuwun, Mas," ucap Hayu.
"Kalau orang sudah pernah KKN paham, ya," seloroh Hayu diikuti tawa Wisnu.
"Makanan paling mewah di sini apa?" tanya Wisnu.
"Apel umbel," ucap Hayu.
"Apa itu?"
"Buah. Mas Wisnu belum pernah makan?" tanya Hayu. Wisnu menggelengkan kepala.
"Warnanya hijau muda seperti apel malang. Kulitnya halus. Kalau kita buka, dagingnya lembut dan berair. Rasanya perpaduan antara apel dan sawo."
"Hayu juga baru makan di sini. Ketagihan, Mas!" candanya.
"Kayaknya betah di sini," tebak Wisnu.
"Harus betahlah."
"Sebentar lagi selesai," ucap Wisnu.
"Iya. Cepat sekali ya."
Lama, terasa lama jika tidak melihat kamu, bisik Wisnu dalam hati.
Obrolan ke sana ke mari menjadi teman menghabiskan waktu. Langit biru perlahan mulai berubah menjadi jingga. Wisnu harus pamit.
"Hati-hati ya, Mas!" pesan Hayu. Wisnu mengangguk, tanpa bicara. Namun ada senyum yang dia tinggalkan untuk gadis pujaannya.
Pengendara motor itu semakin menjauh, tiba-tiba Hayu merasa ada yang hilang. Gadis itu memegang dadanya. Memastikan rasa itu masih rapat tersimpan di sana.
"Yang habis diapelin. Ngakunya nggak laku. Ternyata pacarnya ganteng banget!" celoteh Rini.
"Huuuush. Bukan pacar!" elak Hayu.
Malam itu nasi Bu Suhadi ludes karena menemani ayam goreng yang dibawa Wisnu.
"Sering-sering ditengok dong, Yu!" pinta Andi. "Biar kita tetap sehat."
"Setuju!" timpa yang lain.
"Bangkrut dong!" tukas Rini.
Dari hari ke hari suasana kekeluargaan semakin terasa. Setelah selesai makan mereka istirahat, karena perut kenyang. Tidak tergoda untuk nyuluh belut.
***
Purnama baru telah muncul. Langit Lempong terlihat lebih indah.
"Asyiiik kurang dua hari lagi!" Rini terlihat girang.
"Di tempat kita KKNnya gagal ya, Rin!" seru Andi.
"Maksudmu?" tanya Rini.
"Ya gagal!" tegas Andi.
"Maksud omonganmu apa to, Ndi?" Teguh akhirnya angkat suara.
"Tidak terjadi Kisah Kasih Nyata," jelas Andi sambil tergelak. "Cowoknya pada penakut. Beraninya ngomong dibelakang saja!" celetuk Andi.
"Termasuk aku, kata Andi!" ejek Rini.
Hayu tersenyum.
"Hayu bakal kangen sama Andi," ucapnya.
"Horooook, beneran, Yu?" tanya Andi hampir tidak percaya.
Hayu mengangguk.
"Kangen suasana ramai seperti ini, guyonan Andi," jelas Hayu.
"Yah Yu! Kirain!" sungut Andi.
"Hahaha, ngaca dulu. Kalau lebih ganteng dari Mas Wisnu, bolehlah maju!" goda Rini.
Hayu merasa mendapat saudara baru. Kedekatan mereka tidak hanya sebatas teman karena pernah hidup satu rumah selama dua bulan. Persahabatan dengan hati, begitu kata Andi.
Sementara itu, jauh di lereng Merapi.
"Le, Bapak kangen Hayu," ungkap Juragan Broto.
"Dua hari lagi Hayu pulang, Pak."
"Wis ora sronto! Kudu ketemu Hayu. Besok antar nengok, ya!"
"Jauh lho, Pak!" Priyo beralasan.
"Tak minta tolong orang lain saja! Kangen kui obate ketemu!" Juragan Broto terlihat kesal.
"Nggih. Kulo nderekne." Akhirnya Priyo mengalah.
Kabut masih menyelimuti Lereng Merapi, saat mobil yang dikendarai Priyo meninggalkan Selo.
Sejak berangkat laki-laki itu merasakan tidak enak hati. Entah apa penyebabnya. Baru beberapa saat kemudian dia merasakan ada yang tidak beres dengan kendaraannya. Namun sayang, Priyo terlambat menyadari. Hanya jerit dari orang tuanya yang terdengar.
Gelap.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja