Novel Durma Bagian 20

Jari-jari Wisnu menekuk, mencengkeram setang gas. Jarum pada spedometer bergerak di antara angka 80 dan 90. Malam ini jalan Solo Boyolali relatif sepi, sehingga kendaraan Wisnu melaju bebas.
Jaket jeans tidak bisa melindungi laki-laki itu dari sentuhan udara malam. Saat memasuki Boyolali, dingin perlahan menyapa kulitnya. Sesekali dirapatkan jaket itu, walaupun masih ada angin yang berhasil menerobos.
"Biasanya nggak sedingin ini," gumam Wisnu.
Laju motor diperlambat saat memasuki Cepogo. Hawa dingin mulai mengginggit tulangnya. Sinar bulan menyusup di antara pepohonan. Membuat malam terlihat indah.
"Oh. Tengah bulan rupanya," lirih Wisnu sembari mendongak sebentar, memandang langit.
Seraut wajah yang sudah beberapa hari tidak ditemui, hadir menyapa hati Wisnu.
Apa kabar Hayu, sapanya dalam hati. Maaf, tidak ada di sisi saat kamu butuh.
Maaf, menjadi pengecut. Bersembunyi dibalik alasan sibuk.
"Hayuuuuuu!" Wisnu berteriak. Suara yang penuh kerinduan itu memecah hening di jalan yang sunyi.
Batin Wisnu tersiksa. Sebagian hatinya meminta untuk hadir di samping Hayu. Akan tetapi, separuh lagi menolak dengan alasan harga diri.
Motor itu kembali meraung. Ditembusnya malam dengan rasa sakit. Kabut menyambut kedatangan Wisnu di Lereng Merapi.
Wisnu memperlambat laju motor saat memasuki desa. Kali ini rumah Lek Mardi menjadi tujuannya.
Rumah sopir gredeg itu tidak jauh dari tempat tinggal Priyo, masih satu RT. Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat Lek Mardi. Tampak bangunan yang belum sempurna. Rumah itu terlihat singup, mungkin karena ada rumpun bambu di kanan kiri halaman. Juga minimnya penerangan. Maklum, listriknya masih gabung punya tetangga. Kehidupan Lek Mardi baru beranjak baik setelah dia mendapat warisan dan dibelikan gredeg untuk menyambung hidup.
"Kulo nuwun! Wisnu, Lek!" sapanya.
Sepi. Sepertinya penghuni rumah sudah istirahat. Wisnu mencoba mengetuk pintu sekali lagi.
"Lek! Lek Mardi!"
"Nggih, sekedap."
Suara perempuan. Sepertinya Lek Warti.
Terdengar suara kunci bersentuhan dengan lubangnya. Diikuti derit pintu yang menjerit.
"Lek," sapa Wisnu, "nyuwun ngapunten. Malam-malam menganggu."
"Janur gunung. Ono opo, Nu?" tanya Lek Warti.
"Lek Mardi ada?" tanya Wisnu.
"Nggak ada," jawab Lek Warti. "Tadi pagi berangkat ke Surabaya. Nderekne juragannya yang dulu."
"Oh, ya sudah!" lanjut Wisnu.
"Ada pesan?" tanya Lek Warti. Wisnu menggeleng.
"Pamit, Lek!" ucapnya.
"Nderekne," ujar Lek Warti.
Langkah Wisnu gontai. Motor itu kembali membawanya menyusuri jalan desa. Pikirannya masih penat. Tugas dari Pak Hendra membuatnya kalang kabut. Nama besar klien yang menjadikan rasa percaya dirinya tiba-tiba hilang. Was-was menghantui pikiran. Yang membuat Wisnu sedikit bernapas lega karena berpartner dengan Rasti.
Mbak Rasti kalau Wisnu memanggil. Ibu dari dua orang anak yang masih balita. Perempuan itu begitu sabar membimbingnya untuk beberapa kasus yang lain. Wisnu pernah main ke rumahnya. Berkenalan dengan suami dan kedua anak Mbak Rasti. Gambaran keluarga bahagia yang ingin dia bangun. Tentunya bersama Hayu. Ah, pungguk baru merindukan bulannya.
Wisnu membelokkan motornya ke cakruk, saat dilihatnya beberapa tetangga sedang bersenda gurau di sana.
"Kulo nuwun, Lek" sapa Wisnu.
"Eh Wisnu. Baru datang?" tanya seorang tetangga, "tadi nggak kelihatan ikut tahlilan."
"Iya. Ada rapat, selesainya sudah malam," jelas Wisnu.
"Keadaan Pak Lurah gimana?"
"Ngapunten. Belum sempat ke sana juga. Soalnya waktu berkunjung dibatasi."
"Pak Lurah parah tidak, Nu?"
"Terakhir ke sana masih belum sadar. Coba besok saya sempatkan ke rumah sakit," janji Wisnu.
"Kamu nggak pingin jadi lurah saja, Nu?"
Sebuah pertanyaan yang mengejutkan.
"Iyo, Nu! Desa kita ini butuh orang muda seperti kamu," tambah yang lain.
"Pak Lurah kan tinggal setahun tugasnya."
"Majuo, Nu! Tak dukung!"
Wisnu tersenyum.
"Mboten gadah modal!" elaknya.
"Modal pinter, Nu!"
"Apa cukup hanya itu to, Lek? Sepertinya tidak juga," elak Wisnu.
"Dukungan masyarakat pastinya!"
"Yen kamu nggak mau, Mbak Hayu saja!" celetuk yang lain.
"Wah iyo! Cocok!"
"Mbak Hayu paket komplit. Tapi apa sudah lulus kuliah?"
Maksud diri hendak menghibur hati, apa daya batin Wisnu kembali tersakiti. Seperti diingatkan lagi tentang siapa dirinya. Pandai, ganteng, tapi kalau anak rewang ya jangan berharap banyak. Mungkin seperti itu kesimpulan obrolan malam ini.
"Kulo nyuwun pamit, Lek," pinta Wisnu.
"Kenapa buru-buru, Nu?"
"Ini tadi belum pulang. Mampir ke rumah Lek Mardi dulu," jelas Wisnu.
"Oalah! Nggih, nderekne, Pak Pengacara!"
Wisnu kembali mengendarai motor. Kali ini benar-benar pulang ke rumahnya. Setelah Juragan Broto meninggal, Sinem tidur di rumah anaknya. Tugas tetap berjalan seperti biasa. Membersihkan dan merawat tempat tinggal majikannya.
"Mbok! Simbok!" sapa Wisnu sambil mengetuk pintu rumah.
Tidak ada jawaban, tetapi terdengar langkah kaki mendekati pintu. Klik, bunyi yang sudah ditunggu Wisnu. Seraut wajah yang selalu mengalirkan ketenangan muncul. Namun kali ini tidak ada senyum, apalagi sapa ramah simboknya.
"Ngapunten, Mbok," pinta Wisnu.
"Ada rapat malam ini," jelasnya sambil duduk di kursi melepas sepatu. "Aku tidak berani minta izin. Soalnya ada kasus penting."
Sinem hanya diam mendengarkan penjelasan putranya.
"Dan kasus itu dipercayakan ke aku, Mbok!"
"Ada turahan berkat, kalau kamu belum makan!" ucap Sinem.
Wisnu mengangguk. Segera masuk ke kamar untuk mengambil baju ganti.
"Kamu sudah nengok Den Priyo?" tanya Sinem.
"Belum sempat, Mbok!" seru Wisnu dari kamar. "Pekerjaanku banyak."
"Kebangetan!" sergah Sinem. "Kamu nggak kasihan Den Hayu! Hah!"
Wisnu terkejut, belum pernah simboknya semarah ini.
"Ojo dumeh sekarang bisa nyari uang sendiri terus lupa sama mereka!"
"Ingat kebaikan keluarga Den Priyo! Jangan alasan pekerjaan terus!"
Sinem segera masuk kamar. Matanya basah, saat membayangkan Hayu sendirian menunggui bapaknya. Perempuan itu sangat menyayangi Hayu, layaknya anak sendiri. Sebersit rasa takut hadir, takut jika juragan marah.
Sebenarnya Wisnu berharap ada belaian lembut saat tiba di rumah, agar resahnya menghilang. Akan tetapi justru omelan yang didapat. Lagi-lagi terjadi karena dia anak rewang, yang harus tetap merunduk pada majikan. Simbok berhutang budi pada keluarga Juragan Broto. Wanita sederhana itu menaruh hormat yang berlebih pada majikannya, hingga lupa bahwa Wisnu sedang membangun mimpi untuk masa depan.
Wisnu segera mengguyurkan air di kepalanya. Berharap dingin bisa memadamkan semua bara di hati.
"Simbok tidak salah jika marah. Memang aku yang kebangetan!" umpatnya pada diri sendiri. Entah berapa gayung yang sudah Wisnu habiskan. Yang jelas rasa sejuk mulai mengalir di hatinya.
Segelas teh hangat sudah tersedia di meja makan, saat Wisnu keluar dari kamar mandi. Semarah apa pun, simbok tetaplah ibu yang perhatian pada anaknya.
Simbok duduk di meja makan, seperti sedang menunggu Wisnu. Mungkin ada yang ingin dibicarakan.
"Ngapunten, Mbok," pinta Wisnu, "benar-benar pekerjaanku sedang menyita waktu."
"Apalagi di ICU juga ada batas waktu berkunjung."
Sinem memandang tajam putranya. Ada yang tidak disampaikan Wisnu dengan jujur. Entah rahasia apa yang sedang disimpannya.
"Kalau ada yang ingin kamu ceritakan, bicaralah!"
Wisnu terkejut. Apakah dirinya seperti buku yang terbuka di depan simbok?
"Nggak ada, Mbok!" elaknya.
"Atau mungkin kamu belum siap bicara jujur?" desak Sinem. Hati seorang ibu tidak bisa dibohongi.
"Hanya pekerjaan saja yang sedang terasa berat." Wisnu menghindari tatapan mata simboknya. Dia langsung menyendok makanan yang sudah disiapkan.
"Tirakatmu kurang, Le!"
Wisnu tersedak.
"Dulu Simbok nyuruh kamu mutih selama 40 hari dan ngebleng sebagai penutupnya. Wis mbok lakoni?" tanya Sinem.
Wisnu menggeleng.
"Berat, Mbok!"
"Endi ono wong ndue gegayuhan ora rekoso! Tangeh lamun!" sindir Sinem. "Mana ada cita-cita datang tanpa usaha!"
Wisnu terdiam.
"Mbok, tahu Mbah Yai?" tanya Wisnu.
"Nyari Mbah Yai mau ngapain?" tanya Sinem balik.
"Nyuwun pangestu," ungkap Wisnu.
"Pangestune Simbok kurang?"
Wisnu menggeleng.
"Nasehat Simbok itu kamu kerjakan. Tirakat, Nu! Tirakat!"
Wisnu diam.
"Hati-hati menjalani hidup!" pesan Sinem. "Kita ini hanya mampir ngombe. Jangan sampai napsu yang menguasai."
"Olah pikir karo olah roso kui kudu mlaku bareng!" pesan Sinem. "Kalau tidak seimbang, kamu bakal jadi korban!"
Wisnu mengangguk. Nasi yang masuk ke mulut rasanya sangat susah ditelan. Simbok tidak pernah tahu bagaimana orang memandang dia sebagai anak rewang. Bagi Simbok, hidup itu hanya untuk mengabdi pada juragan. Selama itu dijalani dengan baik, maka semua baik.
"Tahlilan kurang berapa hari, Mbok?" Wisnu mencoba mengalihkan pembicaraan.
"Dua hari," jawab Sinem.
"Aku nggak usah pulang ya? Biar bisa nengok Den Priyo," alasan Wisnu.
"Terserah kamu, Nu!" Sinem beranjak dari duduknya, lalu masuk ke kamar. Hari-harinya terasa semakin sepi, begitu pula hatinya.
Lirih tembang Durma mengalun dari bibir Sinem.
Mundur kang dadi tata krama
Dur iku duratmoko duroko dursilo
Dur iku durmogati dursosono duryudono
Dur iku tanpo mampu nimbang rasa
Dur iku paribasan parikena
Maknane nglaras rasa jroninh durma
Sinom dandhanggula kang sinedyo
Lali purwoduksino kelon asmaradhana
Lali wangsiting ibu lan rama
Mengkono werdine gambuh durma
Amelet wong enom ing ngarcopada
Pan mangkono jarwane paribasan parikena
Setiap larik dari tembang itu sampai ke telinga Wisnu. Dia paham nasehat yang ingin disampaikan simboknya. Sayang, luka hati Wisnu masih baru, meninggalkan perih. Tembang durma tadi hanya lewat begitu saja, tanpa ada yang singgah di hati.
Wisnu merebahkan tubuhnya. Sunyi menggelayut di langit-langit kamar. Hinaan dari ibunya Hayu dan tanggung jawab pekerjaan adalah dua hal yang sedang menguasai pikirannya.
Malam ini Wisnu ingin segera terlelap, berharap hari esok akan lebih bersahabat untuk dirinya.
Waktu berjalan cepat bagi Wisnu. Dia harus fokus menyelesaikan perkara yang dipercayakan padanya. Masa depan menjadi taruhan. Semua energi tercurah untuk urusan kantor. Diskusi dengan Ratri dan meminta petunjuk Pak Hendra menjadi jadwal rutin. Semua dilakukan dengan sungguh-sungguh. Rupanya kesibukan menjadi obat yang mujarab untuk sejenak melupakan sakit hatinya.
Saat Wisnu sibuk dengan pekerjaannya, Hayu tenggelam dalam kebahagiaan menemani bapaknya.
Setelah lebih dari satu pekan di ruang ICU, Priyo dipindah ke ruang perawatan. Waktu Hayu dengan bapaknya semakin banyak. Dengan air mata bercucuran, gadis itu menceritakan duka kehilangan simbah. Priyo terdiam, ada basah di sudut matanya.
"Kita sak dremo ngalokoni, Nduk," ucapnya lirih. Hayu menggegam tangan bapaknya.
"Bapak jangan ninggal Hayu, nggih," pintanya.
Tidak ada yang mengganggu kebersamaan bapak dan anak itu. Miranti tidak pernah hadir. Hanya Pak Man yang datang menemui Hayu untuk meminta tanda tangan atas rupiah yang telah dibayarkan untuk biaya rumah sakit.
"Ibumu tidak pernah ke sini?" tanya Priyo.
"Pernah!" Hayu menjawab singkat.
Gadis itu segera mengalihkan pembicaraan ke hal lain, jika pertanyaannya tentang Miranti.
"Wisnu kok tidak pernah ke sini ya?" Priyo sepertinya sedang mengabsen orang-orang terdekatnya.
"Sibuk mungkin, Pak," jawab Hayu singkat. Gadis itu juga terlihat enggan bicara tentang Wisnu.
Matahari jingga sedang menyapa kaki langit, saat terdengar ketukan pintu di kamar Priyo.
"Silakan masuk," undang Hayu.
Tampak sosok yang akhir-akhir ini ditemui Hayu. Dialah Banyu. Kelihatannya baru selesai bertugas.
"Selamat sore, Mbak Hayu" sapanya ramah. Hayu mengangguk.
"Dokter Banyu, Pak," jelas Hayu.
Banyu tersenyum, Priyo juga membalas senyum itu dengan ucapan terima kasih.
"Matur nuwun lho, Dok."
"Sudah tugas saya, Om," balas Banyu.
Di sela obrolan itu terdengar ketukan pintu lagi. Hayu berjalan ke arah pintu dan membuka.
"Eyang!" seru Hayu yang tampak girang.
Pak Dipo dan Bu Dipo masuk. Wajah mereka semringah melihat Hayu sudah bisa tersenyum. Rasa haru membuncah di dada Priyo. Hatinya tersentuh oleh kebaikan mantan mertuanya.
"Miranti masih di luar, tadi ketemu temannya, " jelas Pak Dipo.
"Oh," ucap Priyo. Wajah Hayu seketika berubah.
Kenapa harus ikut? Pasti dipaksa Eyang! Tebaknya dalam hati.
"Ini Banyu, kan?" tanya Bu Dipo.
"Iya, Yang," jawab Banyu sambil menyalami kedua eyang Hayu. Pak Dipo menepuk-nepuk pundak Banyu seraya memuji.
"Wah, pas dadi mantu ini," godanya.
Banyu tersenyum, Hayu pura-pura tidak mendengar gurauan eyangnya. Dia memilih membenahi selimut bapaknya yang masih rapi.
Lagi-lagi terdengar pintu diketuk.
"Mungkin Ranti itu," tebak Bu Dipo, "tolong bukakan, Nduk!"
"Nggih, Yang!" jawab Hayu dengan malas.
Hayu terkejut. Wajah yang sudah beberapa hari tidak dilihat, akhirnya muncul.
"Mbak ...."
"Masuk, Mas!" Hayu begitu riang menyambut sosok yang sudah akrab dengannya sejak kecil.
"Mas Wisnu, Pak!"
Wisnu menundukkan kepala, saat melihat kedua eyang Hayu. Melempar sepotong senyum pada seorang tamu yang lain. Hatinya bertanya, siapa laki-laki ini.
"Nu ...." sapa Priyo.
Wisnu mendekati Priyo, mengulurkan tangan sembari meminta maaf.
"Nyuwun pangapunten. Baru bisa ke sini sekarang," ucapnya penuh hormat.
Priyo mengangguk.
"Gimana keadaan rumah, Nu?" tanya Priyo.
"Baik, semua berjalan baik. Tahlilan sudah selesai juga," jawab Wisnu.
Hening.
Ada ketidaknyamanan yang dirasakan Wisnu. Entah mengapa, dia merasa pandangan Pak Dipo seperti ingin menelannya.
"Tinggal di Selo juga?" Rupanya Pak Dipo sedang bermain peran. Dan, Wisnu menerima itu.
"Saya putra rewang di rumah Den Priyo!" tegas Wisnu. "Sepertinya kita pernah ketemu dan saya sudah menjelaskan."
Skak mat! Pak Dipo terdiam.
Cukup! Sudah tiga kali luka itu ditorehkan. Tidak ada yang keempat! Teriak Wisnu dalam hati.
"Nyuwun pangapunten," ucap Wisnu kepada Priyo. Kali ini kepalanya tertunduk. "Saya tadi ada rapat dan hanya izin sebentar."
"Nyuwun pamit, Den." Wisnu hanya melihat Priyo. Karena bapaknya Hayulah yang membuat dia masih mampu menahan amarah.
"Ati-ati, Nu. Kalau repot nggak usah ke sini saja. Nanti pekerjaanmu terbengkalai." Sebenarnya ucapan Priyo biasa saja, seandainya diucapkan dalam keadaan yang biasa. Namun tidak kali ini.
"Injih," sahutnya.
Wisnu segera berlalu dari kamar itu, diikuti Hayu yang mengantar sampai luar.
"Mas ...."
"Nggih ...."
"Maaf ...."
Ada senyum yang tersungging di sudut bibir Wisnu. Senyum penuh luka. Ada kesumat yang tersimpan di dadanya. Entah akan dilampiaskan ke siapa. Dari kejauhan sepasang mata menatap tajam ke arah Wisnu. Mata awas seorang ibu, yang melihat bahaya mengancam putrinya.
Senja memang selalu setia pada langit, tetapi hanya sesaat. Karena selalu ada usai.
(masih berlanjut, in syaa Allah)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja