Novel Durma Bagian 22

Aku bakar ladang kasih dengan api sakit hati. Dan yang tersisa hanya bara dendam. Entah kapan akan padam.
Pamit
***
Praang!
Gelas yang tidak punya salah itu hancur berantakan.
"Nu! Kamu baik-baik saja?" tanya sebuah suara dari luar kamar Wisnu.
"Ya!" jawab Wisnu singkat sambil memunguti serpihan gelas.
"Arrgghh!" umpatnya saat jarinya tergores kepingan gelas.
Olah rasa karo olah pikir kui kudu mlaku bareng!
Terngiang lagi pesan itu di benak Wisnu. Laki-laki yang sedang terluka, seperti banteng ketaton segera menyalakan motornya. Menembus udara malam menuju Selo.
Titenono! Ancamnya dalam hati.
Amarah itu benar-benar punya kekuatan yang sulit dikendalikan manusia. Seperti Wisnu malam ini. Sakit hatinya membawa pria itu ke rumah Lek Mardi lagi.
"Lek! Lek Mardi!" Wisnu tidak peduli lagi tata krama bertamu. Ketukan pintu yang lebih tepat seperti gedoran itu membangunkan sang empunya rumah.
"Ono opo tho, Nu? Koyo ra ndue aturan mertamu!" omel Lek Mardi.
"Antar aku ke rumah Mbah Yai!" pinta Wisnu.
"Mlebu sik!" ajak Lek Mardi. "Masuk dulu."
"Nggak usah!" Napas Wisnu masih memburu.
"Masuk!" perintah Lek Mardi tanpa bisa dibantah Wisnu.
Pria itu melangkah masuk, lalu menghempaskan tubuhnya ke tikar yang ada di ruang tamu.
"Ada apa?" tanya Lek Mardi. "Sareh."
"Aku pingin sugih, Lek! Sugih!" sergah Wisnu.
"Kamu ini kenapa? Tak ambilkan minum dulu!"
Lek Mardi beranjak ke dapur, mengambil air putih dari kendi, lalu mulutnya komat-kamit. Entah mantra apa yang diucapkan. Kemudian kembali ke hadapan Wisnu dengan segelas air.
"Iki!"
Wisnu diam.
"Diminum dulu! Setanne ben lungo!" goda Lek Mardi.
"Setanne aku dewe, Lek!" sungut Wisnu.
"Ada apa?" tanya Lek Mardi. "Aku antar kalau mau ke rumah Mbah Yai, tetapi hatimu harus lerem dulu."
"Jangan gegabah!" tambah Lek Mardi.
Wisnu meminum air kendi itu. Perlahan dingin merambat di kerongkongan. Kemudian menjalar ke hati. Rasa tenang perlahan menyapa pengacara muda itu. Napasnya mulai teratur lagi.
"Aku pingin sukses, Lek. Bisa mengangkat derajat keluarga!" ujar Wisnu.
"Besok malam aku antar ke rumah Mbah Yai. Hatimu harus yakin dulu kalau mau ke sana!"
Wisnu mengangguk. Tubuhnya mulai melemah seiring perginya amarah. Mata pemuda itu menutup perlahan. Omongan Lek Mardi seperti kidung yang melenakan. Dengkuran halus terdengar di telinga Lek Mardi.
"Ra nggenah! Dijak guneman malah turu!" omel Lek Mardi.
Dibiarkan Wisnu tenggelam bersama mimpi untuk menjadi orang kaya. Segera dia masuk kamar dan merebahkan tubuh di samping sang istri.
"Siapa, Pak?" tanya Lek Warti yang terbangun.
"Wisnu!" jawabnya singkat. "Bocah kui ora sakbaene. Tidak seperti biasanya."
"Entah apa yang membuat dia jadi seperti ini," keluh Lek Mardi.
"Berubah, gimana?" tanya Lek Warti.
"Rodo brangasan!"
"Sudahlah! Bukan urusan kita! Wis ayo sare!" ajak Lek Warti.
Kabut masih setia menjadi selimut di Lereng Merapi. Namun halimun di hati Wisnu, mulai membuatnya buta.

Selanjutnya

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja