Novel Durma Bagian 12

Runtuh sudah pertahanan Miranti selama ini. Ketegaran untuk menutupi rasa rindu kepada Hayu hilang tak bersisa. Dibenamkan wajahnya diantara tumpukan kain batik. Tangis itu tidak bersuara, tetapi cinta sedang berbicara.
Kebahagiaan bapaknya harus ditebus dengan harga yang tidak murah. Sebuah janji telah terucap dan harus ditepati. Perempuan itu tenggelam dalam lara.
"Maafkan! Maafkan!"
Entah berapa kali kata maaf itu terucap di sela-sela tangisnya. Miranti mengusap-usap dada dan terus mengucapkan kata maaf. Hingga dia tidak sadar bahwa malam telah mendekap bumi.
"Ranti ke mana to, Bu?" tanya Pak Dipo. "Dari sore tidak kelihatan."
"Wah iya!" Bu Dipo seperti diingatkan tentang keberadaan putrinya. Dilihatnya deretan kunci yang tergantung di dinding. Satu per satu beliau periksa.
"Kunci kendaraan ada semua," ungkap Bu Dipo, "kunci show room yang belum ada, Pak."
"Ayo dilihat, Bu!" ajak Pak Dipo.
Suami istri itu bergegas ke tempat yang mereka maksud.
"Wis petengan. Gelap semua" ucap Pak Dipo.
"Coba dibuka saja, Pak. Bisa tidak?" usul Bu Dipo.
Perlahan Pak Dipo mendorong pintu itu dan terbuka.
"Lha dalah! Tidak dikunci, Bu!"
Pak Dipo segera menekan sakelar. Terlihat sosok yang dicari. Tubuh Miranti tertelungkup di atas tumpukan kain batik. Seperti ketiduran.
"Biar Ibu yang membangunkan," pinta Bu Dipo, "Bapak masuk ke rumah saja, ya."
Pak Dipo mengangguk. Dia tidak ingin bermasalah dengan Miranti. Lekaki sepuh itu kemudian berjalan menjauh, meninggalkan istri dan anaknya.
"Ran, Ranti! Bangun!" Bu Dipo menyentuh lembut bahu putrinya.
"Eh, kok Ibu di sini?" Miranti terkejut. Beberapa saat dia terdiam. Ingatannya kembali pada kejadian terakhir yang dilihat. Mungkinkah Hayu sudah pulang, sebuah tanya menggelayuti hatinya.
"Kamu tadi ke mana saja?" Bu Dipo menatap wajah Miranti yang sembab. "Tadi Priyo ke sini. Hayu juga ikut."
"Oh, jam berapa?" Miranti harus berpura-pura. "Kok saya tidak dikasih tahu, Bu?"
"Ibu kira kamu sedang keluar, Nduk! Maaf, ya," ucap Bu Dipo.
Miranti tersenyum.
"Benar kamu tidak tahu tadi Priyo ke sini?" Agaknya Bu Dipo tidak percaya dengan jawaban putrinya.
Miranti mengangguk pasti dan segera berdiri untuk menghindari pertanyaan selanjutnya.
"Saya terlalu capek, Bu. Sampai bisa ketiduran di sini."
"Yo wis! Istirahat dulu saja!" Bu Dipo.
"Sebenarnya apa yang kamu sembunyikan, Nduk? Ibu hanya ingin kamu jujur. Bukan untuk orang lain, tetapi untuk hatimu sendiri," gumam Bu Dipo.
"Ibu bicara sama Ranti?" tanya Miranti.
"Eh tidak, Nduk!" Bu Dipo sedikit gugup. Tidak mungkin mengulik isi hati putrinya saat ini.
"Tentu Bapak bahagia bertemu Hayu," tebak Miranti.
Bu Dipo mengangguk.
"Pasti, Nduk!"
"Semoga Hayu bisa sering ke sini," harap Miranti.
Ini bukan buah simalakama. Entah seperti apa wujud bahagia untukku, tapi pasti ada, yakin Miranti dalam hati.
Malam sedang bertugas menjadi penjaga alam. Gelap memberi tempat yang luas bagi para pemimpi untuk terbang.
Ada tirakat yang harus dilalui Wisnu. Laki-laki itu tetap terjaga di tengah kesunyian.
Lirih
Bait demi bait kidung penenang hati kembali dia lantunkan.
Pagupaning warak sakalir
Nadyan arca myang segara asat
Temahan rahayu kabeh
Apan sarira ayu
Ingideran kang widadari
Rinekso malaekat
Sakathahing rasul
Pan dadi sarira tunggal
Ati adem utekku Baginda Esis
Pangucapanku ya Musa
Penggalan kidung Rinekso Wengi kembali mengalun syahdu dari bibir Wisnu. Sunyi tidak lagi sepi baginya. Perlahan ketenangan hati telah kembali. Jalan yang diambil sekarang, mungkin benar. Menghilang dari pandangan Hayu.
Aktivitas Wisnu bertambah. Mengajar bimbingan belajar di daerah Margoyudan. Kesibukan ini, sedikit banyak mampu mengalihkan pikirannya tentang Hayu.
Seminggu tiga kali, Wisnu harus berjalan membelah kampus. Demi mendapatkan bus menuju Margoyudan. Turun di Ledoksari, kemudian lanjut berjalan kaki menuju tempat bimbingan belajar.
Pagi itu saat Wisnu siap berangkat ke kampus, Wawan teman indekos menghampiri.
"Nu, selesai ngajar pukul berapa?" tanya Wawan.
"18.00," jawab Wisnu sambil mengikat sepatu. "Kenapa?"
"Mas Iwan mau ngajak makan-makan di Mesen. Bisa?"
"Bisa, sesudah ngajar," jelas Wisnu, "Mas Iwan lulus pendadarannya?"
Wawan mengangguk.
"Kamu langsung nyusul ke Mesen saja ya," pesan Wawan.
Wisnu mengangguk. Segera disambarnya jaket dan topi, lalu bergegas berangkat ke kampus. Ada rapat untuk persiapan OSPEK.
"Berangkat dulu, Wan!" ucapnya.
"Yoo!"
Saat para senior mulai disibukkan dengan persiapan OSPEK,
Hayu dan teman-temannya pun segera mengakhiri penataran P4.
"Yu, diajak koti makan-makan." Dina menyampaikan pesan dari koordinator tingkat.
"Kapan?" Hayu sibuk memasukkan peralatan tulisnya. "Di mana?"
"Nanti malam. Di Mesen," jelas Dina.
"Mesen itu mana? Pernah dengar nama tempat itu," tanya Hayu.
"Makanya nanti malam ikut. Ikut ya, Yu!" bujuk Dina.
"Yo wis! Baiklah. Demi kamu!"
Rupanya sang waktu sedang bersiap mempermainkan dua hati yang sudah mulai tenang.
"Kita berangkat naik apa, Na?" tanya Hayu saat malam menjelang. Gadis itu terlihat segar, memakai kaos berwarna kuning dan celana jeans. Rambut hitamnya dia biarkan tergerai. Ada harum yang menguar, lembut tidak berlebihan.
"Kita dijemput," ucap Dina.
"Si koti mau-maunya repot!" tandas Hayu. "Jangan-jangan ...."
"Iyalah! Pasti!" potong Dina. "Dia kan mau nagih surat balasan kemarin itu!"
"Aku batal ikut!" protes Hayu.
"Bercanda, Yu! Serius amat, sih!" balas Dina.
Terdengar bunyi bel.
"Itu pasti si Koti!" tebak Dina. "Tolong bukain dong, Yu."
Hayu tampak malas, langkahnya gontai. Entah mengapa, tiba-tiba dia enggan untuk pergi.
"Sudah siap?" tanya Indra si Koti.
Sebuah anggukan menjadi jawaban dari pertanyaan yang diajukan.
"Na! Dina! Ayo!" seru Hayu. Setengah berlari Dina memenuhi panggilan sahabatnya itu.
"Nggak usah teriak-teriak!" Hayu nyengir saja.
Indra berlagak sebagai laki-laki sejati. Dibukakannya pintu mobil untuk Hayu dan Dina.
"Lhaaa, masak kalian berdua duduk di belakang?" protesnya. "Aku sopir dong!"
"Kalau bukan kamu sopirnya, lantas siapa, Ndra?" goda Dina.
"Salah satu di depan!" perintah Indra.
Dina yang tahu gelagat hati Hayu memilih mengalah. Tinggal Indra yang gigit jari. Harapannya untuk dekat dengan Hayu belum kesampaian juga.
"Memang di Mesen kita mau makan apa, sih?" tanya Hayu penasaran.
"Ayam bakar," jawab Indra singkat.
"Enak ya?" tanya Hayu. "Sampai dibela-belain."
"Ayam bakarnya sih biasa. Teman makannya yang nggak biasa," celetuk Dina.
Hayu diam. Dia tidak bersemangat untuk meladeni gurauan Dina. Matanya memandang lampu-lampu jalan.
"Mampukah lampu ini menerangi hati untuk kembali pulang?" tanya Hayu lirih. Sekelebat bayangan Wisnu menggoda.
Ayam bakar Mesen adalah warung kaki lima yang terletak di depan Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan UNS. Tempat makan lesehan yang menggunakan trotoar untuk duduk bagi pembelinya. Sederhana saja, tetapi tampak penuh.
"Kayaknya memang nggak sekadar ayam bakar. Penuh gitu," ucap Hayu.
"Ada mahasiswa yang ulang tahun pasti!" sahut Indra. "Tempat ini pas untuk kantong kita."
"Kantongmu kali, Ndra!" canda Hayu.
"Enggaklah. Ini harga mahasiswa. Selain rasanya yang lumayan," jelas Indra.
Mereka bertiga mencari tempat duduk. Tampak serombongan laki-laki hampir memenuhi warung lesehan itu.
"Masih ada buat bertiga tidak, Mbak? Tempatnya yang terang," pinta Indra.
"Masih, Mas. Itu di ujung," tunjuk pelayan.
"Sana katanya."
Indra menuju tempat yang dituju, sementara Dina dan Hayu mengikuti dari belakang.
"Deket sama rombongan cowok ini saja, Ndra! Siapa tahu bisa makan gratis," celetuk Dina.
"Ngayal! Mulai deh hayalannya!" ejek Hayu.
"Meremehkan aku!" sambung Indra.
Ketiganya tertawa. Duduk lesehan dengan meja yang tidak terlalu besar. Hayu berhadapan dengan Indra, sementara Dina memilih tempat yang bisa untuk bersandar. Sekali-sekali Indra kedapatan mencuri pandang ke arah Hayu.
"Hem, hem!" goda Dina yang memergoki Indra.
"Sakit tenggorokan ya?" balas Indra.
Obrolan tidak jelas menjadi pengisi waktu menunggu pesanan mereka datang.
"Wisnu! Sini!" teriak seseorang. Tampak laki-laki memakai topi dan jaket masuk ke warung.
Mendengar satu nama disebut, tiba-tiba Hayu merasakan nyeri yang menyusup ke hati. Seperti luka karena tergores. Gadis itu memegangi dadanya.
"Sakit?" tanya Dina khawatir. Yang ditanya menggeleng.
"Itu kenapa dada dipeganggi kalau tidak sakit?" Dina penasaran. Dia cemas, karena wajah Hayu tiba-tiba terlihat pucat.
"Kamu baik-baik saja, kan?" Rupanya Indra ikut khawatir.
"Minum air putih hangat ya, Yu?" Dina mencoba menawarkan sesuatu.
"Makanannya juga lama!" gerutu Dina.
"Mbak! Minta air putih hangat bisa?" teriaknya.
"Ya, Mbak! Sebentar," jawab pelayan.
Dina tidak sabar, dia segera bangkit dan menghampiri meja tempat membuat minuman.
"Dina!" sapa sebuah suara. Sang empunya nama menengok.
"Mas Wisnu!" teriaknya kegirangan.
"Sama siapa?"
"Ada Hayu dan teman, Mas. Itu dipojokan!" tunjuk Dina.
Hayu yang samar-samar mendengar suara Dina, semakin menunduk.
"Semakin sakit, Yu?" Indra tidak kalah cemas. Hayu menggeleng.
Dengan sedikit mengangkat badan, Wisnu melihat tempat yang ditujuk Dina. Terlihat seorang gadis memunggunginya, memakai kaus kuning dan celana jeans.
"Hayu sepertinya sakit, Mas," ucap Dina lirih.
"Sakit apa?" tanya Wisnu.
"Dari tadi megangi dada saja," jelas Dina, "sudah dulu ya, Mas."
Dina menunjukkan gelas berisi air putih.
"Untuk Hayu!"
Wisnu mengangguk, ada cemas yang hadir.
"Wah Wisnu entuk-entukan!" goda teman-temannya. "Anak mana, Nu?"
"Pertanian. Kebetulan satu desa," terangnya.
Wisnu tidak menyimak obrolan teman-temannya dengan baik. Pikiran dan hatinya kembali tergoda untuk melihat keadaan Hayu.
Setelah menyelesaikan makan, dia beranjak ke meja Dina.
"Sebentar, mau ke anak tadi!" Wisnu segera bangkit dari duduknya.
"Hmn, hmm! Kenalin dong, Nu!" goda Wawan.
"Haiiis!" balasnya.
Hati Wisnu tidak tenang lagi. Gadis yang beberapa waktu berusaha dia hindari, ada di depan mata.
"Permisi, mau ngamen boleh?" Wisnu berusaha menghilangkan gugupnya, dengan sedikit bercanda.
Tidak ada yang berubah. Keteduhan mata yang menenangkan dan senyum tipis menjadi pelengkap wajah Hayu.
Ah, waktu. Kenapa secepat ini harus bertemu, keluh Wisnu dalam hati.
"Eh ..." Hanya itu yang mampu diucapkan Hayu.
"Sini, Mas!" ajak Dina.
Refleks Hayu menendang kaki Dina di bawah meja.
"Aduh! Sakit tahu!" seru Dina. Hayu hanya nyengir.
Rupanya ini jawaban dari rasa enggan saat hendak ke Mesen. Ternyata waktu akan mempertemukan dia dengan seseorang yang sedang ingin dihindari.
Wisnu segera duduk di samping Hayu.
"Indra, ini Mas Wisnu," jelas Dina, "teman kami. Tetangga Hayu di Selo.
Wisnu mengulurkan tangan untuk bersalaman dengan Indra.
"Maaf, tangan saya kotor!" Indra mengangguk dan tersenyum sebagai ganti dari jabatan tangan. Wisnu menarik kembali tangannya. Dia menoleh pada Hayu.
"Katanya kurang enak badan. Sakit apa?" tanya Wisnu. Mata itu masih sama, lembut menatap Hayu.
"Enggak. Dina saja yang terlalu khawatir!" elak Hayu.
"Ke sini naik apa?" tanya Wisnu lagi.
"Sama saya, Mas," sahut Indra, "mobil."
Wisnu mengalihkan pandangannya pada Indra.
"Oh. Ya sudah!" Wisnu bersiap untuk beringsut. "Monggo, silakan dilanjutkan."
"Hayu ingin bicara. Bisa?" Suara itu terdengar sedikit bergetar.
"Kapan?"
"Terserah Mas Wisnu," jawab Hayu pasrah. "Eh Indra, boleh Hayu pulang bareng Mas Wisnu saja?"
Indra merasa dongkol, tetapi tidak mungkin menolak permintaan Hayu.
"Iya," jawab Indra singkat.
"Terima kasih, Ndra," ucap Hayu sambil tersenyum.
"Saya naik bus, gimana?" Wisnu seperti ingin menunjukkan bahwa dia bukan saingan Indra.
Hayu mengangguk.
Ternyata waktu memang sedang menggoda kedua hati itu. Mengajak mereka untuk bermain dengan rasa. Menantang keduanya untuk berani jujur.
Hayu dan Wisnu sudah duduk di dalam bus tingkat. Tidak ada yang bicara. Masing-masing tenggelam dalam pikirannya.
"Masih belum memaafkan saya?" Akhirnya Wisnu memberanikan diri untuk mulai bicara.
"Memaafkan untuk apa?" tanya Hayu.
"Kejadian di TBS," ungkap Wisnu.
"Tidak ada yang salah. Kenapa harus dimaafkan?" Hayu mencoba mengelak.
"Benarkah? Jelas-jelas sejak saat itu sikap Mbak Hayu berbeda," balas Wisnu.
Ada hati yang tidak berani jujur. Gadis itu terdiam, lalu menghela napas. Belum perlu membuka pintu hati lebar-lebar untuk rasa kepada Wisnu. Biarlah waktu yang akan membantunya menjawab.
"Baiklah. Hayu maafkan, meskipun sebenarnya tidak ada salah," ucapnya sambil tersenyum.
"Matur nuwun, Mbak." Ada kelegaan di wajah Wisnu. Setidaknya rasa bersalah itu akan berangsur hilang.
"Mas Wisnu ngapain sih mesti pindah indekos segala?"
"Biar lebih dekat saja."
"Menghindari Hayu?"
"Nggaklah!" jawab Wisnu. Meskipun jelas itu berbohong.
"Sekarang saya ngajar bimbel, Mbak," kata Wisnu, "seminggu tiga kali."
"Wah bagus, Mas!" puji Hayu. "Di mana?"
"Margoyudan," jawab Wisnu.
"Daerah mana itu?"
"Jalan ini lurus saja ke barat," jelas Wisnu.
"Mas Wisnu naik apa kalau ke sana?"
"Bus."
"Bawa saja motornya!" usul Hayu. "Toh tidak pernah Hayu pakai juga."
"Biar nanti Hayu yang bilang Bapak," lanjutnya.
"Tidak usah! Nanti kalau Mbak Hayu butuh pergi-pergi repot," tolak Wisnu.
"Tinggal minta tolong Mas Wisnu buat anterin." Senyum itu sudah mengembang seperti kemarin.
Malam kali ini masih setia menyimpan rahasia hati. Entah besok.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja