Novel Durma Bagian 15

"Pak Luraah!" teriak Lek Mardi.
Rupanya gredek yang dikemudikan Lek Mardi persis di belakang mobil Priyo.
"Turun! Turun! Cari gredek lain, ya!" perintah sang sopir, setelah menepikan kendaraannya. Laki-laki itu segera menghentikan kendaraan yang lewat guna meminta pertolongan.
Irung Petruk membawa bencana lagi. Jalan sempit menikung tajam ini kembali meminta korban. Satu per satu kendaraan berhenti. Sekadar menanyakan kejadian, atau hendak membantu. Kemacetan tidak bisa dihindari. Kebetulan memang waktunya orang berangkat beraktivitas.
Tidak ada yang memberi instruksi. Orang-orang segera memberikan bantuan sesuai yang mereka mampu. Ada yang mengatur lalu lintas sebisanya, agar tidak terjadi macet yang panjang. Ada yang melapor ke polsek terdekat. Mencari bantuan ke puskesmas.
Mobil yang dikendarai Priyo tampak terbalik di dasar jurang. Lek Mardi dan beberapa orang segera menyusuri tegalan menuju lokasi. Mereka membawa alat apa saja yang ada.
"Pak Lurah!" teriak Lek Mardi sambil setengah berlari.
"Hati-hati, Kang!" Orang yang berjalan di belakang Lek Mardi mengingatkan. "Sabar. Jangan kemrungsung."
Mobil yang dikendarai Priyo rusak berat. Kacanya pecah menjadi serpihan-serpihan tajam. Badan mobil rusak parah. Entah berapa kali kendaraan roda empat itu harus menghadapi benturan dengan tanah dan juga pepohonan.
"Ada tiga orang!" teriak Lek Mardi yang sudah sampai di tempat kejadian.
"Juragan Broto! Juragan! Pak Lurah!" Nama-nama yang dipanggil Lek Mardi tidak ada yang menjawab.
"Yang depan terjepit!" teriak yang lain.
"Yang belakang dulu saja dikeluarkan!"
Bahu-membahu mereka berusaha mengeluarkan Juragan Broto kakung dan putri, karena posisi mereka lebih mudah.
Darah mengalir dari telinga, mulut dan hidung Juragan Broto kakung. Tubuh renta itu diam. Beberapa goresan nampak di kulit yang sudah keriput.
"Juragan! Juragan!" Lek Mardi terus memanggil. Lagi-lagi tidak ada jawaban. Pelan tubuh Juragan Broto dibaringkan di tanah. Diam, hanya diam.
"Nadinya tidak ada," ucap seseorang yang memegang tangan simbah kakungnya Hayu.
"Yang putri juga sama!" seru seseorang.
Rupanya Juragan Broto putri pun sudah direbahkan tidak jauh dari tubuh suaminya. Lek Mardi tidak tega melihat wajah yang pucat itu. Darah masih terus mengalir. Luka goresan tampak di wajah dan tangannya. Mulut yang biasanya sarat nasehat jika bertemu, kini tertutup rapat. Tidak ada rintih kesakitan.
Rupanya tembang kerinduan pada cucu mereka, menjadi pengantar tarian kematian.
Sudut mata Lek Mardi basah. Ingatannya melayang pada segala kebaikan yang pernah dia terima dari keduanya. Benarlah kata pepatah. Harimau mati meninggalkan belang, Gajah mati meninggalkan gading, manusia mati meninggalkan nama.
Sopir gredeg itu jatuh terduduk. Dia tidak punya tenaga lagi untuk sekadar berdiri. Kenangan akan orang-orang yang sangat dihormatinya itu memaku tubuhnya di tanah.
"Pakai obeng dulu!"
"Dipalu saja!"
"Hati-hati!"
Terdengar suara silih berganti memberi instruksi. Hanya Lek Mardi yang tetap tidak bergerak. Bantuan dari kepolisian datang. Bersama warga yang lebih dulu ada di lokasi, semua terasa lebih mudah.
Sementara polisi dan warga sedang berupaya mengeluarkan tubuh Priyo yang terjepit. Tandu pun sudah datang untuk membawa tubuh Juragan Broto.
Tubuh yang sudah diam perlahan dinaikkan ke atas tandu. Beberapa orang bersiap membawanya ke atas.
Lek Mardi berjalan mengiringi tandu tersebut. Mulutnya komat kamit merapalkan permintaan kepada Sang Pemilik Hidup.
"Tolong selamatkan Pak Lurah. Setidaknya biarkan Mbak Hayu tetap memiliki keluarga." Beberapa kali sopir gredeg itu terlihat menyeka matanya yang basah.
Saat perjalanan ke atas, Lek Mardi bertemu dengan Pak Carik.
"Pak Carik!" panggil Lek Mardi.
"Horok! Wis tekan kene, Lek," sahut Pak Carik.
Lek Mardi mengangguk.
"Baru mau ngantar Genduk sekolah. Katanya Pak Lurah yang jatuh di sini. Langsung berhenti," ujar Pak Carik.
"Sami, Pak!" sela Pak Bayan yang sudah berdiri di samping Pak Carik.
"Tubuh Pak Lurah baru berusaha dikeluarkan, Pak. Terjepit soalnya," terang Lek Mardi.
"Yang ditandu Juragan Broto?" tanya Pak Carik. Lek Mardi mengangguk.
"Sekarang kita berbagi tugas. Pak Bayan dan Lek Mardi mengabarkan ini ke rumah. Saya akan mengawal Pak Lurah dan Juragan Broto!" perintah Pak Carik.
"Mbak Hayu, Pak. Siapa yang akan ngabari?" tanya Lek Mardi.
"Oh iya." Sejenak Pak Carik berpikir. "Gini, pulanglah dulu. Tanya alamat Mbak Hayu, nanti kamu sama Pak Bayan ke Solo."
Lek Mardi dan Pak Bayan mengangguk. Mereka berdua bergegas pulang ke desa. Tujuannya rumah Juragan Broto. Pak Bayan memacu motor secepat yang dia bisa.
Sesampainya di rumah Juragan Broto, Lek Mardi segera menggedor pintu rumah. Sinem yang kebetulan sedang menyapu di pendopo terkejut. Dia mematung. Khawatir ada orang yang berniat jahat.
"Yu! Yu Sinem!" teriak Lek Mardi. "Iki Mardi!"
Sinem bernapas lega. Pintu segera dibuka untuk orang yang sudah dikenalnya itu.
Wajah penuh kecemasan , itu yang pertama kali Sinem lihat dari Lek Mardi.
"Ono opo? Koyo dioyak londo! Mbok sik sareh! Tenang! Bikin orang ketakutan saja!" omel Sinem.
"Pak Lurah kecelakaan di Irung Petruk, Yu!" jelas Pak Bayan.
Sapu jatuh dari pegangan Sinem. Tangannya serasa tidak bertenaga. Tubuh itu gemetar. Rasa khawatir perlahan merayapi hatinya. Takut terjadi hal buruk menimpa ketiga majikannya.
"Wisnu di rumah tidak, Yu?" tanya Lek Mardi.
Sinem menggeleng lemah.
"Keadaan mereka bagaimana, Di?" tanyanya dengan suara bergetar.
"Juragan Broto sekalian sudah di bawa ke rumah sakit," jelas Lek Mardi, "Pak Lurah baru berusaha dikeluarkan."
"Gusti ...." jerit Sinem sambil menutup mulutnya.
"Tahu alamat Mbak Hayu?" tanya Pak Bayan.
"Mboten, Pak," jawab Sinem sambil berurai air mata.
"Kalau alamat Wisnu, Yu?"
Lagi-lagi perempuan itu menggeleng.
"Wah! Lha terus pripun niki, Pak?" tanya Lek Mardi kebingungan.
Setelah beberapa saat.
"Sebentar." Sinem terlihat sedang mengingat sesuatu. "Kemarin sewaktu pulang, Wisnu seperti menyimpan satu kotak kecil. Katanya kartu nama."
"Coba saya cari dulu," lanjutnya.
Sinem mengajak dua orang itu ke rumah Wisnu. Rumah yang merupakan pemberian Juragan Broto. Bangunan itu terletak di pojok pekarangan. Langsung menghadap ke jalan. Sehingga jika ada yang bertamu ke rumah Wisnu, tidak perlu melintasi halaman Juragan Broto.
"Juragan Broto apikan tenan," puji Lek Mardi.
Sinem segera membuka kunci dan mempersilakan Lek Mardi dan Pak Bayan masuk.
"Sak isine diparingi Juragan Broto, Yu?" tanya Lek Mardi.
Sinem mengangguk, lalu mengedarkan pandangan ke sekeliling. Mengingat kembali setiap kenangan, saat bersama sang majikan memilih barang untuk rumah Wisnu.
"Kemarin sepertinya Wisnu taruh satu kotak di atas meja. Di mana ya," gumam Sinem.
Lek Mardi menemani Sinem mencari kotak yang dimaksud.
"Iki, Di!" seru Sinem sambil mengacungkan kotak yang dia maksud.
Laki-laki itu segera membaca kertas kecil yang diulurkan Sinem.
"Pak Bayan, ini ada nomer yang bisa dihubungi!" jelas Lek Mardi.
"Gini saja, saya ke kecamatan untuk numpang telepon. Jenengan di sini ngurus rumah. Siap-siap kalau ada apa-apa. Gimana?" usul Pak Bayan.
"Nggih, Pak. Begitu lebih baik." Lek Mardi menyejutui usul Pak Bayan.
Setengah berlari, Pak Bayan mengambil motor dan segera berlalu. Sinem kembali mengunci kembali rumah Wisnu, lalu berjalan beriringan dengan Lek Mardi.
"Bersiap opo, Di? Tadi kok Pak Bayan nyuruh bersiap," tanya Sinem.
"Sepertinya Juragan Broto kakung dan putri sudah tidak ada, Yu," ucap Lek Mardi pelan.
"Pie karepmu? Jangan main-main!" Dada Sinem seperti mau meledak mendengar kalimat Lek Mardi.
"Tadi ada yang memeriksa nadi mereka." Lek Mardi menghela napas. " Katanya sudah tidak ada, tetapi harus dipastikan dokter dulu."
"Deeeen!" teriak Sinem. Berbarengan dengan teriakan yang meluncur dari mulutnya, tubuh rewang yang setia itu limbung. Untung Lek Mardi sempat meraih tangan Sinem, sehingga tubuh itu tidak sampai membentur tanah.
"Horok! Thik malah semaput to, Yu?!" keluh Lek Mardi sambil membobong tubuh Sinem, kemudian membaringkan di teras.
"Yu, tangi! Bangun, Yu!" laki-laki itu menepuk-nepuk pipi Sinem.
Sinem masih terdiam. Matanya terlalu berat untuk dibuka. Dia sedang tidak ingin melihat keindahan dunia. Batinnya terguncang mendengar kabar tentang juragan yang sangat dihormati itu.
Lek Mardi yang sedang kebingungan segera memukul kentongan. Benda yang terletak di pojok teras itu memang sangat berguna untuk memanggil warga. Alat komunikasi terbaik di desa ini.
Regol Juragan Broto berderit. Satu per satu warga terlihat bergegas menuju asal suara kentongan.
"Ada apa, Lek?"
"Pie, Lek?"
Pertanyaan mulai berdatangan seiring keramaian di rumah ini.
"Belum ada kabar pastinya, tetapi rumah ini harus mulai bersiap. Juragan Broto sepertinya sudah ditimbali pulang," tutur Lek Mardi.
Perlahan isak tangis mulai terdengar. Sinem pun sudah kembali sadar. Air matanya deras berjatuhan.
Pintu pendopo mulai dibuka satu per satu. Warga menggelar tikar di teras, sembari menunggu kabar tentang orang terpenting di desa ini.
Sementara di luar pagar rumah Juragan Broto, tampak Mercy Tiger berwarna biru berhenti.
"Ada rumah baru!" ucap Miranti. "Rumah siapa itu, Pak?"
"Kurang tahu, Mbak," jawab Pak Man sang sopir.
"Pak, tolong bilang tanyakan dulu, bapaknya Hayu masih di rumah tidak. Kalau masih, suruh ke sini sebentar. Penting!" pesan Miranti.
Pak Man mengangguk.
"Kok banyak yang datang ke rumah Mas Priyo, Mbak?" tanya Pak Man sedikit heran.
"Lha iya. Ada apa, Pak?" Miranti balik bertanya.
"Coba saya turun dulu," kata Pak Man. Miranti mengangguk. Namun, saat melihat seorang perempuan keluar dari rumah Priyo. Bergegas dibukanya pintu mobil, lalu keluar.
"Maaf, Bu. Dari rumah Pak Lurah ya? Kok rumahnya ramai. Ada apa?" tanya Miranti penasaran.
Perempuan itu justru diam. Seperti kamitenggengen melihat ibunya Hayu. Miranti memang tampil begitu anggun dan wangi, berbeda dengan kebanyakan perempuan desa.
"Bu ....!"
"Anu, Pak lurah kecelakaan. Meninggal!" jelas perempuan itu. "Monggo, Mbak."
Tubuh Miranti lunglai. Tulang penopang tubuhnya seakan raib. Mata indah itu mulai basah. Perempuan memberanikan diri menginjakkan kakinya lagi di rumah ini. Dia tidak peduli lagi dengan pandangan orang. Hatinya patah untuk kedua kali. Priyo adalah satu-satunya laki-laki yang pernah singgah di hati.
Sebenarnya kedatangan Miranti untuk mempertanyakan kebenaran hubungan Hayu dengan laki-laki bernama Wisnu. Miranti sudah mengirim surat kepada Priyo, tetapi tidak dibalas.
Kehadiran Miranti menjadi kasak kusuk warga.
"Siapa itu?"
"Apa ibunya Mbak Hayu?"
"Kok bisa pas gitu datangnya!"
Hanya Sinem yang mengenal Miranti, meskipun tidak begitu akrab.
"Den Ranti," isak tangis rewang itu pecah lagi.
"Juragan Broto kakung dan putri katanya meninggal." Sinem sesenggukan, batinnya terguncang. "Den Priyo masih belum ada kabar."
"Keramaian tadi berarti Mas Priyo, Mbak," ucap Pak Man yang sudah ada di samping Miranti. "Sebaiknya kita segera mencari kabar ke rumah sakit, Mbak!"
Miranti mengangguk. Dia ikuti semua perkataan Pak Man. Tangannya sibuk menyeka air mata yang terus mengalir.
Mercy itu meninggalkan rumah Juragan Broto. Sepanjang perjalanan Miranti tidak berhenti menangis bayangan Hayu dan Priyo bergantian datang. Cinta, terkadang begitu rumit untuk dipahami, bahkan oleh pemiliknya sendiri.
"Yang sabar, Mbak."
"Hayu, Pak." Tangis Miranti pecah. "Kalau bapaknya tidak ada, anak itu mau tinggal di Laweyan tidak?"
"Jangan berpikir terlalu jauh! Berharap Mas Priyo baik-baik saja," nasehat Pak Man.
Suara tangis itu menghilang, tetapi isaknya masih ada.
"Hayu sudah dikabari belum?" tanya Miranti.
"Kita ke rumah sakit dulu, Mbak. Setelah itu kita pikirkan lagi."
Pak Man kembali memusatkan perhatiannya di jalan.
"Tadi kejadiannya di Irung Petrukkan?" tanya Miranti.
Sopir yang sudah bekerja sangat lama di keluarga Dipo itu mengangguk.
"Nanti kita cari informasi dulu di tempat keramaian tadi, Pak!" pinta Miranti. Lagi-lagi Pak Man hanya mengangguk.
Sepi. Di tempat kejadian hanya tinggal beberapa orang saja. Lalu lintas kembali lancar. Pak Man segera turun untuk mencari informasi.
Miranti melihat Pak Man mengangguk-angguk.
"Pie, Pak?" tanya Miranti sekembalinya laki-laki itu.
"Sudah dibawa ke rumah sakit semua, Mbak," ujar Pak Man.
"Kondisi bapaknya Hayu?" lanjut Miranti.
"Mereka tidak tahu," jelas Pak Man.
Miranti menghela napas. Wajah lelaki yang pernah sangat dicintainya itu hadir.
"Mas ...." bisiknya.
Entah setelah berapa tahun panggilan itu keluar lagi dari bibir Miranti.
Sesekali Pak Man melihat majikannya dari kaca, trenyuh. Miranti perempuan yang baik. Hanya terkadang sulit memahami jalan pikirannya.
RSUD Boyolali sudah tampak. Bangunan bercat putih itu seakan memanggil Miranti untuk bergegas. Setelah Pak Man memarkir mobil, keduanya langsung berlari ke IGD
"Pasien kecelakaan dari Selo sebelah mana, Mbak?" tanya Pak Man.
"Itu yang di ujung! Tetapi baru mendapat tindakan. Mohon menunggu di luar dulu, ya, Pak!" pinta sang perawat.
Miranti mematung. Dia hanya diam melihat para perawat hilir mudik. Terlihat terburu-buru. Adakah mereka sedang berpacu untuk mengembalikan kehidupan bapaknya Hayu? Tangisan itu terdengar lagi meskipun lirih.
"Mbak, ayo duduk di luar saja," ajak Pak Man.
Tampak beberapa laki-laki berseragam duduk di bangku depan ruang IGD.
"Maaf, Pak. Boleh tahu panjenengan siapa?" tanya Pak Man pada seorang laki-laki yang memakai seragam itu.
"Saya Budi. Bawahannya Bapak yang kecelakaan itu. Beliau lurah kami, saya cariknya." Keduanya berjabat tangan.
"Kondisinya bagaimana?"
"Kritis. Kedua orang tua Pak Lurah meninggal," jelas Pak Carik.
"Duh gusti. Sekarang jenazahnya gimana, Pak?" tanya Pak Man. Air mata Miranti semakin deras mengalir.
"Orang kecamatan yang bantu mengurus. Sekarang masih di ruang jenazah. Saya bertugas mengawal kondisi Pak Lurah."
"Kalau Bapak?" tanya Pak Carik.
"Saya sopir keluarga eyangnya Mbak Hayu," ucap Pak Man, "ini ibunya Mbak Hayu."
"Keluarga Bapak Priyo!" panggil perawat.
Pak Carik segera masuk, kemudian beliau membalikkan badan.
"Bu Priyo, monggo. Ikut masuk juga," ajak Pak Carik. Miranti diam.
"Bu Priyo! Monggo!" Pak Carik mengulang ajakannya.
Sejenak Miranti tertegun mendengar panggilan itu. Entah sudah berapa tahun dia tidak mendengar panggilan tersebut. Ada desiran lembut yang menyapa hatinya. Perempuan itu mengangguk dan segera menyusul Pak Carik.
"Dokter mau bicara," kata Perawat. Ketiganya segera menuju tempat Priyo.
"Maaf, hubungan anda berdua dengan pasien apa?" tanya Sang Dokter.
"Saya carik di desa. Beliau istrinya," jelas Pak Carik.
Butiran bening itu menetes lagi dari sudut netra Miranti, saat memandang wajah Priyo. Mata yang pernah menatap dirinya dengan cinta itu sekarang tertutup. Mulut yang dulu sering menyanyikan tembang kerinduan, kini hanya diam tanpa suara. Tangan yang pernah mengusapnya lembut, sekarang lebih memilih disentuh jarum infus.
"Baiklah. Jadi begini, kondisi pasien tidak sadar. Ada pendarahan di kepala. Kebetulan ruang ICU di sini penuh." Sejenak Dokter itu memandangi Priyo.
"Sebaiknya segera dipindahkan ke rumah sakit yang tersedia ruang ICU-nya," terang Dokter, "agar penangannya lebih maksimal."
"Saya ikut yang terbaik saja, Dok," ucap Miranti lirih.
"Baiklah. Yang sabar, Bu. Banyak meminta pada Sang Pemilik Hidup, ya," pesan sang Dokter.
Miranti mengangguk. Setelah dokter dan perawat berlalu, perempuan itu mengambil kursi dan duduk di samping pembaringan Priyo. Air matanya terjatuh lagi.
"Mas, yang kuat," ucapnya lirih di sela isak tangis, "untuk Hayu. Buat anak kita."
"Maaf ya, Mas. Maaf." Miranti membisikkan kata-kata itu di telinga Priyo.
Menjelang siang semua proses administrasi selesai. Ambulan yang membawa Priyo bersiap ke Solo.
Sebelum itu Miranti menitipkan pesan agar Pak Man pulang ke Laweyan untuk memberi kabar. Dan meminta Pak Carik mengurus semua keperluan pemakaman Juragan Broto. Dia lebih tenang setelah tahu ada telah memberikan kabar kepada Hayu.
Di dalam ambulan hanya ada Miranti di sebelah Priyo dan seorang perawat.
"Sabar ya, Bu. Kita hanya bisa pasrah," ucap perawat.
Miranti mengangguk, sambil sesekali menyeka basah di pipi. Raungan bunyi sirine menyiksa hati perempuan itu.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di Jebres. Ambulan selalu menjadi prioritas di jalan. Ruang ICU menjadi tujuan. Tenaga medis di ruangan itu begitu sigap menangani.
"Ibu, silakan menunggu di luar dulu ya. Nanti kalau ada keperluan kami panggil," ucap salah satu perawat.
Rasanya berat meninggalkan Priyo. Tanpa dia sadari, rasa yang selama ini tertimbun oleh keangkuhannya perlahan muncul. Bertunas lagi. Tubuhnya masih saja lunglai. Entah ke mana perginya kekuatan yang selama ini dia miliki. Miranti terhuyung. Untung ada perawat yang kebetulan lewat sigap menopang tubuh lemah itu.
"Terima kasih," ucapnya lirih. Perawat itu tersenyum.
Miranti sendirian. Melarungkan semua rasa yang berkecamuk bersama air mata yang masih deras mengalir. Mungkin akan terlambat. Bisa jadi hanya penyesalan yang akan menggelayuti seumur hidupnya.
"Bulik Miranti," sapa seorang laki-laki memakai jas berwarna putih.
Miranti mendongak, saat mendengar namanya dipanggil.
"Banyu!" hanya itu yang mampu diucapkan Miranti.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja