Novel Durma Bagian 21

Dua hati yang menyimpan rahasia itu berjalan menjauh. Ada sendu yang menggelayut di batin mereka. Ada rasa yang tidak mampu diungkapkan. Selalu saja perih yang tersisa dari sebuah rasa yang tidak terucap.
"Nggak usah dekat-dekat dengan anak rewang itu!"
Suara Miranti bagai petir yang menghancurkan bangunan kesabaran Hayu. Gadis itu urung masuk kamar. Dia memilih bersandar ke dinding. Matanya menantang Sang Ibu.
"Merasa berhak atas hidup Hayu?" sergahnya.
"Kenapa tidak? Kamu anakku! Sampai kapan pun!" balas Miranti.
"Hanya melahirkan! Tidak membesarkan!"
Dengan sengit Hayu membalas ucapan ibunya.
"Siapa suruh kamu ikut ke Selo?" Miranti masih belum mau mengalah.
Pertengkaran ibu dan anak itu menggoda beberapa pasang mata untuk melirik. Keduanya tidak sadar, bahwa perselisihan itu jelas terdengar dari kamar Priyo.
"Kalian berdua ini!" Tiba-tiba Bu Dipo sudah muncul dari balik pintu.
"Ranti! Dadi wong tuo kok ora isoh diconto!" bentak Bu Dipo.
Miranti terdiam.
"Yang, Hayu pulang sebentar ke indekost. Ambil baju ganti." Suara Hayu bergetar. Matanya berkabut.
"Iya. Hati-hati," pesan Bu Dipo.
Hayu mengangguk, kemudian segera berlalu. Sudut matanya membasah. Batinnya menjerit. Lelah! Sangat lelah! Satu per satu butiran bening perlahan jatuh. Untung ini rumah sakit. Orang akan paham jika melihat air mata. Tidak perlu mempertanyakan alasannya.
Lampu-lampu mulai dinyalakan. Terangnya menjadi pelengkap malam. Hayu berdiri di tepi jalan, menunggu bus datang. Entah mengapa kali ini kendaraan yang ditunggu terasa lama. Sepertinya kesabaran Hayu sedang diuji. Yang ditunggu pun muncul. Gadis itu bergegas masuk dari pintu depan.
"Gendingan," pintanya pada kernet. Hayu terkejut, saat mengetahui tidak membawa uang sama sekali. Kekesalan hati membuatnya lupa untuk mengambil tas di kamar.
"Duuuh. Maaf, Mas," pinta Hayu malu-malu, "tadi buru-buru. Lupa nggak bawa uang."
"Untung ayu, Mbak!" gerutu sang kernet.
"Gendingan dua!"
Seseorang memberikan uang kepada kernet bus. Suaranya mirip dengan orang yang tadi di kamar bapak, tetapi Hayu tidak yakin. Namun aroma parfum yang tercium membuatnya penasaran, lalu mendongak.
"Dok," ucapnya terkejut.
"Disuruh Bulik Miranti menyusulkan tas ini." Banyu mengangkat tas punggung Hayu. "Kunci kamar juga ada di sini, kan?"
Hayu mengangguk.
"Terima kasih, Dok," ucap Hayu, "kenapa tadi tidak memanggil Hayu saja? Malah ikut naik bus."
"Pingin ngersain naik bus lagi," jawabnya singkat sambil mengedarkan pandangan ke penjuru bus.
"Kampus! Kampus!" teriak kernet.
Hayu bersiap turun, diikuti Banyu. Setelah sampai di depan kampus, mereka berdua turun.
"Hayu duluan, Dok!" pamitnya tanpa basa-basi.
Banyu mengangguk sambil tersenyum. Setelah gadis itu hilang dari pandangan, sang dokter bergumam.
"Bolehkah aku menitipkan hati ini?"
Kemudian dia bergegas menyeberang jalan, menunggu bus untuk membawanya kembali ke rumah sakit.

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja