Novel Durma Bagian 2

"Pindah? Selo?" Miranti terkejut.
Priyo mengangguk, tanpa berani menatap lawan bicaranya.
"Lihat aku, Mas!"
Laki-laki itu mendongak.
"Apa maksud Mas dengan ucapan itu? Jelaskan!" Miranti mendesak suaminya.
"Ranti, aku tidak cocok hidup di kota. Beberapa tahun ini rasanya tersiksa," keluh Priyo.
"Jadi menurut Mas, pernikahan kita ini siksaan?"
"Bukan. Bukan begitu maksudku," ucap Priyo. Laki-laki itu mencoba menjelaskan permasalahan yang dia hadapi kepada istrinya.
"Lingkungannya. Aku kurang sreg. Hidup di kota seperti ikan dipisahkan dari air," tutur Priyo, "Udara di Selo membuat aku bisa bernapas lega. Tidak kemrungsung."
"Kamu hanya memikirkan kepentinganmu sendiri. Egois!" bentak Miranti.
Braak.
Pintu kamar menjadi sasaran amarah Miranti.
Pembicaraan suami istri yang tinggal di Badran Solo itu selesai.
Buntu.
Priyo mendesah. Bakalan panjang urusannya, kalau sang istri marah.
Benar saja perkiraan Priyo. Pagi-pagi istrinya sudah pergi membawa Hayu ke Laweyan. Rumah eyangnya Hayu, sekaligus tempat Miranti bekerja mengurusi usaha batik keluarga.
Sebagai anak tunggal Pak Dipo, pemilik batik dengan merek Rukmini. Miranti menjadi tumpuan harapan orang tua, atas keberlangsungan usaha ini.
Priyo pusing dengan situasi ini. Di satu sisi dia memahami kondisi Miranti. Namun, di sisi yang lain, batinnya berteriak. Laki-laki itu tidak nyaman hidup di kota. Belum lagi pertanyaan dan nasehat bapaknya beberapa waktu yang lalu, terus menggelayuti pikiran.
"Le, kamu tidak tergerak bali ndeso? Mengabdikan ilmumu di sana."
"Jadi orang itu jangan hanya memikirkan hidupnya sendiri."
"Bondo ora bakal digowo mati!"
"Sampai kapan kamu akan terus bekerja membesarkan usaha orang lain?"
Pasangan suami istri ini dibesarkan sebagai anak tunggal. Tidak mudah bagi Priyo dan Miranti untuk menahan ego. Awalnya mereka berharap, dengan cinta bisa membuat semua terasa mudah. Namun, hidup bukan dongeng yang berakhir manis, butuh diperjuangkan.
Ternyata wacana pulang ke Selo telah memicu keributan rumah tangga. Perkawinan yang berjalan memasuki usia 6 tahun, tiba-tiba terasa berat bagi keduanya.
Kebiasaan Miranti purik sangat dibenci suaminya. Jika marah, ibunya Hayu memilih pulang ke Laweyan.
Hubungan keduanya semakin dingin. Jika masalah awalnya hanya tentang kepindahan ke Selo, sekarang perselisihan keduanya semakin berkembang. Kebiasaan-kebiasaan yang dulu dilakukan tidak menimbulkan masalah, sekarang bisa menjadi pemantik keributan.
Miranti yang rapi, dulu bisa menerima suaminya yang sering berantakan. Namun sekarang berbeda, selalu ada celetukan yang membuat kuping Priyo panas.
"Dasar wong ndeso!" ejek Miranti.
"Kalau aku wong ndeso, kenapa dulu mau?!" Priyo membalas.
"Kamu main dukun!" jawab Miranti tidak mau kalah.
"Ngawur!" bentak Priyo.
Drama seperti itu akan ditutup dengan suara pintu yang dibanting.
Suami istri itu lupa, ada anak umur 5 tahun yang seringkali ketakutan mendengar pertengkaran mereka.
Sebagai anak tunggal, Miranti begitu dekat dengan ibunya. Setiap menemui masalah, wanita yang melahirkan dirinyalah tempat mengadu. Termasuk masalah rumah tangga.
"Kalau kamu tinggal di Selo, usaha ini bagaimana?" tanya Bu Dipo. "Opo bojomu ora mikir?"
"Nggak tahu, Bu. Pokoknya Ranti tidak mau diajak tinggal di sana. Lereng gunung, ke mana-mana susah!" keluh Miranti. "Lebih baik cerai saja!"
"Huss. Malaikat lewat blais!" tegur Bu Dipo.
Suara ketukan pintu menghentikan pembicaraan keduanya.
"Mbak Ranti, ada tamu," ucap Minar. Gadis itu adalah tangan kanan Miranti dalam mengelola usaha batik.
Miranti mengangguk dan segera meninggalkan ibunya.
"Kalau nggak ada Miranti, kecontalan tenan tenogo tuo iki," keluh Bu Dipo yang menyadari bahwa tubuhnya semakin lemah.
Semenjak dipegang Miranti, batik Rukmini berkembang pesat. Tidak sekedar penjadi salah satu penyuplai batik di pasar Klewer dan Beringharjo saja. Banyak pelanggan luar kota yang berdatangan ke show room batik Rukmini.
Waktu merambat begitu cepat. Miranti mengempaskan tubuhnya di kursi, setelah selesai mengurus pekerjaan. Priyo yang sedang makan, tidak mempedulikan istrinya. Dia tenggelam dalam nikmatnya nasi liwet.
"Aku lelah!" keluh Miranti.
Priyo terkesan ogah-ogahan menanggapi keluhan istrinya. Sikap keduanya sudah jauh dari kata mesra.
"Lalu?" tanya Priyo.
"Kamu itu laki-laki bukan to, Mas?!" Sebuah pertanyaan sinis keluar dari bibir Miranti.
"Omonganmu itu! Selalu mancing keributan! Nggak ada sopan-sopannya sama sekali! Aku ini masih suamimu! Mbok ya dihargai!" bentak Priyo.
"Memang berapa harganya?" Pertanyaan Miranti membuat Priyo naik pitam.
Praaang.
Piring yang jadi alas makanan Priyo pun melayang mengenai dinding.
Hancur berkeping-keping, seperti rumah tangga mereka.
"Bapak ...." Suara lembut Hayu membuat Priyo terkejut.
"Awas! Jangan bergerak!" teriak Priyo.
Terlambat, kaki mungil itu sudah berdarah. Serpihan beling telah mengenai kulitnya yang halus. Hayu meringis, mengaduh kesakitan. Dengan sigap Priyo segera menggendong putrinya. Miranti memilih berlari ke kamar, menumpahkan semua emosinya.
Dengan telaten Priyo membersihkan luka anaknya.
"Tahan sedikit ya. Mungkin akan terasa perih. Pegang Bapak kalau Hayu merasakan sakit!" perintah Priyo. Hayu mengangguk.
"Kenapa Bapak marah?" tanya bocah yang masih polos itu.
"Ada setan lewat. Jadinya Bapak marah, deh."
"Bapak bisa lihat setan?" tanya Hayu. "Setan itu seperti apa?"
"Biar nanti Hayu lempar juga pakai piring," ucap Hayu penuh semangat.
Kesadaran Priyo seolah baru terbangun. Anak adalah peniru ulung.
"Hayu, maaf ya. Bapak bohong. Tidak ada setan yang lewat," jelas Priyo.
"Jadi?"
"Jadi sekarang kita akan muter-muter naik vespa!" ajak Priyo.
"Horee!" seru bocah itu kegirangan.
"Lihat kereta ya, Pak!" pinta Hayu. Priyo mengangguk. Laki-laki itu trenyuh melihat senyum di wajah putrinya.
"Ibu diajak tidak?" tanya Hayu.
"Coba ditanya sana, ikut tidak."
Dengan sedikit pincang, Hayu berjalan menuju kamar ibunya. Mengetuk lalu membuka.
"Ibu, Hayu sama Bapak mau lihat kereta. Ikut tidak?"
"Tidak!" Miranti menjawab pertanyaan putrinya dengan nada yang menimbulkan luka di hati bocah itu.
Hayu segera keluar kamar. Kekecewaan jelas tampak di wajahnya. Hati Priyo perih melihat pemandangan di depannya.
"Mari kita jalan putri yang cantik," ajak Priyo sambil menowel pipi Hayu. Bocah itu tersenyum.
Vespa P125X warna putih itu, segera membawa Hayu dan Priyo ke tempat yang dituju. Tidak jauh dari rumah mereka, ada rel kereta api yang membelah kota Solo. Hayu suka sekali melihat kereta yang melintas. Tangan mungilnya akan dilambaikan saat kereta lewat.
"Hayu, kalau di rumah Simbah Selo, kita tidak bisa lihat kereta seperti ini."
"Lihatnya gunung, kan?" Bocah itu seolah ingin menegaskan apa yang telah dia pahami.
"Ya. Betul. Hayu suka tidak?"
"Suka. Ada bebek, ayam. Apalagi, Pak?"
"Dingin," ucap Priyo sambil tertawa.
"Iya. Ibu tidak suka. Badannya bentol-bentol," jelas Hayu.
Ucapab Hayu menyadarkan Priyo, ternyata perbedaan dirinya dan Miranti begitu banyak. Sampai kapan cinta mampu menjadi jembatannya? tanyanya dalam hati.
"Kita pulang ya," ajak Priyo, "keretanya sudah habis."
Hayu mengangguk.
Rupanya saat Hayu dan bapaknya sedang asyik melihat kereta, Miranti mengemasi barang-barangnya. Dan, segera meninggalkan Badran. Keputusan sudah diambil.
"Nduk, tidak baik memutuskan sesuatu saat marah," ucap Pak Dipo. Saat melihat putrinya datang membawa koper, "bicarakan dengan tenang. Ingat anakmu!"
"Semakin hari, bukannya membaik. Bertengkar terus. Ternyata kami berbeda sekali, Pak," keluh Miranti.
"Dulu saja Ibu larang, kamu ngeyel, Nduk!" sela ibunya.
"Bu! Bukan saatnya ngomong tentang dulu. Nambahi perkoro wae!" bentak Pak Dipo. "Bapak mau ketemu Priyo dulu. Suruh ke sini suamimu."
"Dalem sudah malas pulang, Pak!" tegas Miranti menolak permintaan bapaknya.
"Yo wis. Biar Pak Man yang ke Badran. Buat ngabari Priyo kalau Bapak mau ketemu," ucap Pak Dipo.
Sebagai menantu yang baik, Priyo bergegas ke Laweyan setelah menerima pesan dari mertuanya.
Udara kota terasa semakin menyesakkan dada Priyo. Meskipun sesungguhnya dia paham, hatinyalah yang sudah tidak di Solo lagi.
Laweyan dengan tembok-tembok yang berdiri kokoh, menjadi simbol penjaga keindahan batik. Dibalik dinding yang menjulang itu, ada kesabaran para pembatik untuk menggoreskan canting mereka di atas selembar kain putih.
Vespa yang dikendarai Priyo dan Hayu, memasuki salah satu rumah di jalan Sidoluhur. Batik Rukmini, tulisan yang menjadi penanda rumah mertua Priyo.
Hayu berlari menuju Eyang kakung yang terlihat sudah menunggu di teras. Ada beberapa undakan yang harus dilewati untuk mencapai teras rumah. Bocah itu begitu lincah melompati tanga-tangga di rumah eyangnya.
Hayu mencium tangan Pak Dipo, kemudian menghilang ke dalam rumah.
"Sehat, Le?" sapa Pak Dipo sambil tersenyum.
"Injih, Pak." Priyo mencium tangan mertuanya dengan penuh hormat. Usapan lembut di kepala sebagai balasan kasih sayang dari sang mertua.
Setelah keduanya duduk.
"Sebenarnya Bapak tidak ingin mencampuri urusan kalian. Apa daya sepertinya keadaan semakin buruk saja," ucap Pak Dipo, pria yang masih terlihat gagah di usia senja.
Priyo menunduk. Dia tidak tega melihat luka di wajah bapak mertuanya. Di usia senja mereka, Priyo dan Miranti tidak bisa menyuguhkan bahagia, tetapi justru luka.
"Nyuwun pangapunten, Pak. Mohon maaf yang sebesar-besarnya," ucap Priyo sambil tertunduk, " ternyata hidup di kota tidak cocok buat saya."
"Selama ini sudah berusaha bertahan, tetapi ketidaknyamanan terus membebani. Semakin hari rasanya semakin sulit bernapas," jelas Priyo.
"Oalah, Le. Njut omah-omah opo gur arep tekan sakmene? Rumah tangga kalian baru seumur jagung," keluh Pak Dipo.
Terdiam.
Priyo tidak bisa menjawab pertanyaan yang dilontarkan mertuanya.
"Dicari solusinya. Jangan hanya memikirkan ego masing-masing!"
Priyo semakin tertunduk. Rasa bersalah menguasai benaknya.
"Injih, Pak. Ngestokaken dawuh." Priyo berjanji untuk mencari jalan terbaik.
"CERAIKAN SAJA AKU. Itu jalan terbaiknya!" teriakan Miranti dari dalam rumah mengejutkan dua orang laki-laki itu.
Suasana tenang berubah. Jika tidak ingat ada mertua di depannya, Priyo pasti sudah memberikan apa yang diminta Miranti.
"Sareh, Nduk. Ora ngono kui. Sabar, sabar! Bercerai itu bukan itu solusi!"
"Saya capek, Pak. Ingin hidup tenang, meskipun itu jadi janda. Biar saja!"
"Pak, saya nyuwun pamit dulu," pinta Priyo, "biar kami selesaikan di rumah."
"Sekarang! Selesaikan sekarang juga di sini!" tantang Miranti.
Laki-laki sepuh itu memilih untuk meninggalkan Priyo dan Miranti. Ada perih yang tidak bisa diungkapkan. Hatinya miris melihat anak dan menantunya.
"Kamu itu nggak tahu malu ya! Kasihan Bapak!"
"Kamu egois!" bentak Miranti.
"Kamu tidak?!" tanya Priyo sinis.
"Istri itu ikut suami. Bahkan ke lubang semut sekalipun! Harus ikut!" tegas Priyo.
"Ceraikan aku! Titik!" Air mata Miranti tumpah.
Priyo meninggalkan istrinya yang tergugu dalam tangisnya.
"Bapaak!" teriak Hayu. "Hayu ikut." Anak perempuan Priyo itu menghambur keluar.
Priyo mengangguk, tersenyum, kemudian menggandeng putri kecilnya. Sejenak Hayu memalingkan wajahnya, melihat Ibunya yang menangis.
Namun, kesenangan naik vespa lebih menggoda hatinya.
Angin menyapa bapak dan anak itu. Takdir telah memilih mereka untuk menjadi bagian dari lereng Merapi.
(bersambung)

Comments

Popular posts from this blog

Durma (Bagian 3) - Point

Durma Bagian 1 - Senja