Novel Durma Bagian 9

Pusing, itu yang Hayu rasakan saat bangun tidur. Matanya pun terlihat sembab. Semalaman dia menangis, hingga tertidur.
Tepat pukul 6.30, bel di indekos berbunyi.
"Hayuuu! Dicari!" teriak Dina.
"Iya!" balas Hayu.
Gadis itu bergegas memakai sepatu.
"Yuu! Kamu kok dijemput Mas Wisnu?" Dina memasang muka protes. Sejak tadi dia sudah menunggu Hayu untuk berangkat ke kampus.
"Jangan emosi, tenang, tenang!" canda Hayu. "Mau kenalan tidak?"
Dina tersenyum malu.
"Nanti Hayu kenalin, asal jangan marah." Hayu mengerling, sambil bergegas keluar.
"Sudah siap?" tanya Wisnu saat melihat Hayu keluar. Namun, dia terkejut mendapati wajah gadis itu tidak seperti biasanya.
"Habis menangis? Kenapa?" tanya Wisnu penuh kekhawatiran.
"Nanti saja ceritanya," jawab Hayu, "kalau Mas Wisnu longgar, malam bisa ke sini. Hayu mau cerita."
Wisnu mengangguk. Hatinya resah melihat Hayu.
"Sakit?" tanya Wisnu lagi.
"Enggak." Gadis itu menggelengkan kepala untuk mempertegas jawabannya.
"Terus kenapa?" desak Wisnu. "Saya takut kena marah Bapak, lho!"
"Nanti malam saja Hayu cerita," janji gadis itu.
"Ya sudah. Ayo berangkat, nanti telat!" ajak Wisnu.
"Hayu jalan sama Dina saja, Mas!" jelas Hayu. "Dina, ayo!"
Dina segera menghampiri Hayu.
"Mas, kenalin. Ini Dina," ujar Hayu.
"Apa kabar, Mas Wisnu? Saya Dina," sapa Dina malu-malu.
"Kabar baik, Dina," sahut Wisnu.
"Kayak anak taman kanak-kanak ya kenalannya," ejek Hayu.
Wisnu dan Dina tertawa.
"Buruan berangkat!" perintah Wisnu.
"Nanti malam jangan lupa ya, Mas!" pinta Hayu.
Wisnu tersenyum dan mengangguk. Kedua gadis itu bergegas berangkat ke kampus.
Entah kesedihan macam apa yang sedang membalut hatimu, Cah Ayu. Semoga semua baik-baik saja, harap Wisnu dalam hati.
Hayu tidak bisa berkonsentrasi mengikuti penataran P4. Gadis itu memikirkan apa yang harus dilakukan untuk menghindari ibunya.
Pindah indekos, rasanya tidak mungkin. Kasihan bapaknya, karena biaya sudah dibayarkan satu tahun penuh. Menolak kehadiran ibunya, pasti akan jadi bahan gunjingan. Beberapa kali terlihat Hayu menghela napas panjang.
"Kamu sakit, Yu?" tanya Dina saat istirahat.
"Agak pusing. Kelihatan?" Hayu balik bertanya.
"Sedikit pucat. Izin saja, ya," usul Dina.
Hayu menggelengkan kepala.
"Nanti pulangnya kita lewat depan saja ya, Na!" pinta Hayu. "Sekalian mampir ke Mbak Manis."
Ajakan Hayu diiyakan Dina dengan sebuah anggukan.
Semenjak masuk kuliah, Hayu belum pernah lewat pintu gerbang depan lagi.
"Teduh ya, Na!" Mata Hayu terlihat berbinar melewati rindangnya pepohonan. "Asyiknya lewat depan tuh lihat hijau-hijau kayak gini. Sayangnya lebih jauh."
"Aku dapat kerja sampingan lho, Yu!" ucap Dina tiba-tiba.
"Wah, enak banget!" Hayu tampak kagum mendengar ucapan Dina. "Ikutan, dong!"
"Ya memang kamu harus ikut!" jelas Dina.
"Kerja apa?" tanya Hayu.
"Aku bertugas menerima surat. Kamu membalas !" terang Dina sambil mengulurkan tiga amplop.
"Surat apa ini?" tanya Hayu.
"Entah. Mungkin surat lamaran cinta," goda Dina.
"Dari siapa?"
"Nanti kamu pasti tahu!"
"Hmm. Besok-besok jangan mau dititipin," pesan Hayu.
"Kenapa? Kasihan penggemarmu," canda Dina.
"Aku kan orang desa, Na," ucap Hayu, "ke sini mau kuliah saja. Biar dapat ilmu."
"Serius amat sih, Yu!" kata Dina. "Seperti ini buat selingan saja. Biar hidup tetap indah!"
Hayu terdiam. Ingatannya melayang pada kisah orang tuanya.
Kalau cinta, kenapa harus ada sakit? Rintihnya dalam hati.
"Atau sebenarnya hatimu sudah ada yang punya?" tanya Dina.
Hayu menggeleng.
"Kapan ya Angsana ini berbunga?" tanya Hayu untuk mengalihkan pembicaraan. "Katanya saat bunga berguguran, jalan ini lebih indah."
"He eh," sahut Dina, "biasanya bulan November kata kakakku."
"Cepet November, dong!" pinta Hayu.
"Jangan! Nanti kita juga cepat selesai kuliah, dong!" kelakar Dina. Kedua gadis itu tertawa.
Untuk sejenak Hayu bisa melupakan luka hati atas permasalah dengan ibunya. Namun, saat malam Wisnu datang memenuhi permintaannya, air mata itu jatuh lagi.
"Entah kenapa Hayu selalu merasa sakit jika bertemu dia." Wajah itu tertunduk dalam duka, butiran bening itu menetes.
Ini kedua kalinya Wisnu melihat Hayu begitu terluka. Ingin merengkuh gadis itu dalam pelukan. Apa daya hal itu tidak mungkin dilakukan.
"Apa yang bisa saya bantu?" Wisnu kebingungan, tidak tahu apa yang harus dilakukan.
"Apa yang akan Mas Wisnu lakukan, kalau tiba-tiba bapaknya datang?" tanya Hayu. "Menerima atau menolak?"
Wisnu diam. Kemudian dipandangi wajah Hayu yang sedang tertunduk.
"Saya tidak tahu. Tidak bisa membayangkan juga," ucap Wisnu, "mungkin akan manut apa yang disuruh Simbok."
"Sampai saat ini saya tidak tahu, apa alasan Bapak meninggalkan kami," ungkap Wisnu.
"Mbok Sinem tidak pernah cerita?" tanya Hayu.
Wisnu menggeleng.
"Setiap saya tanya, Simbok selalu bilang sudah takdir."
"Apa alasan Den Priyo berpisah?" Wisnu ganti bertanya. Dilihatnya Hayu sudah lebih tenang.
"Bapak tidak pernah cerita," jawab Hayu.
"Tidak bertanya juga?" tanya Wisnu.
Hayu menggeleng.
"Hayu tidak pernah tahu mereka bercerai. Selalu dikasih tahu, Bapak harus nemeni Simbah dan Ibu nemeni Eyang."
"Apa susahnya memberi penjelasan," keluh Hayu.
"Kesannya selalu menutup-nutupi!" kesal Hayu. "Toh kita sudah besar, bisa mikir juga!"
"Apa dengan mengetahui alasan mereka berpisah, kemudian bisa memperbaiki semuanya?" tanya Wisnu.
Hayu terdiam.
"Mungkin mereka berharap, waktu yang akan membantu agar semua bisa kembali baik," ujar Wisnu.
"Hayu hanya ingat janji Ibu untuk datang ke Selo." Isak tangis itu terdengar lagi, meskipun lirih. "Ibu bohong. Sampai Hayu besar tidak pernah datang."
Wajah cantik itu kembali tersapu mendung duka.
"Ssst, sudah. Jangan nangis!" pinta Wisnu. "Nggak enak dilihat orang lewat."
Hayu menyeka sudut matanya.
"Mau jalan-jalan nggak?"
Hayu menggeleng.
"Biar pikiran jernih," ajak Wisnu, "kita ke TBS. Ada pemeran lukisan."
"Jauh nggak?" Hayu memang selalu tertarik dengan hal-hal yang berbau seni.
"Enggak. Barat kampus saja," jelas Wisnu.
"Baiklah." Hayu menyetujui usul Wisnu. Dia berharap suasana hatinya akan lebih baik.
"Saya ambil motor dulu, ya."
"Jalan saja, Mas!" pinta Hayu.
"Nggih."
"Mas, kalau ada teman-teman Hayu, manggilnya nggak usah pakai mbak, ya."
"Kenapa?"
"Males ditanya-tanya," jawab Hayu sambil tersenyum. Wisnu mengiyakan permintaan gadis itu dengan sebuah anggukan.
"Sebentar ya, Mas." Hayu masuk ke dalam, tanpa menunggu jawaban Wisnu.
"Na! Dina!" panggil Hayu. "Ayo ikut ke TBS!"
"Ngapain?" tanya Dina.
"Lihat pameran lukisan!" seru Hayu.
"Ya. Sebentar!" jawab Dina.
Meskipun baru sebentar berteman dengan Dina, tetapi Hayu sudah merasa nyaman. Seperti mendapat saudara perempuan. Sementara di luar Wisnu yang mendengar teriakan Hayu sedikit menggerutu. Inginnnya jalan berdua, apa daya tuan putri harus mengajak dayang-dayang juga.
"Di TBS ada apa saja, Mas?" tanya Hayu saat mereka bertiga mulai menyusuri jalanan Gendingan menuju TBS.
"Segala yang berhubungan dengan seni," jelas Wisnu.
"Eh TBS itu apa?" Rupanya Hayu belum paham dengan tempat yang akan dituju.
"Duuh, kamu orang mana nggak tahu TBS?" ejek Dina.
"Orang gunung. Orang desa. Wajar kan nggak tahu TBS?" balas Hayu.
"Orang gunung yang banyak penggemarnya," goda Dina.
"Oh ya?" Wisnu penasaran.
"Hari ini saja ada tiga surat yang dia terima," ujar Dina, "di gunung anak ini juga jadi primadona, Mas?"
Sepertinya Wisnu harus mulai pasang kuda-kuda. Satu per satu kumbang berdatangan, menggoda si kembang desa.
"Mungkin banyak yang suka, tetapi tidak ada yang berani mendekat," jelas Wisnu.
"Kenapa?"
"Anak lurah, simbahnya orang terpandang, cantik, luwes dalam bergaul ...."
"Wis, nggak usah diterusin!" potong Hayu. "Ke Solo untuk kuliah! Bukan ngurusi cinta-cintaan!"
Ucapan Hayu menghembuskan rasa tenang ke hati Wisnu.
"Tenane, Yu?" goda Dina lagi.
"Beneran!" tegas Hayu. "Ada mimpi yang ingin Hayu raih. Mimpi untuk Seloku."
"Wiiih serius, Yu?"
Hayu mengangguk pasti. Wisnu hanya diam, menyimak setiap ucapan gadis yang sudah merajai hatinya. Berharap Hayu mampu menampik godaan dari Arjuna-arjuna kota.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Taman Budaya Surakarta atau TBS.
"Oh, ini ternyata!" Hayu berbinar saat melihat bangunan pendopo besar diapit dua gedung yang lebih kecil. "Kalau ini Hayu lihat setiap naik bus."
"Itu gedung apa, Mas?" tunjuk Hayu.
"Sebelah timur itu gedung untuk pertunjukan teater, yang satu lagi sebagai tempat untuk pameran seni," jelas Wisnu.
"Kalau pendopo itu?" tanya Hayu.
"Untuk pagelaran, misalnya wayang kulit, keroncong atau lainnya," terang Wisnu.
"Jadi sekarang kita ke gedung sebelah barat, Mas?" Akhirnya Dina ikut bersuara.
"Betul, Mbak Dina," jawab Wisnu.
"Widiih, Mbak!" goda Hayu.
"Haiiish! Iya. Berasa tua, Mas!" sergah Dina.
"Kan menghormati!" bela Wisnu.
"Panggil nama saja!" pinta Dina.
"Baiklah!" Wisnu menyerah. Sekilas Hayu dan Dina mirip, hampir sama karakternya. Mereka gadis-gadis yang ramah.
"Kamu suka lukisan, Yu?" tanya Dina, saat mereka sudah di dalam gedung.
"Sebatas menikmati perpaduan warna yang indah, Na."
Ingatan Hayu terbang ke beberapa tahun silam, saat seseorang mengajarinya tentang warna.
"Yu! Kok melamun?" Dina menepuk pundak sahabatnya.
"Eh-eh, ini lukisan siapa ya? Indah sekali." Pandangan Hayu tidak bisa beralih dari lukisan di depannya. Terlihat dua orang sedang bergandengan tangan, sepertinya seorang anak dan ibunya. Sejenak gadis itu tenggelam dalam pengandainya, tentang dia dan perempuan yang telah melahirkannya.
"Kenapa? Ada apa dengan lukisan ini?" Wisnu sedikit mencondongkan badannya ke arah Hayu. Karena sedemikian dekat, aroma napas Wisnu pun tercium.
Hayu terkejut, tubuhnya menegang. Tidak pernah dia merasa sedekat ini dengan Wisnu. Hatinya yang perawan tiba-tiba ketakutan. Ditepisnya rasa yang hadir tanpa permisi. Entah rasa apa itu. Yang jelas Hayu segera menggandeng Dina untuk menjauh dari Wisnu.
Apa ini? Rasa apa ini? Tanyanya dalam hati. Hayu memegang dadanya.
"Yu, sakit?" tanya Dina khwatir saat melihat sahabatnya memegangi dada.
Hayu segera tersadar.
"Pulang!" pinta Hayu.
"Kamu sakit?" ulang Dina.
Hayu menggeleng.
"Ada apa?" tanya Dina.
Lagi-lagi Hayu menggeleng.
"Ada apa?" tanya Wisnu khawatir.
"Pulang saja!" Hayu menunduk. Gadis itu tidak berani menatap wajah Wisnu seperti biasa.
"Kenapa? Sakit?" tanya Wisnu lagi.
Hayu menggeleng. Dia segera menarik tangan Dina untuk keluar dari gedung.
Sepanjang perjalanan ke Gendingan, Hayu tidak melepaskan pegangannya pada Dina. Gadis itu berjalan begitu cepat, tidak menghiraukan Wisnu dan Dina yang kebingungan.
"Hayu! Jangan buru-buru, dong!" pekik Dina. Sepertinya dia merasakan kesakitan karena cengkeraman tangan Hayu.
"Maaf!" ucap Hayu singkat sambil melepas pegangannya.
Sesampainya di depan indekos.
"Boleh bicara sebentar?" Akhirnya Wisnu tidak tahan lagi melihat keanehan sikap Hayu.
"Saya atau Hayu, Mas?" tanya Dina.
Tanpa berkata, Wisnu menunjuk Hayu. Dina mengangguk.
"Saya masuk dulu ya," pamit Dina. Wisnu tersenyum dan mengangguk.
"Kalau tadi ada kata-kata saya yang salah, mohon maaf," ucap Wisnu tulus, "tidak ada maksud untuk membuka luka, Mbak Hayu."
Hayu hanya menggeleng. Gadis itu terlihat enggan melihat wajah Wisnu.
"Sudah? Hayu masuk dulu, ya." Gadis itu segera berlalu, tanpa menunggu jawaban Wisnu.
Laki-laki itu berjalan gontai. Dia sangat menyesal telah menanyakan hal yang selama ini membuat Hayu terluka.
Begitu masuk indekos, Hayu langsung menuju kamar mandi yang terletak di pojok kamar. Diguyurlah kepalanya dengan air dingin. Dia berharap kewarasan segera datang lagi.
"Ra nggenah!" umpatnya kepada dirinya sendiri.
Terdengar ketukan di pintu kamar mandi.
"Yu! Kamu baik-baik saja?" Rupanya Dina khawatir melihat sikap Hayu.
Pintu kamar mandi terbuka.
"Tolong handuk itu, Na!" tunjuk Hayu. Dina terkejut melihat kelakuan sahabatnya.
"Kamu kenapa, sih?" tanya Dina seraya menyerahkan handuk. "Aku kasihan lihat wajah Mas Wisnu."
"Ada apa dengan lukisan tadi?" Dina penasaran. Hayu menerima handuk , lalu segera masuk ke kamar. Dibukanya pintu kamar lebar-lebar.
"Nggak ada apa-apa," elak Hayu. Tidak mungkin menceritakan yang sebenarnya terjadi. Gadis itu masih ingin menutup rapat hatinya untuk urusan lelaki.
"Beneran?" desak Dina.
"Haruskah aku bersumpah?" goda Hayu.
"Gombal!" Dina mencebik lalu meninggalkan kamar Hayu.
Hayu segera mengganti bajunya yang basah. Sekelebat dia melihat bayangannya di cermin.
"Hmm, bagaimana wajah Hayu tadi, ya? Atau mungkin tadi baru suwung? Jadi gampang kemasukan setan?" Hayu bicara sendiri.
Hayu segera memeluk guling dan mencoba memejamkan mata. Sayang, antara pikiran dan hatinya sedang tidak sejalan. Akibatnya wajah Wisnulah yang hadir.
"Tidak! Stop!" Gadis itu mengangkat tangannya, seperti memberi isyarat untuk berhenti.
"Kenapa drama sekali malam ini?" Beberapa kali Hayu menggeleng-gelengkan kepala. Tubuhnya pun tidak mau diam. Miring ke kanan, tidak lama miring ke kiri.
"Dia seperti saudara. S a u d a r a." Hayu mengeja kata saudara dengan keras.
"Kuliah! Kuliah! Kuliah!" tegasnya pada diri sendiri.
Hayu harus mencari seribu alasan untuk tidak mengenal cinta sampai lulus. Akan tetapi belum juga sampai seribu, dia sudah terlelap.
Malam yang sama di Laweyan. Miranti terdiam di depan selembar kertas putih. Pensil 2b ada dalam genggaman. Perempuan itu memejamkan mata, membiarkan angannya terbang menjelajahi rimba kenangan. Setelah menghela napas panjang, digoreskannya garis lengkung. Dicobanya mengingat seraut wajah. Wajah yang tersimpan rapat di ruang hatinya.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja