Novel Durma Bagian 3

"Point!" Wasit meneriakkan tambahan angka.
"Hayuu! Hayuu! Hayuu!"
Terdengar satu nama dielu-elukan.
"Ra sopan! Mbak Hayu!" tegur sebuah suara.
"Biarin. Suka-suka!" sahut suara yang lain.
"Hayuuuu!"
Merapi masih berselimut kabut. Namun, pagi itu satu tanah lapang di lerengnya sudah ramai. Ada pertandingan final bola voli putri antara RT 2 Dukuh Tengah dan RT 1 Dukuh Wetan dalam rangka perayaan Hari Kemerdekaan.
Set pertama dimenangkan Dukuh Wetan. Kedudukan berimbang pada babak kedua. Rubber set dan Dukuh Tengah sementara memimpin perolehan angka. Match point untuk Hayu dan teman-teman.
Selanjutnya Hayu bersiap untuk servis. Sambil memegang bola, gadis yang terbalut celana training warna hitam dan kaus merah itu, berjalan keluar dari garis batas belakang.
"Ayu ne!" seloroh penonton di pinggir lapangan. Pandangan mata mereka tertuju pada sang bunga desa.
"Awas! Dikeplak Mas Wisnu lho!" sahut yang lain.
"Mbaak. Aku padamu!"
"Hayuu! Hayuu!"
Celetukan-celetukan di pinggir lapangan membuat suasana semakin meriah.
"Meneng o, Cah. Diam, tenang! Mbak Hayu biar konsentrasi!" teriak sebuah suara.
Hayu tersenyum. Mencoba berkonsentrasi. Satu angka lagi maka Dukuh Tengah akan memenangkan lomba.
Dan, serve keras dari Hayu jatuh di bidang kosong lawan. Tambahan satu angka menyudahi perjuangan tim Dukuh Wetan.
"Hidup Mbak Hayu!"
"Hidup Dukuh tengah!"
Riuh rendah suara surporter Dukuh Tengah meluapkan kegembiraan. Seekor kambing akan mereka bawa pulang, sebagai hadiah.
Wajah-wajah lelah, tetapi semringah diperlihatkan Hayu dan teman-temannya. Setelah bersalaman dengan tim Dukuh Wetan, mereka segera mencari tempat untuk beristirahat.
"Maaf, maaf. Konsumsinya telat." Wisnu dan beberapa remaja laki-laki terlihat berlari menuju tempat Hayu dan teman-teman beristirahat.
"Haus, Mas!" serempak para pemain mengeluh. Keringat yang bercucuran, napas masih sedikit memburu serta wajah memerah, menjadi pertanda hanya air yang mereka butuhkan.
"Monggo, monggo, silakan," ucap Wisnu sambil mengulurkan botol air mineral.
"Ini, Mbak." Wisnu menyodorkan botol kepada juragan kecilnya yang sudah menjelma menjadi gadis cantik.
"Matur nuwun," ucap Hayu sambil tersenyum.
Gadis itu membuka botol lalu meneguknya. Perlahan air itu membasahi kerongkongan. Kering telah digantikan dengan kesegaran. Sejenak Hayu melupakan sekeliling. Gadis itu tidak menyadari, jika ada sepasang mata yang terus menatapnya.
Beberapa saat kemudian.
"Ada yang salah dengan aku?" tanya Hayu saat menyadari pandangan Wisnu hanya tertuju padanya. "Mas! Malah ngelamun!"
Teguran Hayu membuat Wisnu gelagapan. Seperti pencuri yang tertangkap basah. Untuk mengurangi gugup, laki-laki itu segera mengulurkan handuk.
Perlahan butiran keringat yang membasahi wajah ayu Hayu terhapus. Rambut sebahu dikuncir ala kadarnya, beberapa helainya nampak lepas dari ikatan.
Meskipun tampilannya sederhana, tetap tidak mengurangi kecantikan gadis itu. Entah sudah berapa hati yang diam-diam terjatuh dalam pesona sang putri. Namun, sampai detik ini, tidak ada satu pun yang berani mendekati.
Kamu seperti Merapi. Begitu indah dilihat, tetapi butuh perjuangan untuk bisa mendekati. Apalah aku ini, keluh Wisnu di dalam hati.
"Mas! Ealah. Ngelamun terus!" sentak Hayu saat melihat Wisnu melamun lagi. "Awas kesambet penunggu lapangan. Mas Wisnu!"
"Eh, apa, Mbak?" tanya Wisnu gelagapan.
"Tolong bilangin anak-anak. Nanti sore latihan," pesan Hayu.
"Pukul berapa?" tanya Wisnu. Laki-laki itu tidak berani menatap wajah gadis di depannya. Takut ada sihir yang membuatnya tidak mampu berpaling.
"Empat," jawab Hayu singkat. Wisnu mengangguk.
Sementara itu, dari kejauhan terlihat Priyo bergegas memasuki lapangan. Setelah melalui pemungutan suara, laki-laki itu sekarang menjadi kepala desa.
"Pak Lurah rawuh!" teriak warga. Sebagai kepala desa, Priyo terhitung dekat dengan masyarakat. Maka tidak heran, jika warga segera mengerumuni dan bergantian menyalami pemimpin mereka.
"Siapa yang menang?" tanya Priyo.
"Dukuh Tengah, Pak!" Warga serempak menjawab.
"Mbak Hayu pahlawannya!" celetuk sebuah suara.
"Semua pemain itu pahlawan," sahut Hayu yang tiba-tiba sudah ada di antara mereka.
"Kok Bapak telat?" tanya Hayu.
"Nengok Mbah Karyo yang tinggal di RT 3 dulu. Kemarin jatuh di sungai," jelas Priyo.
"Keadaannya gimana, Pak?" tanya Hayu cemas.
"Tadi sudah diurut. Semoga segera membaik," harap Priyo.
"Nanti Hayu ke rumah Mbah Karyo sebentar ya, Pak," pinta Hayu.
Laki-laki itu mengangguk. Senyum mengembang di wajahnya. Bersyukur, kehidupan di lereng Merapi telah membuat hati putrinya penuh welas asih kepada sesama.
"Kapan mau cari indekos, Nduk?" tanya Priyo, saat berjalan pulang. Sesekali mereka menggangguk dan tersenyum ketika berpapasan dengan warga.
"Katanya Mas Wisnu yang nyariin. Gimana, sih?" Hayu terlihat sedikit bingung.
"Sudah dapat?" tanya Priyo lagi. "Wisnu belum bilang bapak."
"Oalah. Nanti kalau sampai rumah, Hayu tanyain," ujar gadis itu.
"Kenapa tidak di rumah Badran saja? Atau di Laweyan?"
"Pertanyaan Bapak tidak perlu Hayu jawab." Gadis itu kemudian terdiam.
"Maaf. Bapak tidak bermaksud memaksakan kehendak," ujar Priyo, "kenyamananmu jauh lebih penting daripada kekhawatir bapak."
Hayu tersenyum. Seperti biasa, gadis itu akan dibiarkan menentukan jalannya sendiri, dengan syarat bertanggung jawab. Hanya sesekali Priyo menitipkan petuah. Itu pun jika dilihat putri tercintanya sudah kebingungan.
Ingatan Hayu melayang pada kebaikan-kebaikan yang telah diberikan bapaknya. Hidup terasa cukup, meskipun tanpa kehadiran seorang ibu. Dia tetap merasakan indahnya dunia.
"Kok malah melamun to, Cah Ayu!" Ucapan Priyo membuyarkan lamunan Hayu.
"Eh ... e ngelamunin Bapak," canda Hayu.
"Bapak di sampingmu gini kok. Alesan!" goda Priyo.
"Saestu. Beneran. Beruntungnya Hayu memiliki Bapak," ucap gadis itu sambil menggamit lengan Priyo, "terima kasih atas semuanya."
Priyo mengacak rambut anak gadisnya. Dia tahu, ada luka yang tidak pernah Hayu ungkapkan. Anak itu begitu nrimo dalam menjalani hidup. Tidak pernah merepotkan.
"Jangan lupa. Kamu hadir karena cinta bapak dan ibu, Nduk."
"Pak, sekarang ke Mbah Karyo dulu, nggih." Hayu mengalihkan pembicaraan. "Pukul empat nanti mau latihan nari."
Priyo tahu, Hayu selalu menghindari pembicaraan tentang ibunya.
Menjelang pukul empat sore. Rumah juragan Broto mulai terlihat ramai. Beberapa anak perempuan datang untuk berlatih menari. Hayu sendiri yang akan melatih anak-anak. Darah seni mengalir deras dari Simbah putrinya. Berlatih menari sudah dilakukan gadis itu sejak kecil. Dan, pastinya dibawah bimbingan sang nenek tercinta.
Tari bondan dipilih sebagai salah satu sajian acara pada malam tirakatan perayaan Hari Kemerdekaan.
"Mbak Hayu, nanti kalau pas pentas nggak bisa naik kendi, pripun?" tanya salah satu bocah yang hadir.
"Kalau sekiranya nggak bisa, jangan gugup. Tetap menari di samping kendi saja. Pokoknya tetap tersenyum," pesan Hayu, "kalau panik, takutnya terus lupa gerakan selanjutnya."
"Bisa kita mulai?" tanya Hayu.
Anak-anak mengangguk. Mereka mengambil perlengkapan latihan yang sudah disiapkan. Sampur, boneka, payung kertas dan tidak ketinggalan kendi.
"Mas Wisnu, siap?" tanya Hayu.
Wisnu mengacungkan jempol. Sore itu dia bertugas menyalakan tape yang memutar gending untuk mengiringi tarian.
Hayu mengambil posisi di depan. Anak-anak mengikuti dari belakang. Mereka nempatkan diri sesuai arahan yang telah diberikan.
Tubuh Hayu terlihat menyatu dengan alunan gending. Gerakannya luwes. Setiap gerakan dilakukan dengan sepenuh hati.
Tari bondan, mengisahkan tentang kasih sayang seorang ibu kepada anaknya. Setiap menarikan tarian ini, hati gadis itu perih. Kenapa ibunya berbeda? Sangat sulit memahami cinta dari perempuan yang telah melahirkannya itu.
Salah satu kesulitan tari bondan adalah saat sang penari harus berdiri di atas kendi dan tetap menari.
Namun, tidak berlaku bagi Hayu. Tubuh gadis itu seperti tidak punya bobot. Kendi yang kecil dan mudah pecah, ternyata mampu menahan beban tubuhnya. Perawan lereng Merapi itu tetap menari, tanpa ada rasa khawatir kendi pecah.
Begitu gending selesai, tepuk tangan segera terdengar sebagai penggantinya.
"Istirahat sebentar. Nanti lanjut lagi ya," pesan Hayu.
Sinem masuk ke pendopo. Simbok Wisnu itu membawa air untuk anak-anak.
"Sini minum dulu. Simbok punya gedang godog." Sinem mengajak para penari cilik untuk menghilangkan haus dan menikmati pisang rebus.
Anak-anak terlihat berlari menuju Sinem. Mereka sudah tidak sabar untuk segera melepas dahaga.
Sementara para penari cilik istirahat, Hayu mendekati Wisnu.
"Mas, gimana untuk indekosku?" tanya Hayu.
"Eh iya, lupa mau matur," jawab Wisnu, "Udah dapat, Mbak. Dekat dari indekos saya. Masih satu gang."
Wisnu yang usianya 2 tahun di atas Hayu, sudah lebih dahulu merasakan menjadi mahasiswa. Laki-laki itu beruntung mempunyai juragan seperti Priyo, karena semua kebutuhan kuliah dicukupi.
"Matur nuwun, Mas," ucap Hayu sambil tersenyum.
Tidak perlu tersenyum, karena hanya membuat aku susah tidur, rintih Wisnu dalam hati.
"Istirahatnya sudah cukup?" Hayu bertanya pada anak-anak.
"Sampun, Mbak. Sudah!" jawab mereka serempak.
"Oke. Kita mulai ya. Sekarang kalian sendiri!" perintah Hayu. "Mbak hanya melihat saja."
"Mas, musik!" seru Hayu kepada Wisnu.
Pendopo itu kembali dipenuhi suara gending yang mengalun lembut. Sesekali terdengar suara Hayu memberikan arahan.
"Mendak. Mendak."
Matahari akan segera mengakhiri tugasnya. Digantikan dengan malam.
Semua berjalan sesuai kehendak Sang Pemilik Takdir. Begitu pun Hayu, harus segera menjalani kisahnya yang baru.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja