Novel Durma Bagian 5

Aku adalah senja yang setia pada langit.
Wisnu segera mengakhiri coretan di buku agenda, setelah melihat jarum jam menunjukkan pukul 15.50 WIB.
Laki-laki itu bergegas menyambar kunci motor. Dia harus tepat waktu, untuk menjemput Hayu. Gadis itu sering berubah menjadi nenek sihir, jika terlambat dari waktu yang sudah dijanjikan.
Setelah Hayu kuliah, Wisnu mendapat fasilitas sepeda motor dari Priyo. Dengan adanya kendaraan, jelas memudahkan aktivitasnya. Meskipun tetap ada tugas di balik pemberian itu.
Tidak butuh waktu lama untuk sampai di tempat Hayu. Benar dugaan Wisnu, gadis berkulit bersih itu sudah menunggu di teras indekos.
"Tepat waktu, kan, Mbak?" Wisnu sedikit membusungkan dada, karena tidak lewat dari janjinya.
"He eh. Mas Wisnu memang the best kalau urusan janji sama Hayu." Senyum mengembang dari bibir indah perawan lereng Merapi itu.
Hayu beruntung dibesarkan dalam suasana alam yang bersih. Lebih beruntung lagi, karena dia mempunyai simbah yang begitu telaten merawat diri. Salah satunya adalah mengoleskan kunir yang dicampur madu ke bibir. Warna alami bibir Hayu muncul. Sehingga tanpa perlu repot mengoleskan lipstik, bibir gadis itu sudah terlihat segar.
"Mas!" sentak Hayu. "Udara kota membuat Mas Wisnu suka melamun ya."
Sihir apa yang kamu pakai Hayu? Sehingga membuatku linglung setiap di dekatmu, bisik Wisnu dalam hati.
"Eh, Ayo! Kita jalan-jalan keliling kampus," ajak Wisnu.
"Jalan atau naik motor, Mas? Yang jelas, dong," canda Hayu.
Wisnu tersenyum.
Sore di Gendingan terasa indah untuk Wisnu. Ada Hayu yang membuat lukisan waktunya semakin berwarna.
"Kalau jalan kaki, lama tidak, Mas?" tanya Hayu.
"Keliling kampus atau ke gedung pertanian saja?"
"Ke pertanian saja," jawab Hayu. "Lain kali keliling kampusnya."
"Jalan kaki saja ya," pinta Hayu. "Motornya taruh di garasi. Sebentar Hayu bukain."
Gadis itu tidak menunggu persetujuan Wisnu. Dia segera masuk, tidak lama kemudian terdengar suara rolling door. Garasi yang terletak di pojok bangunan itu terbuka.
"Mas, masukin, gih!" Hayu melambaikan tangannya, diikuti anggukan kepala Wisnu. Laki-laki itu segera menuntun motor dan menyimpan di garasi.
Bukan pertama kali Hayu dan Wisnu berjalan berdua. Namun, kali ini terasa berbeda untuk Wisnu. Di tempat yang jauh dari lereng Merapi, tidak ada yang mengenali mereka. Tidak ada yang tahu perbedaan kasta keduanya. Baru kali ini Wisnu berjalan tanpa beban di sisi anak juragannya.
"Kita beli makan dulu atau langsung ke pertanian?" Kali ini Wisnu berani melirik wajah gadis di sampingnya.
"Kampus dulu." Hayu terlihat menghirup udara sebanyak-banyaknya. Mungkin dia ingin segera terbiasa dengan hawa perkotaan.
Dua orang yang tumbuh bersama sejak kecil itu melangkah perlahan. Menikmati setiap jengkal yang mereka lalui, bersama angan masing-masing.
"Bus tingkat!" seru Hayu.
"Huus, jangan teriak, Mbak!" tegur Wisnu.
"Hayu ndeso, ya, Mas?" Gadis itu menunjukkan muka tidak berdosa. Rasanya Wisnu ingin mencubit wajah menggemaskan milik Hayu. Namun, tangannya seperti terikat kuat oleh tali status.
Ojo nekat, Nu! Yen ora pingin gelo mburi! Satu sisi dalam dirinya mengingatkan untuk tetap menjaga kewarasan.
"Bukan. Bukan itu. Nanti dikira kita mau naik, Mbak," terang Wisnu.
"Oh, maaf." Kembali wajah tak berdosa itu dihadirkan untuk Wisnu.
"Mas Wisnu pernah naik?"
"Belum pernah, Mbak," jawab Wisnu.
"Kapan-kapan kita naik bus itu ya," pinta Hayu.
Wisnu mengangguk.
Setiba di pintu gerbang kampus, Hayu berhenti. Sore itu tidak banyak orang berlalu lalang di sepanjang jalan masuk ke kampus UNS.
"Ayo!" Wisnu mengayunkan tangannya, sebagai isyarat agar Hayu bergegas.
"Sebentar." Gadis itu terlihat menghirup udara sebanyak yang dia mampu. "Pepohonannya rindang sekali. Rasanya Hayu seperti menghirup udara di rumah. Bebas, lega."
Wisnu membiarkan gadis itu. Dia berjalan perlahan, meninggalkan Hayu. Kedua tangannya dimasukkan ke saku celana jeans. Pemilik tinggi 178 cm terlihat sangat menikmati waktunya. Sekali-sekali dia membenarkan letak topi yang dirasa kurang pas. Udara sore kali ini terasa lebih sejuk dari pada kemarin. Atau karena hati yang sedang bahagia? Ah, entahlah.
"Mas! Tunggu!" Hayu berlari kecil mengejar Wisnu.
"Benar- benar sejuk ya, Mas." Wajah Hayu terlihat begitu segar di mata Wisnu. Rambut sebahu yang dibiarkan tergerai, disapa angin. Keindahan sore di kampus terasa sempurna dengan kehadiran Hayu. Sayangnya Wisnu takut tenggelam lebih dalam dengan angannya.
"Mbak, bisa lebih cepat?" Wisnu melebarkan langkahnya, sebagai tanda agar Hayu pun mengikuti. Gadis bermata sendu itu terlihat bersemangat berjalan di sisi Wisnu.
"Ada danau!" Lagi-lagi Hayu terlihat takjub. Bunga teratai yang tersebar diantara eceng gondok, menjadi pelengkap keindahan danau. Suasana alam yang tenang, teduh oleh rimbunnya pohon, membuat rasa rindu Hayu terhadap lereng Merapi sedikit terobati.
"Itu gedung pertanian," tunjuk Wisnu.
Mata gadis itu berbinar, saat melihat gedung yang berdiri kokoh dibalik pepohonan.
"Ini pohon apa namanya?" Hayu menunjuk jejeran pohon yang menjadi peneduh di sepanjang jalan menuju fakultas pertanian.
"Angsana. Pohon Angsana." Sejenak Wisnu memandang ke atas. Melihat gagahnya Angsana.
"Saat bunga Angsana berguguran, akan terlihat pemandangan yang membuat mata kita enggan berkedip," jelas Wisnu.
Langkah kaki keduanya sedikit diperlambat. Agaknya Hayu ingin menikmati suasana bakal tempatnya belajar. Gadis itu mengamati sekeliling. Manik matanya seakan menari diiringi semilir angin yang bertiup di sela-sela Angsana.
Ada tiga gedung yang siap menjadi tempat belajar para mahasiswa. Tampak satu gedung yang belum selesai pembangunannya.
"Ini gedung kuliah semua, Mas?" tanya Hayu.
"Mungkin ada laboratoriumnya juga, Mbak." Wisnu ikut melihat-lihat lingkungan kuliah Hayu. Bukan gedungnya, melainkan letak kantin dan parkir sepeda motor. Tempat yang akan dia pakai untuk menunggu selama putri juragannya itu kuliah.
"Mas, nyari apa?" Hayu ikut-ikutan tengok kanan kiri.
"Nyari kantin. Buat nongkrong kalau nunggu Mbak Hayu kuliah," jelas Wisnu.
"Lhaaa, ngapain ditungguin? Kayak anak kecil saja!" protes Hayu, "nggak mau aku!"
"Bapak meminta saya jagain Mbak Hayu, kan?" Wisnu mengingatkan Hayu akan perkataan bapaknya siang tadi.
"Bukan seperti itu juga caranya!" tegas Hayu.
"Mas Wisnu jalani saja aktivitas seperti biasa. Mungkin sekali-sekali Hayu akan ngrepotin," jelas Hayu.
"Motornya biar di Mbak Hayu saja kalau begitu."
Sebenarnya Wisnu tahu harus bagaimana bersikap kepada Hayu. Sejak kecil gadis itu hampir tidak pernah merepotkan orang lain. Meski dia adalah ratu di rumah juragan Broto, tetapi kemandiriannya tidak perlu dipertanyakan.
"Tidak!" tolak Hayu. "Biar tetap di Mas Wisnu saja."
Beberapa saat kemudian
"Sudah cukup lihat kampusnya?" tanya Wisnu. Hayu mengangguk.
"Pulang sekarang?" tanya Wisnu.
Hayu mengiyakan ajakan Wisnu. Namun, matanya masih bergerak ke sana ke mari, seperti sedang mengumpulkan banyak informasi tentang tempat itu.
"Mas, itu bukit apa isinya kok diberi pagar?" tunjuk Hayu pada gundukan tanah yang terletak di dekat pintu masuk fakultas pertanian.
"Katanya ada makam di atas situ," jelas Wisnu.
Tanpa berpikir panjang, Hayu menyentak tangan Wisnu. Laki-laki itu hampir terjerembab, karena tubuhnya tidak siap dengan gerakan mendadak Hayu.
"Aduuuh. Astaga, ada apa to, Mbak?" Meskipun terkejut, tetapi Wisnu membiarkan tangan Hayu tetap menariknya.
Setelah agak jauh, barulah Hayu melepas pegangannya.
"Hayu merasa ada yang sedang memperhatikan kita dari atas bukit itu." Napasnya masih terengah-engah, butiran keringat meluncur satu demi satu melewati wajah mulusnya.
"Begitu Mas Wisnu bilang ada kuburan. Takut, merinding!" Hayu menepuk-nepuk dadanya, seakan meminta jantungnya untuk segera tenang.
"Oalah. Mungkin hanya halusinasi saja!" Wisnu mencoba menenangkan Hayu.
"Hayu harus lewat situ terus ya? Nggak ada jalan lain?"
"Ada, Mbak. Lewat depan indekos saya. Nanti ada pintu pintasan. Tepat di belakang fakultas pertanian. Namun, hanya cukup dilewati satu orang saja," jelas Wisnu.
"Hayu lewat jalan itu saja," ucapnya.
Wisnu mengangguk.
"Lebih dekat juga dibandingkan lewat pintu gerbang depan," lanjut Wisnu.
"Oo." Hayu manggut-manggut, tanda memahami perkataan Wisnu.
"Lanjut beli makan?" tanya Wisnu.
Hayu menggaguk, perutnya sudah keroncongan juga.
Senja sudah mulai menapaki kaki cakrawala, saat Wisnu dan Hayu berdiri untuk antri makan. Tidak lama kemudian, keduanya sudah memegang piring berisi nasi, urap dan telur balado.
"Ini warung Mbak Manis," kata Wisnu.
"Yang jual manis soalnya," sahut Hayu.
Wisnu tersenyum.
Masih lebih manis kamu, puji Wisnu dalam hati.
Warung yang terletak di sebelah timur kampus itu selalu padat. Selain menunya yang komplit, keramahan Mbak Marsih atau yang sering dipanggil Mbak Manis, menjadi daya tarik juga.
"Enak ya perpaduan urap dan telur baladonya. Urapnya sedap. Bau kencur dan daun jeruknya kecium. Tidak terlalu pedas. Saat dipadukan dengan rasa gurih pedas dari bumbu balado, rasanya pas. Pingin nambah, Mas." Hayu terlihat sangat menikmati menu makannya sore itu.
"Soalnya ada telur. Jadi Mbak Hayu semangat makannya," goda Wisnu.
Hayu mengangguk, mulutnya sibuk mengunyah. Gadis itu terlihat menikmati hidangan di depannya.
Beberapa saat kemudian.
"Biar Hayu yang bayar, Mas." Gadis itu bersiap mengeluarkan rupiah dari dompetnya.
"Nggak usah. Biar saya saja, Mbak," cegah Wisnu.
"Gini saja. Kita bayar sendiri-sendiri. Gimana?" Hayu memberikan usulannya. Akhirnya Wisnu mengikuti saran juragan kecilnya.
Keluar dari warung Mbak Manis. Hayu melanjutkan obrolan.
"Bapak memberi uang saku kita berdua sama besar. Jadi kalau keluar makan bersama, BS saja ya," jelas Hayu.
"BS?" tanya Wisnu.
"Bayar sendiri," jawab Hayu sambil tertawa. Deretan gigi putih terlihat. Lesung pipinya tidak ketinggalan hadir. Suara tawa Hayu terdengar sangat renyah di telinga Wisnu.
Rasanya duniaku cukup diisi tawamu saja, ucap Wisnu dalam hati.
"Kalau sudah lulus kuliah, apa yang akan Mas Wisnu lakukan?" tanya Hayu.
"Mencari pekerjaan pastinya. Agar bisa mandiri," jawab Wisnu.
Hayu memejamkan matanya sejenak, kemudian melanjutkan bicara.
"Hayu akan pulang. Mengabdi di lereng Merapi."
(Bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja